PADANG PARIAMAN

Membaca Kabut Asap dari Perspektif Spasial dan Tata Ruang

×

Membaca Kabut Asap dari Perspektif Spasial dan Tata Ruang

Sebarkan artikel ini
Kabut

PADANG PARIAMAN, HARIANHALUAN.ID – Fenomena kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah tidak semata-mata dapat dipandang sebagai persoalan kualitas udara. Di balik kondisi atmosfer tersebut terdapat persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana polutan bergerak, wilayah mana yang berpotensi terpapar, serta bagaimana dampaknya bersinggungan dengan ruang kehidupan masyarakat.

Perspektif tersebut disampaikan Timtim Deby Purnasebta, pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman, sekaligus praktisi Geographic Information System (GIS), saat menjadi narasumber dalam program podcast talkshow dengan tema Padang Diselimuti Kabut Asap: Kabut Biasa atau Ancaman Kualitas Udara.

Dalam diskusi tersebut, Timtim menjelaskan bahwa kabut asap perlu dibaca tidak hanya dari sisi kualitas udara, tetapi juga melalui perspektif spasial. Ketika polutan menyebar mengikuti dinamika atmosfer dan memasuki ruang aktivitas masyarakat, maka persoalannya berkaitan erat dengan paparan, kerentanan, dan risiko spasial.

“Sumber polusi dapat berada jauh dari suatu wilayah, namun dampaknya dapat dirasakan di tempat lain. Karena itu, kita tidak cukup hanya melihat kondisi kualitas udara, tetapi juga perlu memahami ke mana polutan bergerak, wilayah mana yang berpotensi terpapar, siapa yang terdampak, serta kelompok mana yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi,” ujar Timtim, (3/9/2026).

Baca Juga  Peringati HUT KORPRI ke-54, Kantah Padang Pariaman Komitmen Tingkatkan Pelayanan Berintegritas

Menurutnya, pendekatan berbasis GIS dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memahami pola sebaran dan dampak kabut asap secara lebih komprehensif. Data kualitas udara dan dinamika pergerakan polutan dapat diintegrasikan dengan berbagai informasi spasial, seperti persebaran penduduk, kawasan permukiman, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga lokasi kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.

Integrasi berbagai data tersebut memungkinkan identifikasi wilayah yang memiliki potensi risiko lebih besar. Dengan demikian, langkah mitigasi tidak hanya dilakukan setelah dampak dirasakan masyarakat, tetapi dapat diarahkan secara lebih preventif, terukur dan berbasis risiko.

“GIS membantu kita melihat persoalan bukan hanya dari apa yang terjadi, tetapi juga di mana kejadiannya, siapa yang berada di sana, dan bagaimana tingkat risikonya. Ketika data lingkungan dipertemukan dengan data spasial dan kependudukan, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh untuk mendukung pengambilan keputusan,” jelasnya.

Baca Juga  Kantah Padang Pariaman Hadiri Rapat Sosialisasi Pusdatin Menyapa di Direktorat Jenderal PHP Tanah

Timtim menambahkan, perspektif spasial juga penting dalam mendukung perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan. Ruang bukan sekadar tempat berlangsungnya suatu fenomena, tetapi juga menjadi tempat masyarakat menjalankan aktivitas, bekerja, belajar, memperoleh pelayanan kesehatan dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pemahaman terhadap hubungan antara fenomena lingkungan, dinamika atmosfer, kondisi ruang dan keberadaan manusia menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi risiko.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengelolaan kualitas lingkungan dan mitigasi kebencanaan membutuhkan pendekatan lintas sektor. Data dan teknologi spasial dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan informasi lingkungan dengan kondisi sosial serta karakteristik wilayah. (*)