DHARMASRAYA, HALUAN — Kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah membuat aktivitas masyarakat di Kabupaten Dharmasraya semakin terpapar risiko gangguan kesehatan. Kondisi itu mendorong Pemuda Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Dharmasraya turun langsung membagikan masker kepada masyarakat.
Pembagian masker dilakukan di sejumlah lokasi yang menjadi titik aktivitas warga, menyasar pengendara, masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang tetap harus berjualan di tengah kondisi udara yang kurang bersahabat.
Ketua Pemuda PERTI Dharmasraya, Al-Ustadz Rahmat Hidayat, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap. Menurutnya, tidak semua warga memiliki pilihan untuk menghentikan aktivitas di luar ruangan karena sebagian harus tetap bekerja dan mencari nafkah.
Karena itu, penggunaan masker dinilai menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan langsung terhadap partikel pencemar yang terdapat di udara.
“Di tengah kondisi seperti ini, masyarakat tetap harus beraktivitas. Ada pengendara, pedagang, pelaku UMKM dan pekerja lainnya yang setiap hari berada di luar ruangan. Kami ingin memberikan perlindungan sederhana melalui pembagian masker,” ujar Rahmat Kamis (10/9/2026).
Ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kondisi udara mulai terlihat berkabut dan jarak pandang menurun. Aktivitas di luar ruangan, kata dia, sebaiknya dikurangi apabila tidak mendesak.
Imbauan tersebut menjadi semakin penting karena Dharmasraya termasuk salah satu wilayah Sumatera Barat yang terpantau memiliki titik panas. Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Sumbar periode 1–3 September 2026, terdapat 19 titik hotspot di Sumbar, dengan lima titik di antaranya berada di Dharmasraya.
Pemantauan berikutnya juga menunjukkan persoalan karhutla di Dharmasraya belum sepenuhnya mereda. Dinas Kehutanan Sumbar mencatat 237 hotspot terpantau di Sumbar sepanjang 1–7 September 2026. Khusus pada 7 September, dua titik hotspot kategori sedang terdeteksi di Dharmasraya, masing-masing di Koto Baru dan Timpeh.
Selain sumber asap dari dalam daerah, kondisi Dharmasraya juga berada dalam pengaruh dinamika karhutla di kawasan Sumatera. Asap dari wilayah yang terbakar dapat terbawa ke daerah lain tergantung arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer.
Pemerintah Provinsi Sumbar sebelumnya mencatat tingginya aktivitas hotspot di provinsi tetangga. Pada periode 1–3 September, data SIPONGI menunjukkan 301 hotspot di Jambi dan 2.422 hotspot di Sumatera Selatan. Pemerintah juga menyebut asap dari wilayah sekitar berpotensi memengaruhi kualitas udara Sumbar, meski besarnya pengaruh sangat bergantung pada kondisi meteorologis.
Bendahara Pemuda PERTI Dharmasraya, Agung Kurnia Sandi, SH, mengatakan pembagian masker sengaja menyasar masyarakat yang sehari-hari beraktivitas langsung di tengah kepungan asap.
Menurutnya, pengendara menjadi salah satu kelompok yang cukup rentan karena harus berada di jalan dalam waktu tertentu. Begitu pula dengan pelaku UMKM yang tetap membuka usaha dan melayani masyarakat meski kondisi udara sedang tidak ideal.
“Masker memang bukan solusi untuk mengatasi sumber karhutla. Tetapi setidaknya ini menjadi bentuk perlindungan bagi masyarakat yang harus tetap beraktivitas. Kami berharap masyarakat juga semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan di tengah kondisi udara seperti sekarang,” kata Agung.
Ia menambahkan, persoalan kabut asap tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat. Penanganan sumber api dan pencegahan kebakaran harus dilakukan secara bersama-sama, termasuk mencegah aktivitas pembakaran lahan maupun kegiatan lain yang berpotensi memicu kebakaran.
Kondisi kualitas udara Sumbar sendiri masih perlu mendapat perhatian. Data resmi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup melalui pemantauan AQMS menunjukkan kualitas udara di sejumlah titik Sumbar berada pada kategori tidak sehat.
Pada pemantauan 9 September 2026 pukul 11.00 WIB, Stasiun AQMS Padang Pariaman mencatat ISPU 147 dengan parameter kritis PM2,5. Sementara Stasiun AQMS Padang mencatat ISPU 133 dengan parameter kritis PM10. Keduanya masuk kategori tidak sehat.












