Setelah lolos di tingkat kabupaten, jangankan untuk mendapatkan medali, diupacarakan saja tidak kemenangan-kemenangan itu, jelas tidak memberikan motivasi bagi siswa dan siswi peserta O2SN atau penontonnya.
Untuk menuju ke tingkat provinsi, atlet atau siswa tersebut tidak didampingi oleh pelatihnya, ia didampingi oleh guru olahraga dimana ia sekolah. Parahnya lagi, pelatih tersebut karena kecintaan terhadap olahraga dan panggilan tanggung jawabnya terhadap atau atlet tersebut, ia berangkat juga ke ibukota provinsi kalau di Sumatera Barat, Kota Padang dengan biaya sendiri.
Bayangkan, sesampai di Ibukota Provinsi Sumbar atau Kota Padang, guru pendamping tidur di hotel dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, sedangkan pelatih entah dimana. Menyedihkan, iya begitulah adanya.
Parah dan parahnya lagi, sehari sebelum penyelenggaraan pertandingan atau perlombaan, anak atau atlet tersebut tidak dilatih atau dibawa pemanasan oleh guru olahraga pendamping melainkan sama pelatihnya, dan bahkan ketika anak tersebut minta izin kepada guru olahraga untuk pergi latihan gabungan dengan pelatih dimana ia bernaung tidak diizinkan. Bayangkan?! Apakah guru olahraganya tidak mengerti materi apa yang akan disuguhkan kepada anak tadi.
Guru pendamping untuk berangkat sebagai pendamping sudah jelas dikasih uang jalan, transportasi dan akomodasi sudah jelas dibiayai oleh pemerintah atau sekolah, pertanyaannya si anak bagaimana?? Ada dikasih biaya transportasi oleh sekolah atau Dinas Pendidikan, makan?? Ada, jajan ya tentu tidak ada. Bahkan ada anak yang batal berangkat karena sekolah tidak sanggup untuk membiayai anak tersebut pergi ke tingkat provinsi.
Singkat kata, fasilitas sama guru, kerjanya sama pelatih, sampai di sini telur mata sapi hampir matang.
Kemudian bukan hanya sampai di situ saja, pada hari H apakah guru pendamping membawa anak pemanasan lah, latihan lah, atau memberikan semacam pengarahan kepada anak yang akan turun. Ya jawabannya juga tidak, kembali pelatihnya mengerjakan pekerjaan guru pendamping.
Begitulah perjalanan O2SN sampai ke tingkat nasional, tidak jauh berbeda, adapun didampingi pelatihnya, sudah jelas pakai biaya sendiri dan semangat pelatih untuk anak didiknya.
Ya begitulah pelaksanaan pada tingkat provinsi tidak jauh berbeda, anak-anak sang juara tidak dikasih medali sebagai kebanggaannya sampai di sekolah, dan bahkan guru pendamping tidak tau anaknya meraih peringkat satu, dua atau tiga pada nomor ia turun, ditambah lagi tidak ada medali disetiap nomornya dan bahkan untuk sang juara mewakili Sumatera Barat.
Telur mata sapi sudah matang atau sudah masak, kerja di orang, nama dan materinya sama kita. (*)
Oleh: Maryadi (Wartawan Muda)












