PADANG,HARIANHALUAN.ID- Mahasiswa atau yang pernah kuliah di Universitas Andalas atau Politeknik Negeri Padang tentu tidak asing dengan rute menuju kampus via Gunung Nago. Rute ini menyuguhkan kesegaran udara sekitar dan riak merdu aliran Sungai Batang Kuranji yang menyejukkan. Sungguh, indah dan nyaman sekali.
Namun, semua itu kini berubah. Pasca Galodo yang menimpa Sumatera pada akhir 2025, keindahan rute jalan itu tengah bertransformasi permanen menjadi nostalgia belaka. Bahkan, kondisinya kini terus mengancam keselamatan jiwa dan kesehatan mental penduduk setempat, bahkan anak-anak yang masih dalam fase pertumbuhan.
Itulah yang menjadi pemantik aksi Ma’arif Institute serta dosen dan mahasiswa Psikologi Islam Institut Agama Islam Sumatera Barat (IAI Sumbar), Pariaman hadir ke pemukiman di ujung jalan yang tersisa.
Sekian bulan pasca Galodo dan ramainya kunjungan relawan, kolaborasi komunitas-akademisi ini kembali menyapa Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Padang. Ada secercah rindu bercampur kekhawatiran yang menimbulkan pertanyaan “Apa kabar anak-anak terdampak bencana Galodo?”.

Saat ini, jalan aspal yang terputus sudah semakin terkikis. Di ujung jalan yang putus ini terdapat sebuah sekolah dasar di sisi kirinya. Guru dan siswa tak lagi masuk lewat gerbang depan karena terhalang aspal yang terkikis. Keselamatan terancam. Satu yang patut disyukuri, pembelajaran masih bisa terus berjalan.
Akan tetapi, sejauh mana musibah yang berlalu dan ancaman di masa depan itu tidak memberi rasa takut pada warga? Bagaimana dengan anak-anak?
Pada 31 Mei 2026 silam, dosen prodi Psikologi Islam IAI Sumbar , Navissa Akmalia, mengajak turut serta 6 orang mahasiswa untuk terjun langsung di lapangan, mencoba menerapkan keilmuannya.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan Ma’arif Institut yang diwakili oleh Iqbal Musa. Yang paling heboh di sini adalah keikutsertaan Kak Obe dari Mampir Dongeng, Sang Ventriloquist kebanggaan Ranah Minang, dengan cerita-cerita yang menghibur anak-anak.
Pagi itu sangat cerah untuk memulai aktivitas ini. Dosen dan mahasiswa dari IAI Sumbar menyajikan sejumlah permainan yang menggerakkan tubuh puluhan anak-anak yang berada di sekitar Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. Semuanya berbaur riang, sejenak melupakan jalan aspal depan sekolah yang tanahnya terus terkikis dan seolah menunggu waktunya.

Di rumah Bu RT, kegiatan dilanjutkan dengan cerita dari Kak Obe. Sambil menggendong dan berbincang dengan sesosok boneka orangutan bernama “Si Dolin”, ia berhasil mengocok perut anak-anak.
Walaupun di balik tawa lepas itu tampak wajah-wajah yang penasaran dengan pertanyaan “itu monyet sungguhan atau boneka ajaib?”, mereka tetap mau mengikuti alur demi alur yang diceritakan.
Siang menjelang dan matahari semakin naik, sehingga cuaca semakin panas. Kak Obe mengaku bahwa hanya keringat yang bercucuranlah yang menghentikan aksinya saat itu. Anak-anak itu sangat bersemangat, tentu semakin seru jika terus dilanjutkan.
Iqbal Musa dari Ma’arif Institute menuturkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian aksi kerelawanan dalam membantu korban terdampak banjir bandang di Sumatera. Namun, dengan berbagai pertimbangan, realisasinya baru terlaksana pada kesempatan ini.
Navissa Akmalia selaku dosen Psikologi Islam IAI Sumbar mengatakan, kegiatan ini memang seharusnya dilakukan, mengingat banyak yang sudah lupa tentang kondisi korban, secara fisik maupun psikis.
Kalau tidak diintip-intip, kita tidak pernah tahu bagaimana perkembangan mereka dan kampungnya. Ternyata memang begitu, realitanya seperti yang sudah dideskripsikan.
Semua pihak yang terlibat sepakat dan berharap agar kegiatan ini tidak terhenti di sini. Semoga semakin banyak pihak yang kembali “menyilau” dan menyapa saudara-saudara yang beberapa bulan lalu sempat kita beri perhatian lebih. Hari ini, apa kabar mereka? (*).












