OPINI

Pelajaran Diplomasi dari Final Piala Dunia 2026

×

Pelajaran Diplomasi dari Final Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Ronny P Sasmita

Oleh: Ronny P Sasmita (Analis Ekonomi, Penggemar Bola, dan meraih Ph.D dalam bidang Ekonomi Politik Internasional dari University of Tokyo)

Ada kalanya sebuah bangsa mengirim diplomat terbaiknya ke meja perundingan. Mereka membawa dokumen, peta, naskah pidato, dan bahasa yang dipilih dengan sangat hati-hati. Setiap kata ditimbang. Setiap koma diperdebatkan. Setiap kalimat disusun agar tidak melukai, tetapi juga tidak mengalah. Namun ada kalanya pula sebuah bangsa hanya mengirim sebelas orang ke sebuah lapangan hijau. Tanpa naskah. Tanpa komunike bersama. Tanpa penerjemah. Anehnya, dunia justru lebih mudah memahami pesan yang kedua.

Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol adalah salah satu momen langka ketika diplomasi menemukan bentuknya yang paling sederhana. Tidak ada meja perundingan. Tidak ada hak veto. Tidak ada ancaman sanksi. Yang ada hanyalah rumput, bola, dan keyakinan bahwa persaingan tidak selalu harus melahirkan permusuhan.

Di dalam hubungan internasional, ada satu istilah yang semakin penting pada abad ke-21, yakni soft power. Sebuah negara tidak lagi dihormati semata-mata karena besarnya anggaran militer atau luas wilayahnya, tapi karena kemampuannya membuat bangsa lain ingin mengenalnya, mempelajari budayanya, menikmati musiknya, membaca sastranya, berbicara dengan bahasanya, dan bahkan meniru cara hidupnya.

Dalam pengertian itulah, sepak bola telah menjadi salah satu instrumen diplomasi paling berhasil yang pernah diciptakan manusia. Tidak ada kementerian luar negeri yang mampu membuat miliaran orang mengenakan seragam nasional sebuah negara dengan sukarela. Sepak bola melakukannya. Tidak ada kedutaan yang mampu membuat anak-anak di Afrika, Asia, atau Amerika Latin menghafal nama-nama kota di Spanyol seperti Barcelona, Madrid, Bilbao, atau Sevilla. Sepak bola melakukannya. Tidak ada konferensi internasional yang mampu membuat jutaan orang belajar mengucapkan “Vamos” atau “Vamos Argentina” dengan penuh kebanggaan. Sepak bola melakukannya.

Karena itu, ketika Argentina dan Spanyol bertemu di final nanti, yang sedang berhadapan sesungguhnya bukan hanya dua tim nasional. Yang sedang bertemu adalah dua pusat kebudayaan dunia Hispanik yang selama berabad-abad saling membentuk. Hubungan keduanya terlalu rumit untuk disebut sekadar bekas penjajah dan bekas koloni. Bahasa yang dipakai Jorge Luis Borges adalah bahasa Cervantes. Puisi Federico García Lorca dibaca di Buenos Aires sama akrabnya dengan di Granada. Lagu-lagu tango menyeberangi Atlantik, sementara flamenco menemukan penggemarnya di Amerika Selatan.

Jutaan keluarga Argentina memiliki akar leluhur dari Galicia, Asturias, Andalusia, atau Basque. Sebaliknya, Spanyol modern diperkaya oleh energi intelektual, seni, dan pengalaman sejarah yang lahir dari Amerika Latin. Mereka dipisahkan oleh samudra. Tetapi disatukan oleh kebudayaan. Hubungan seperti itulah yang tidak pernah mampu dijelaskan oleh peta politik. Karena peta hanya menggambarkan batas negara, tapi tidak pernah mampu menggambarkan perjalanan manusia.

Sepak bola justru memahami perjalanan itu. Lihatlah Lionel Messi. Ia lahir di Rosario, tetapi tumbuh di Barcelona. Ia belajar mencintai lambang Argentina, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya mengenakan warna kebanggaan Catalunya. Di dalam dirinya, dua dunia itu bertemu tanpa saling meniadakan. Messi tidak pernah menjadi orang Spanyol. Tetapi Spanyol ikut membentuk kejeniusannya. Barcelona memberinya rumah ketika Argentina belum mampu menyediakan pengobatan yang dibutuhkan tubuh kecilnya. La Masia memberinya bahasa sepak bola yang kemudian mengubah sejarah olahraga dunia.

Bukankah itu bentuk diplomasi yang paling indah? Tidak ada perjanjian bilateral yang mengatur hubungan Messi dengan Barcelona. Tidak ada nota kesepahaman yang ditandatangani. Yang ada hanyalah kepercayaan. Dan kepercayaan selalu menjadi mata uang paling mahal dalam diplomasi. Mungkin karena itulah para diplomat sering iri kepada sepak bola. Hubungan antarnegara dibangun bertahun-tahun untuk menghasilkan sedikit rasa saling percaya. Sepak bola sering menciptakan kepercayaan itu hanya melalui satu pertandingan yang dimainkan dengan penuh hormat.

Spanyol memahami bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari kekuasaan. Dahulu mereka dikenal sebagai imperium yang armada lautnya menghubungkan berbagai benua. Hari ini mereka dikenal karena sesuatu yang jauh lebih lembut. Bahasanya menjadi salah satu bahasa terbesar di dunia. Universitas-universitasnya menarik mahasiswa dari berbagai negara. Karya Miguel de Cervantes, Federico García Lorca, Pablo Picasso, Salvador Dalí, Pedro Almodóvar, hingga musik dan sepak bolanya menjadikan Spanyol tetap hadir dalam percakapan dunia tanpa perlu mengirim satu pun kapal perang.

Baca Juga  Pilkada Makin Dekat, Ketua LKAAM Dharmasraya Ajak Parpol Selektif Pilih Calon Terbaik

Argentina menempuh jalan yang berbeda. Ekonominya berkali-kali mengalami guncangan. Politiknya sering berbelok tajam. Tetapi dunia tidak pernah berhenti memandang Argentina sebagai salah satu pusat kebudayaan paling berpengaruh di belahan selatan. Borges mengajarkan dunia bahwa perpustakaan dapat menjadi semesta. Julio Cortázar membuktikan bahwa sastra mampu melompati logika. Astor Piazzolla mengubah tango menjadi bahasa kerinduan modern. Maradona mengajarkan bahwa keberanian dapat mengalahkan rasa takut. Messi mengajarkan bahwa kerendahan hati dapat hidup berdampingan dengan keagungan.

Tidak banyak negara yang mampu menghasilkan begitu banyak bentuk soft power sekaligus. Itulah sebabnya final nanti bukan sekadar perebutan trofi, tapi perjumpaan dua bangsa yang sama-sama berhasil mengubah kebudayaan menjadi pengaruh global. Banyak negara memiliki produk domestik bruto yang lebih besar. Banyak negara memiliki tentara yang lebih kuat. Tetapi tidak banyak yang mampu membuat miliaran manusia berhenti sejenak dari rutinitasnya hanya untuk menyaksikan sebelas pemain mengenakan warna kebangsaan mereka.

Mungkin di situlah pelajaran pertama yang diberikan sepak bola kepada diplomasi. Bahwa pengaruh yang paling bertahan lama bukanlah pengaruh yang dipaksakan. Melainkan pengaruh yang membuat orang lain datang dengan sukarela. Dan di atas rumput hijau final Piala Dunia nanti, Argentina dan Spanyol akan kembali menunjukkan kepada dunia bahwa sebuah bangsa tidak hanya berbicara melalui para diplomatnya. Ia juga berbicara melalui cara seorang gelandang mengirim umpan, cara seorang penyerang membaca ruang, dan cara jutaan pendukung menyanyikan lagu kebangsaannya dengan mata yang berkaca-kaca. Karena ada bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Namanya adalah sepak bola.

Namun diplomasi selalu mengajarkan satu hal yang sering dilupakan oleh politik. Tidak ada bangsa yang benar-benar berdiri sendirian. Setiap negara sesungguhnya adalah hasil dari perjumpaan yang panjang, perjumpaan manusia, bahasa, perdagangan, migrasi, peperangan, perdamaian, dan kebudayaan. Begitu pula Argentina dan Spanyol. Selama berabad-abad, hubungan keduanya bergerak seperti ombak di Samudra Atlantik. Kadang tenang, kadang bergelora, tetapi tidak pernah benar-benar terputus.

Jutaan orang Spanyol bermigrasi ke Argentina pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka membawa bahasa, resep masakan, tradisi keluarga, musik, cara berdagang, dan tentu saja sepak bola. Sebaliknya, Argentina memberi Spanyol sesuatu yang tidak kalah berharga, yakni energi baru, kreativitas Amerika Latin, dan sebuah cara memandang kehidupan yang lebih puitis, lebih emosional, dan lebih berani mengambil risiko. Karena itu, final nanti sesungguhnya bukan mempertemukan dua bangsa yang asing satu sama lain.

Mereka lebih menyerupai dua saudara yang tumbuh di rumah yang berbeda. Mereka memiliki kenangan yang sama. Tetapi menafsirkan masa depan dengan cara yang berbeda. Perbedaan itu bahkan terlihat dari cara kedua bangsa memainkan sepak bola. Spanyol selalu percaya bahwa permainan yang baik adalah permainan yang mampu mengendalikan keadaan. Mereka ingin menguasai bola karena menguasai bola berarti menguasai tempo, emosi, dan arah pertandingan. Di dalam filsafat diplomasi, pendekatan itu mengingatkan pada negosiasi yang sabar: jangan memaksa lawan menyerah, tetapi buatlah ia perlahan menerima kenyataan bahwa ruang geraknya semakin sempit.

Argentina berpikir sebaliknya. Mereka tidak selalu membutuhkan bola untuk mengendalikan pertandingan. Mereka hanya membutuhkan momen yang tepat. Seperti seorang diplomat yang mengetahui bahwa satu kalimat yang diucapkan pada waktu yang benar sering kali lebih menentukan daripada seratus halaman dokumen, Argentina memahami bahwa satu transisi cepat, satu umpan yang memecah garis pertahanan, atau satu keberanian mengambil risiko dapat mengubah seluruh arah permainan.

Di sinilah Lionel Scaloni membangun Argentina modern. Ia tidak lagi menggantungkan negaranya pada mukjizat seorang pemain, tapi membangun kepercayaan bahwa organisasi adalah bentuk tertinggi dari bakat. Messi tetap menjadi pusat gravitasi emosional tim ini. Kehadirannya membuat lawan berpikir dua kali, membuat rekan-rekannya bermain dengan keyakinan yang lebih besar.

Namun Argentina kini tidak lagi hidup dari nostalgia terhadap seorang legenda. Mereka memiliki Julián Álvarez yang tanpa lelah membuka ruang, Enzo Fernández yang menghubungkan seluruh lini dengan kecerdasan luar biasa, Alexis Mac Allister yang memberi keseimbangan, Cristian Romero yang mengubah pertahanan menjadi benteng psikologis, dan Emiliano Martínez yang telah menjadikan ketenangan sebagai senjata. Mereka bukan hanya kumpulan pemain hebat. Mereka adalah masyarakat kecil yang memahami pembagian peran. Diplomasi menyebutnya trust. Sepak bola menyebutnya tim.

Baca Juga  Mengapa Sumatera Perlu Status Bencana Nasional?

Di sisi lain, Spanyol datang membawa generasi yang sedang menulis babak baru dalam sejarahnya sendiri. Lamine Yamal bukan hanya pemain muda yang sedang bersinar, tapi  wajah dari Spanyol abad ke-21: terbuka, majemuk, dan percaya bahwa identitas dibangun oleh kontribusi, bukan oleh asal-usul semata. Bersama Pedri, Nico Williams, Gavi, dan para pemain lain, ia mewakili sebuah negara yang terus memperbarui dirinya tanpa memutus hubungan dengan tradisinya.

Setiap generasi besar selalu menghadapi satu ujian yang sama. Mereka harus membuktikan bahwa sejarah bukan beban, tapi pijakan. Yamal tidak sedang bersaing dengan Messi. Ia sedang belajar bagaimana suatu hari nanti dunia berhenti membandingkannya dengan Messi. Dan hanya sejarah yang dapat memberikan jawaban itu.

Dalam diplomasi, ada sebuah prinsip lama yang sangat sederhana. Kemenangan yang paling berharga adalah kemenangan yang tetap menjaga martabat pihak yang kalah. Prinsip itu tampaknya juga hidup di dalam sepak bola. Final Piala Dunia selalu menghasilkan satu juara. Tetapi sejarah hanya akan mengingat pertandingan yang membuat kedua belah pihak tetap dihormati. Italia dan Jerman pada 1970. Brasil dan Italia pada 1982. Prancis dan Brasil pada 1998. Argentina dan Prancis pada 2022. Kini, Argentina dan Spanyol memiliki kesempatan untuk menambahkan satu bab baru ke dalam daftar itu.

Apa pun hasilnya nanti, kedua bangsa telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada trofi. Mereka telah menunjukkan bahwa kebudayaan mampu menghasilkan pengaruh yang bahkan tidak sanggup dibangun oleh kekuatan militer. Tidak ada kapal induk yang mampu membuat seorang anak di Jakarta, Nairobi, atau Lima bermimpi menjadi Lionel Messi. Tidak ada rudal yang mampu membuat jutaan anak mengenakan seragam Lamine Yamal. Yang mampu melakukan itu hanyalah kebudayaan. Dan sepak bola adalah salah satu bentuk kebudayaan yang paling demokratis. Ia tidak bertanya kepada seorang anak tentang agamanya, tidak menanyakan warna kulitnya, tidak meminta paspor sebelum mengizinkannya bermimpi. Ia hanya bertanya satu hal. Apakah engkau berani mengejar bola itu?

Mungkin karena itulah sepak bola sering berhasil mencapai sesuatu yang selama puluhan tahun dicoba oleh diplomasi internasional. Ia membuat manusia menemukan kesamaan tanpa harus menghapus perbedaan. Argentina tetap Argentina. Spanyol tetap Spanyol. Mereka tidak perlu menjadi sama untuk saling menghormati. Barangkali dunia modern terlalu sering melupakan pelajaran sederhana itu. Kita terbiasa mengukur kekuatan negara melalui produk domestik bruto, neraca perdagangan, jumlah rudal, atau besarnya anggaran pertahanan. Padahal ada ukuran lain yang jauh lebih halus, tetapi jauh lebih bertahan lama.

Seberapa banyak cerita yang dapat diwariskan sebuah bangsa kepada dunia. Dalam ukuran itulah Argentina dan Spanyol telah lama menjadi negara besar. Yang satu menghadiahkan Borges, Cortázar, tango, Maradona, dan Messi. Yang lain menghadiahkan Cervantes, Lorca, Picasso, Barcelona, Real Madrid, dan tradisi sepak bola yang membentuk begitu banyak pemain lintas generasi.

Final Piala Dunia nanti hanyalah satu malam. Trofi akan berpindah tangan. Medali akan disimpan. Foto-foto akan memenuhi halaman depan surat kabar. Tetapi sesungguhnya yang sedang dirayakan dunia bukanlah kemenangan sebelas pemain. Yang sedang dirayakan adalah kemenangan sebuah gagasan. Bahwa setelah berabad-abad manusia membangun pengaruh melalui penaklukan, penjajahan, dan peperangan, kini dua bangsa dapat menunjukkan kepada dunia bahwa kehormatan juga dapat diperoleh melalui permainan yang adil, bakat yang diasah dengan tekun, dan penghormatan kepada lawan. Dan mungkin, itulah diplomasi yang paling sempurna.

Diplomasi yang tidak lahir dari ruang perundingan, tapi dari sebuah stadion yang dipenuhi nyanyian, yang tidak ditandatangani dengan tinta, tapi dengan keringat. yang tidak diakhiri dengan jabat tangan para pejabat, tapi dengan pelukan para pemain yang beberapa menit sebelumnya saling berebut kemenangan. Sebab pada akhirnya, negara boleh berbicara melalui para diplomatnya. Tetapi peradaban selalu berbicara melalui kebudayaannya.  Dan pada malam ketika Argentina dan Spanyol bertemu di final Piala Dunia, kebudayaan itu akan kembali memilih bahasa yang paling tua sekaligus paling universal, yakni sebuah bola yang menggelinding, menyatukan lebih banyak manusia daripada yang pernah mampu dipisahkan oleh batas-batas negara. (*)

OPINI

Oleh : Dr. Zennis Helen, S.H., M.H (Dosen…