Ia menjelaskan pelatihan dilaksanakan dalam tiga angkatan. Angkatan pertama pada 1–2 Juli 2026 diikuti kader Posyandu se-Kota Payakumbuh, angkatan kedua pada 6–7 Juli 2026 diikuti unsur PMI, ORARI, RAPI, TAGANA, Pemuda Pancasila, serta organisasi pencinta alam.
Adapun angkatan ketiga pada 8–9 Juli 2026 diikuti Kelompok Siaga Bencana se-Kota Payakumbuh. Masing-masing angkatan diikuti 50 peserta sehingga total peserta mencapai 150 orang.
“Kami berharap melalui kegiatan ini seluruh peserta dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, sekaligus mampu menjadi garda terdepan di lingkungan masing-masing dalam upaya pengurangan risiko bencana,” ujar Devitra.
Selain pembekalan mengenai manajemen posko dan kesiapsiagaan penanganan darurat bencana, peserta juga memperoleh materi pertolongan pertama gawat darurat, trauma healing bagi korban bencana, serta berbagai materi pendukung lain yang relevan dengan upaya mitigasi bencana.
Menurut Devitra, pelatihan tersebut diharapkan mampu membentuk masyarakat yang lebih tangguh, memiliki kemampuan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini, serta mampu berkolaborasi dengan pemerintah dalam mengurangi risiko bencana.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Semoga ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di Kota Payakumbuh,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kota Payakumbuh berharap semakin banyak warga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali potensi bencana, melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini, serta membantu penanganan keadaan darurat di lingkungan masing-masing. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan risiko korban jiwa dan kerugian akibat bencana sekaligus mewujudkan masyarakat Kota Payakumbuh yang semakin tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. (*)












