JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Selasa (4/8) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (5/8) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, sejumlah kejadian bencana meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir maupun dampak cuaca ekstrem melanda di beberapa daerah.
Kejadian pertama yang tercatat adalah di Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Kebakaran lahan terjadi di kawasan Hutan Lindung Gunung Soputan, Kecamatan Silian Raya, pada Senin (3/8). Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut. Hingga Selasa (4/8), terpantau masih ada beberapa titik kebakaran dan kondisi angin kencang turut memperluas area terdampak. BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara mencatat luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 300 hektare. BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara bersama unsur gabungan terus melakukan pemadaman serta asesmen di lokasi kejadian.
Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda enam kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, pada Senin (3/8). Kejadian tersebut menyebabkan 11 unit rumah mengalami kerusakan. BPBD Kabupaten Serdang Bedagai telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan serta melakukan asesmen dan pemantauan di wilayah terdampak.
Masih di Provinsi Sumatera Utara, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di Kabupaten Nias Barat pada Senin (3/8). Banjir terjadi di Desa Ononamolo III, Kecamatan Mandrehe Barat serta Desa Togimbuaya, Kecamatan Mandrehe. Wilayah lainnya di Kabupaten Nias Barat, peristiwa serupa juga terjadi di Desa Sisobambowo, Kecamatan Mandrehe, mengakibatkan satu warga meninggal dunia setelah tertimpa pohon kelapa.
Di sisi lain, lahan persawahan dengan luas lima hektare dan satu ruas jalan provinsi terdampak kejadian ini. BPBD Kabupaten Nias Barat melakukan koordinasi dan pemantauan di lokasi terdampak. Hingga Selasa (4/8), kondisi banjir dilaporkan berangsur surut.
Berikutnya di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, banjir yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan Sungai Batang Patai meluap ke kawasan permukiman di Nagari Tambangan, Kecamatan X Koto. Sebanyak 17 unit rumah dan saru fasilitas pendidikan terdampak kejadian ini. Berdasarkan pemantauan di lapangan pada Selasa (4/8), banjir telah surut.
Adapun peristiwa karhutla terjadi di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur lokasi terdampak yakni Desa Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, pada pukul 14.10 WITA. Penyebab kebakaran belum diketahui, namun diduga dipicu oleh cuaca panas dan angin kencang. Lahan yang terbakar diperkirakan seluas 2 hektare. Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Berau melakukan pemadaman dan pendinginan, dibantu oleh Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar), dan KPHP Kabupaten Berau. Hingga Selasa sore, penanganan pemadaman api masih berlangsung.
BPBD Kota Bontang menerima laporan dari Damkar pada pukul 11.32 WITA terkait kebakaran hutan di Jalan Letjen Urip Sumoharjo, tepatnya di belakang Perumahan KORPRI Blok B, Desa Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Tim BPBD Kota Bontang bergerak menuju lokasi dengan estimasi waktu tempuh sekitar 45 menit menggunakan satu unit mobil tangki dan satu unit mobil KPHP. Lahan yang terbakar tercatat seluas 3,31 hektare. Personel Regu II BPBD Kota Bontang bersama petugas gabungan melakukan pemadaman terpadu menggunakan selang dan kepyok. Tim sempat menghadapi kendala berupa jarak lokasi yang cukup jauh sehingga selang air tidak dapat menjangkau titik api secara langsung. Api di lokasi ini telah padam dan situasi dinyatakan aman terkendali.
Selanjutnya, bencana karhutla turut terjadi di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, pada Selasa (4/8) pukul 14.35 WITA. Lokasi terdampak yakni Desa Simpang Batu dan Desa Lumut, Kecamatan Pasir Belengkong. Kejadian ini mengakibatkan kerugian materiil berupa 13 hektare lahan semak belukar terbakar, tanpa ada korban jiwa. BPBD Kabupaten Paser bersama petugas gabungan melakukan penanganan di lokasi kejadian, dan pada Selasa (4/8) api dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Selanjutnya di Provinsi Jawa Tengah, kebakaran lahan terjadi di lokasi TPA Desa Malabar, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada pukul 13.00 WIB. Kebakaran dipicu oleh gas metana (CH₄) hasil pembusukan sampah organik yang terakumulasi dan tersulut sumber panas atau percikan api, membakar area seluas sekitar 2 hektare. BPBD Kabupaten Cilacap berkoordinasi dengan Forkopimcam Wanareja, Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Majenang, dan UPTD PSWB, serta melakukan asesmen bersama UPTD PKBD Majenang. Pemadaman dan pendinginan dilakukan oleh mobil Damkar Majenang dengan suplai air dari mobil tangki UPTD PKBD Majenang serta bantuan excavator milik UPTD PSWB. Api di lokasi ini telah berhasil dipadamkan.
Kebakaran lahan persawahan juga terjadi di Dukuh Srimulyo, Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, pada Selasa (4/8) sekitar pukul 11.00 WIB. Kebakaran diduga dipicu oleh pembakaran sampah yang tidak terkontrol. BPBD Kabupaten Klaten bersama petugas gabungan segera bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman, asesmen, dan koordinasi dengan unsur terkait. Berkat respons cepat tim di lapangan, api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 12.58 WIB pada hari yang sama, dengan luas lahan terbakar mencapai kurang lebih 6,8 hektare. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, dan situasi di lokasi kini dinyatakan aman dan terkendali.
Berikutnya kebakaran lahan juga terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, dalam dua hari berturut-turut. Kebakaran pertama terjadi di Desa Gentan, Kecamatan Bulu, pada Senin (3/8) pukul 18.50 WIB, disusul kebakaran di Kecamatan Bendosari pada Selasa (4/8) pukul 14.50 WIB. Sumber api pada kedua kejadian belum diketahui; api dilaporkan tiba-tiba membesar akibat tiupan angin sehingga dengan cepat membakar lahan hingga meluas. Akibat kejadian ini, lahan seluas kurang lebih 13 hektare terbakar, dengan rincian sekitar 5 hektare di Kecamatan Bulu dan sekitar 8 hektare di Kecamatan Bendosari. Tidak ada korban jiwa dalam kedua kejadian tersebut. BPBD Kabupaten Sukoharjo bergerak cepat melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan unsur terkait guna penanganan bencana serta upaya pemadaman api secara intensif di kedua lokasi. Hingga Selasa (4/8), penanganan dan upaya pemadaman masih berlangsung, dilakukan oleh personel BPBD Kabupaten Sukoharjo bersama Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sukoharjo dan unsur relawan.
Di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, kebakaran lahan terjadi di Dukuh Kaliseger, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, pada Minggu (2/8) sekitar pukul 13.40 WIB. Api yang diduga berasal dari pembakaran sampah kemudian merambat ke lahan semak belukar, lahan tebu, dan rumpun bambu. Kebakaran sempat mendekati permukiman warga serta sebuah SPBU. Kebakaran menghanguskan sekitar satu hektare lahan tebu. BPBD Kabupaten Kudus bersama tim pemadam kebakaran melakukan kaji cepat, koordinasi, dan pemadaman. Penanganan menghadapi sejumlah kendala, antara lain kondisi lahan yang kering, angin kencang, luas area terbakar, keterbatasan sumber air, serta lokasi kejadian yang berdekatan dengan permukiman dan SPBU. Hingga Selasa (4/8), api berhasil dipadamkan oleh empat armada pemadam kebakaran dari Satpol PP Kabupaten Kudus dan BPBD Kabupaten Kudus.
Selain karhutla, sejumlah wilayah di Jawa Tengah juga mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. Di Kabupaten Jepara, sumber air di wilayah Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, mengalami penurunan debit pada musim kemarau sehingga warga mengalami kekurangan air bersih sejak Jumat (5/6). Wilayah terdampak meliputi Desa Kedungmalang (Kecamatan Kedung), Desa Tunahan (Kecamatan Keling), dan Desa Sumberrejo (Kecamatan Donorojo), dengan total 1.260 Kepala Keluarga (KK) terdampak. BPBD Kabupaten Jepara melakukan pendataan serta mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Hingga Selasa (4/8), pendistribusian air bersih telah dilakukan sebanyak 2 tangki atau 10.000 liter kepada masyarakat terdampak di Kecamatan Keling, Desa Tunahan.
Kekeringan serupa juga melanda Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, akibat tidak turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir, khususnya di wilayah Kecamatan Bancak dan sekitarnya. Kekeringan tercatat berdampak pada lima kecamatan dan tujuh desa, yaitu Desa Plumutan dan Desa Bantal (Kecamatan Bancak), Desa Kemitir (Kecamatan Sumowono), Desa Pakis dan Desa Rembes (Kecamatan Bringin), Desa Kedungringin (Kecamatan Suruh), serta Desa Kalikayen (Kecamatan Ungaran Timur). Sebanyak 646 KK atau 1.308 jiwa terdampak, tanpa ada kerugian materiil yang dilaporkan, dengan kebutuhan mendesak berupa pasokan air bersih.
BPBD Kabupaten Semarang bersama petugas gabungan telah melaksanakan droping air bersih ke wilayah-wilayah terdampak sebagai langkah penanganan darurat. Penanganan kekeringan ini mengacu pada Keputusan Bupati Semarang Nomor 100.3.3.2/017/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan 2026 selama 243 hari, terhitung sejak 3 Juni 2026 hingga 31 Januari 2027, serta Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026. Hingga Selasa (4/8), BPBD Kabupaten Semarang bersama Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Semarang telah mendistribusikan air bersih sebanyak 15.000 liter di Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono.
Beralih ke Provinsi Jawa Timur. Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, pada Senin (3/8). Kebakaran terjadi di wilayah Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, dengan luas area terbakar diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare. Adapun vegetasi yang terdampak meliputi padang savana, cemara gunung, akasia, dan kaliandra.
BPBD Provinsi Jawa Timur telah memberikan dukungan logistik dan personel untuk mempercepat penanganan. Hingga Selasa (4/8), titik api di arah Kabupaten Malang dilaporkan telah padam, sedangkan titik api di wilayah Jantur, Kabupaten Probolinggo, berangsur padam. Namun, api masih terpantau di Blok Bantengan hingga Pusung Jantur dan terus merembet ke arah timur
Di luar bencana karhutla dan kekeringan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) menyusul lonjakan kasus yang terjadi sejak Januari hingga Juli 2026. Kejadian ini tersebar di 11 kecamatan, yaitu Kecamatan Badiri, Pandan, Kolang, Sarudik, Tukka, Pinangsori, Lumut, Sibabangun, Pasaribu Tobing, Tapian Nauli, dan Sitahuis. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, total kasus DBD dari Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 454 kasus, dengan 5 orang meninggal dunia. Rincian kasus per puskesmas meliputi Puskesmas Pandan 158 kasus (1 meninggal), Puskesmas Tukka 96 kasus (1 meninggal), Puskesmas Sarudik 37 kasus, Puskesmas Kolang 30 kasus (2 meninggal), Puskesmas Pinangsori 45 kasus, Puskesmas Hutabalang 47 kasus (1 meninggal), Puskesmas Poriaha 19 kasus, Puskesmas Sibabangun 8 kasus, dan Puskesmas Sorkam 7 kasus. Tidak ada kerugian materiil yang dilaporkan dalam kejadian ini.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara gotong royong dan menggalakkan program 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di setiap rumah tangga, serta melakukan kegiatan fogging di wilayah terdampak sebagai upaya pencegahan penyebaran KLB DBD lebih lanjut. BPBD Provinsi Sumatera Utara turut berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah dalam penanganan bencana di lokasi-lokasi terdampak. Penetapan status ini merujuk pada Keputusan Bupati Tapanuli Tengah Nomor 381/DINKES/2026 tanggal 27 April 2026 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Non Alam Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue Tahun 2026 di Wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, berlaku selama 28 hari sejak ditetapkan dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan berdasarkan hasil evaluasi. Hingga saat ini, penanganan dan pengendalian kasus demam berdarah dengue masih terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah.
Menyikapi rangkaian kejadian tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah masing-masing. Terkait karhutla, masyarakat diminta untuk tidak membakar sampah maupun lahan secara sembarangan, terutama pada musim kemarau dan saat kondisi angin kencang, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api.
Bagi masyarakat di wilayah rawan angin kencang dan banjir, khususnya di sekitar aliran sungai dan lereng perbukitan, diimbau untuk mewaspadai perubahan cuaca ekstrem, tidak berteduh di bawah pohon besar saat hujan disertai angin kencang, serta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila debit air sungai meningkat signifikan. Sementara itu, di wilayah yang mengalami krisis air bersih akibat kekeringan, masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan melaporkan kebutuhan mendesak kepada BPBD setempat agar bantuan droping air dapat disalurkan secara tepat sasaran.












