Bagi PT Semen Padang, program tersebut merupakan bagian dari implementasi prinsip keberlanjutan perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Melalui berbagai program penghijauan dan konservasi, perusahaan terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keseimbangan ekologi di Sumatera Barat.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk PT Semen Padang, dalam mendukung gerakan Tobat Ekologis yang mulai digelorakan di Sumatera Barat.
Menurut Mahyeldi, gerakan tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh elemen masyarakat harus semakin serius mengambil langkah antisipatif terhadap berbagai ancaman lingkungan dan bencana yang semakin kompleks.
“Dengan tema kawasan Tobat Ekologis, ini membuktikan bahwa kita harus serius melakukan langkah-langkah antisipasi,” ujar Mahyeldi.
Ia meyakini kehadiran Menteri Lingkungan Hidup akan semakin memperkuat gerakan tersebut melalui arahan dan pembinaan yang dapat diterapkan secara luas di berbagai institusi di Sumatera Barat.
“Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup akan memberikan penguatan dan bimbingan sehingga Tobat Ekologis ini diawali di Poltekpel dan nantinya dapat diterapkan di berbagai instansi di Sumatera Barat,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Muhammad Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tiga krisis lingkungan global (triple planetary crisis), yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta persoalan polusi dan limbah yang saling berkaitan.
Menurut Jumhur, konsep Tobat Ekologis yang diusung Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam yang selama puluhan tahun mengalami ketidakseimbangan.
“Banjir datang lebih sering, suhu udara terus meningkat, kualitas air menurun, dan ruang hidup berbagai spesies semakin menyempit. Krisis lingkungan yang kita saksikan hari ini sesungguhnya adalah cermin dari cara manusia memandang alam, bukan sebagai rumah bersama, melainkan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam khazanah spiritual, tobat berarti kembali kepada kesadaran, tanggung jawab, dan jalan yang benar setelah menyadari kesalahan. Ketika konsep tersebut dipadukan dengan dimensi ekologis, lahirlah kesadaran bahwa manusia harus kembali menempatkan alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.












