Menurut Haryadi, inovasi tersebut perlu dibarengi pengembangan motif, desain, kualitas produk, serta kemampuan pelaku usaha membaca kebutuhan pasar. Produk tradisional tidak harus kehilangan karakter untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan industri fesyen.
Ia juga melihat peluang pengembangan produk bernuansa songket untuk busana muslim dan busana muslimah. Pasar tersebut dinilai berpotensi luas apabila didukung perencanaan, desain, dan strategi pemasaran yang tepat.
Pengembangan itu diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga memperluas kesempatan bagi perajin, pelaku UMKM, desainer, dan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai produksi ekonomi kreatif.
“Kalau direncanakan dengan baik, ekosistemnya bisa berkembang. Bukan hanya produk songketnya, tetapi juga aplikasinya pada berbagai produk fesyen, termasuk busana muslim. Dengan begitu, pasar yang dijangkau bisa lebih luas,” katanya.
Haryadi mengingatkan, pengembangan produk kreatif merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang lebih lengkap. Destinasi alam, gastronomi, kebudayaan, kerajinan, dan produk fesyen lokal perlu dikembangkan secara saling melengkapi, kemudian diperkuat melalui promosi yang terarah.
Malaysia menjadi salah satu pasar yang dinilai potensial karena memiliki kedekatan sejarah dan budaya dengan Sumatera Barat. Selain itu, peluang kunjungan juga dapat dijajaki dari Singapura, wisatawan mancanegara yang memiliki keterkaitan dengan komunitas Mentawai, khususnya penggemar selancar, serta pasar lain sesuai aksesibilitas dan karakter produk wisata yang ditawarkan.
Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif dapat menjadi pintu masuk untuk menggerakkan sektor pariwisata sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat Sumbar.
“Ketika wisatawan berbelanja produk lokal, manfaat kunjungan tidak hanya dirasakan oleh hotel dan restoran, tetapi juga oleh perajin, UMKM, dan pelaku usaha lainnya,” pungkasnya.
Dengan demikian, tantangan PHRI Sumbar ke depan bukan semata-mata meningkatkan jumlah wisatawan, melainkan membangun alasan yang lebih kuat agar wisatawan datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan uangnya untuk menikmati produk serta pengalaman khas Sumatera Barat.
Terpilihnya kembali Rina Pangeran melalui Musda VI menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pelaku hotel dan restoran, pemerintah, pengelola destinasi, serta pelaku ekonomi kreatif.
Promosi yang lebih luas, regulasi yang mendukung keberlanjutan usaha, dan pengembangan produk unggulan daerah menjadi bagian dari agenda yang dapat diperjuangkan bersama.
Di tengah tantangan kebencanaan dan persaingan destinasi, Sumatera Barat membutuhkan ekosistem pariwisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan kekayaan kuliner.
Tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman budaya serta produk kreatif yang memiliki daya saing. Dengan pendekatan tersebut, kebangkitan pariwisata diharapkan turut membuka peluang usaha dan memperkuat ekonomi masyarakat Ranah Minang. (*).












