“Artinya, pertumbuhan ini belum mampu menciptakan pekerjaan formal yang berkualitas dan memiliki jaminan sosial. Kita memang melihat sektor akomodasi dan makan minum tumbuh tinggi hingga 17,77 persen, tetapi sektor utama seperti pertanian hanya tumbuh 3,14 persen,” katanya.
Ronny mengibaratkan kondisi ekonomi Sumbar saat ini seperti rumah yang tampak megah dari luar karena angka pertumbuhan 5,02 persen, tetapi fondasinya rapuh. Ia menilai sektor pertanian masih lesu, investasi belum efisien, serta ekonomi daerah masih sangat bergantung pada momentum musiman seperti Lebaran.
“Tanpa hilirisasi lanjutan dan perbaikan kualitas belanja pemerintah, Sumbar akan terus bergantung pada efek musiman setiap tahun. Kritik ini penting agar pemerintah tidak hanya terpaku pada angka-angka statistik semata,” tutupnya. (*)












