Langkah tersebut sekaligus membuka ruang bagi masyarakat yang ingin ikut membantu, meski tidak dapat turun langsung ke lokasi bencana.
PPB mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta warga Silungkang dan Sawahlunto untuk bersama-sama memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing.
Sebab dalam situasi bencana, kepedulian tidak selalu harus hadir dalam jumlah besar. Bantuan kecil yang dikumpulkan bersama dapat menjadi berarti bagi mereka yang sedang kehilangan banyak hal.
Banjir bandang yang melanda Arosuka terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Aliran sungai yang meluap kemudian berdampak pada sejumlah permukiman warga.
Proses evakuasi warga ke tempat yang lebih aman masih dilakukan. Tim sukarelawan PPB telah diterima di posko utama dan berkoordinasi dengan tim relawan lainnya, serta akan terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Bagi Pemuda Payuang Balai, musibah yang terjadi di Arosuka bukan semata persoalan satu daerah. Ada rasa persaudaraan yang membuat mereka memilih bergerak.
“Semoga bantuan dan kehadiran kami dapat memberikan sedikit keringanan bagi saudara-saudara kita di Arosuka. Mari kita buktikan bahwa kita satu darah, satu tujuan, dan saling menguatkan dalam keadaan sulit sekalipun,” kata Ade.
Di saat bencana memisahkan warga dari rumah, harta benda, dan rutinitas mereka, solidaritas justru dapat mendekatkan manusia satu dengan lainnya.
Dari Silungkang, para pemuda itu datang membawa satu pesan sederhana: ketika saudara sedang menghadapi musibah, kepedulian tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus diwujudkan dengan langkah dan kehadiran. (*)












