“Kalau kita lihat sejarahnya, Selawat Dulang berkembang sejak masa Syekh Burhanuddin pada abad ke-17, khususnya di lingkungan Tarekat Syattariyah di Pariaman. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana dakwah,” ucapnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Pesisir Selatan, Risnaldi Ibrahim, yang mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat, terutama para kalangan muda yang hadir meramaikan kegiatan tersebut.
“Ini kegiatan yang luar biasa. Ilmunya dapat, hiburannya juga dapat. Yang paling penting, nilai-nilai keagamaannya tetap terjaga,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kekompakan dan mendukung kegiatan positif di tengah masyarakat. Menurutnya, di era modern saat ini, banyak hiburan yang justru berpotensi merusak nilai moral.
Wabup Risnaldi juga menyinggung penertiban kegiatan organ tunggal oleh Satpol PP beberapa waktu lalu yang dinilai berlebihan dan tidak sesuai norma.
“Karena itu, Selawat Dulang seperti ini patut kita dorong dan jadikan contoh,” pungkasnya.
Dalam pertunjukan tersebut, panitia menghadirkan dua tim juru selawat ternama, yakni Topan Singgalang dari Tanah Datar dan Sinar Berlian dari Sijunjung. Keduanya berhasil memukau penonton dengan syair-syair religius yang dikemas menarik dan komunikatif.
Hingga larut malam, masyarakat tampak tetap bertahan menyaksikan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal.
Selawat Dulang pun kembali membuktikan dirinya sebagai warisan budaya yang tak lekang oleh waktu menghidupkan dakwah melalui seni, serta mempererat kebersamaan di tengah masyarakat Minangkabau. (*)












