OPINI

Seratus Tahun tak Menyerah: Jejak Perlawanan yang tak Pernah Padam di Tanah Silungkang

Tim Redaksi
Editor
Kontributor
×

Seratus Tahun tak Menyerah: Jejak Perlawanan yang tak Pernah Padam di Tanah Silungkang

Sebarkan artikel ini

Perlawanan itu terlihat dari adat istiadat yang tetap dijaga dan dijalankan, meski banyak hal berubah di sekelilingnya. Terlihat dari songket yang tetap ditenun dengan tangan yang sama, dengan motif dan makna yang tak luntur, bukti bahwa identitas budaya tak bisa diambil begitu saja.

Terlihat dari gotong royong yang tetap hidup, dari kebersamaan yang tak pernah pudar ketika salah satu warga sedang kesulitan. Terlihat dari keteguhan hati untuk tidak menyerah pada nasib, tetapi berusaha membangun masa depan dengan tangan sendiri.

Selama seratus tahun itu, rakyat Silungkang belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan senjata atau kekuasaan dari luar. Kekuatan sejati itu ada pada kesatuan hati, pada kesadaran bersama akan hak dan martabat, pada keyakinan bahwa tanah ini adalah milik mereka yang hidup di atasnya dan merawatnya dengan sepenuh hati.

Itulah sebabnya perlawanan itu tak pernah padam, karena ia bukan lahir dari kemarahan sesaat, melainkan tumbuh dari akar yang dalam: cinta pada tanah air dan warisan leluhur.

Baca Juga  Surau Tepi Air Resmi Bertransformasi jadi Masjid Tepi Air Silungkang, Perjalanan Panjang Berawal dari Pandemi Covid-19

Kini, seratus tahun akan berlalu. Bukit-bukit itu masih berdiri tegak, sungai-sungai itu masih mengalir jernih, dan semangat perlawanan itu pun masih hidup di jiwa generasi penerus. Namun pertanyaan yang penting untuk kita tanyakan bersama: apa makna besar kisah ini bagi kita hari ini?

Perjuangan masa lalu bukanlah sekadar kenangan untuk dibanggakan saja, ia adalah amanah yang harus kita lanjutkan. Bentuk perlawanannya memang sudah berubah. Kini kita tak lagi melawan penjajah dengan senjata di tangan.

Tetapi kita tetap harus berjuang: berjuang agar kemajuan dan pembangunan di tanah ini benar-benar membawa manfaat bagi rakyatnya sendiri, bukan hanya menguntungkan pihak asing.

Berjuang agar kekayaan alam dan keindahan Silungkang tidak diambil begitu saja tanpa meninggalkan apa-apa untuk anak cucu kelak. Berjuang agar adat istiadat, budaya dan jati diri kita tetap terjaga di tengah arus zaman yang semakin berubah dengan cepat.

Baca Juga  Komisaris BUMN: Kunci Pengawasan Strategis atau Beban Fiskal Negara?

Semangat “tak menyerah” itu kini harus kita wujudkan dalam kerja keras, dalam persatuan, dalam kemandirian. Kita harus mampu berdiri tegak di atas tanah sendiri, mampu mengelola potensi yang ada, mampu memajukan kehidupan tanpa harus kehilangan jati diri.

Itulah warisan terindah dari seratus tahun perjuangan leluhur: bahwa kita mampu menentukan nasib sendiri, asalkan kita bersatu dan tak pernah menyerah.

Seratus tahun akan berlalu sejak semangat perlawanan itu tumbuh dan berkobar di tanah Silungkang. Banyak hal telah berubah, wajah desa, kehidupan masyarakat, zaman yang terus berganti. Namun satu hal yang tak pernah berubah: keteguhan hati untuk tidak mudah menyerah, untuk tetap menjaga apa yang menjadi milik dan warisan leluhur, untuk tetap berdiri tegak dengan martabat.

UTAMA

PADANG, HALUAN—Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) sukses melepas dahaga para penonton lewat pertunjukan Catatan si Padang yang mulai mentas di Gedung Genta Budaya Padang, Sabtu (23/10) malam. Pertunjukan ini masih berlangsung pada Minggu dan Senin setelahnya, tapi tiket “cuma-cuma” yang tersedia sudah habis sejak hari pertama.