KABA RANAH

Studi Tiru ke Jogokariyan, Pengurus Masjid Al Hidayah Taratak Boncah bawa Semangat Memakmurkan Umat

×

Studi Tiru ke Jogokariyan, Pengurus Masjid Al Hidayah Taratak Boncah bawa Semangat Memakmurkan Umat

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Langkah awal memakmurkan Masjid Al Hidayah Desa Taratak Boncah, Kota Sawahlunto, mulai digerakkan. Belum genap satu bulan sejak diresmikan sebagai masjid wakaf dari mantan anggota DPR RI, Darul Siska, para pengurus langsung menimba ilmu ke salah satu masjid paling inspiratif di Indonesia, Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Kunjungan studi tiru itu diikuti Ketua Pengurus Masjid Al Hidayah Deki Nofikar, Sekretaris Aldi Tamsil, serta Ketua Ikatan Remaja Masjid (IRM) Afis Akmal. Ketiganya didampingi langsung oleh Kepala Desa Taratak Boncah, Arben.

Rombongan disambut hangat di aula Masjid Jogokariyan, sebelum diarahkan menuju Kantor Sekretariat Suffah oleh Ustad Galih, selaku perwakilan pengurus masjid.

Baca Juga  Pemerintah Desa Santur Serahkan BLT DD Tahun 2023

Ketua Pengurus Masjid Al Hidayah, Deki Nofikar, mengatakan kegiatan studi tiru tersebut menjadi langkah penting dalam membangun tata kelola masjid yang baik dan berorientasi pada kemakmuran jemaah.

“Melalui kegiatan studi tiru ini, mudah-mudahan para pengurus memiliki wawasan yang luas terkait tata kelola masjid sehingga Masjid Al Hidayah Desa Taratak Boncah bisa menjadi makmur,” ujarnya.

Menurut Deki, ada tiga indikator utama kemakmuran masjid, yakni banyaknya jamaah, kemampuan menyejahterakan umat, serta fungsi masjid sebagai pusat pencerahan masyarakat.

Baca Juga  Nagari Campago Laksanakan Safari Ramadan di Masjid Padang Data

“Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita semuanya agar mampu memakmurkan Masjid Al Hidayah,” katanya.

Pada kesempatan itu, Ustad Galih membagikan perjalanan panjang Masjid Jogokariyan dalam membangun dakwah hingga menjadi salah satu masjid percontohan nasional.

Ia menegaskan bahwa kemakmuran masjid tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari hidupnya jemaah dan aktivitas dakwah di dalamnya.

“Kata kuncinya ada satu pelopor yang bergerak dan membangun mindset para pengurus, baru kemudian merambah kepada jemaah masjid,” ujar Ustad Galih.