Tetapi karena tidak ada pilihan lain.
Di tanah yang jauh dari hiruk-pikuk pusat pemerintahan itu, gotong royong menjadi semacam “negara kecil” yang bekerja ketika bantuan belum kunjung datang.
Tanah Para Pejuang
Ironisnya, Paraman bukan tanah yang asing bagi sejarah perjuangan Republik Indonesia. Kawasan ini tercatat pernah menjadi salah satu basis posko perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Di tengah tekanan kolonial Belanda, kawasan pedalaman seperti Paraman memiliki nilai strategis sebagai tempat persembunyian sekaligus pertahanan.
Kolonel Dahlan Djambek disebut pernah menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu lokasi persembunyian strategis dalam perjuangan menghadapi Belanda.
Dulu, kawasan ini menjadi bagian dari ruang perjuangan mempertahankan republik. Hari ini, perjuangannya berubah.
Bukan lagi mengangkat senjata melawan kolonial. Warga berjuang melawan jalan rusak, keterisolasian, mahalnya transportasi, sulitnya internet, terbatasnya pendidikan dan lambannya pemulihan pascabencana.
Jika para pejuang dahulu mempertaruhkan nyawa agar republik tetap berdiri, maka generasi hari ini hanya meminta satu hal sederhana:
“Kemerdekaan di Sini Seperti Slogan”
Muhammad Yunus tidak menyembunyikan keprihatinannya. Menurutnya, kemerdekaan di Paraman masih terasa seperti slogan. Bertahun-tahun daerah tersebut seolah berjalan sendiri sebagai salah satu kawasan yang tertinggal di Kabupaten Agam.
“Jangan tinggalkan kami,” menjadi harapan yang ingin ia sampaikan kepada pemerintah.
Bukan meminta perlakuan istimewa. Hanya meminta pembangunan yang lebih adil. Sebab bagi Yunus, pembangunan tidak semestinya berhenti di kawasan yang mudah dijangkau kendaraan.
Negara justru harus hadir di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau. Di tempat jalan mendaki dan menurun. Di tempat internet harus dibeli per jam.
Di tempat anak-anak harus menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Dan di tempat petani harus mengangkut hasil panen melalui jalan yang membuat kendaraan harus berjuang sebelum sampai ke pasar.
Petani Menang, Tanah Kelahiran Harus Dibangkitkan
Datuak Marajo Dani, seorang petani setempat, menjadi bagian dari wajah kehidupan masyarakat Paraman.
Tanah adalah kehidupan bagi warga di kawasan itu. Sawah, ladang dan kebun bukan sekadar hamparan hijau. Di sanalah biaya sekolah anak dicari. Di sanalah kebutuhan keluarga dipenuhi. Di sanalah harapan tentang masa depan ditanam.
Tetapi tanah tidak akan cukup jika akses menuju tanah itu terus dibiarkan sulit. Petani bisa menang dalam mengolah lahan, tetapi mereka akan selalu kalah jika hasil pertanian sulit dibawa keluar.
Karena itu, pembangunan jalan dan akses transportasi menjadi kebutuhan mendesak. Bukan sekadar proyek fisik. Melainkan investasi untuk memastikan petani mendapatkan nilai yang lebih layak dari hasil kerja mereka.
81 Tahun Merdeka, Apa Arti Kemerdekaan?
Pada Agustus ini, Indonesia genap 81 tahun merdeka.Di berbagai kota, kemerdekaan akan dirayakan dengan semarak.
Tetapi di Paraman, mungkin perayaan terbesar justru ketika jalan menuju ladang suatu hari nanti bisa dilalui tanpa rasa takut.
Ketika hasil panen dapat dibawa ke pasar tanpa ongkos transportasi yang mencekik.Ketika anak-anak dapat belajar dengan akses internet yang layak. Ketika masyarakat tidak lagi harus membeli koneksi internet per jam. Ketika sawah yang dihantam galodo mendapat perhatian untuk dipulihkan.
Dan ketika seorang anak muda dari pelosok tidak lagi menjadi pengecualian hanya karena berhasil mencapai pendidikan magister.
Sebab kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada batas jalan yang sudah beraspal. Ia harus sampai ke pelosok. Sampai ke sawah. Sampai ke ladang. Sampai ke rumah-rumah warga.
Sampai ke tempat-tempat yang selama ini hanya dikenal sebagai daerah jauh.
Jembatan merah putih di Paraman mungkin baru sepanjang 20 meter.
Tetapi dari sana, negara seharusnya mulai membangun jembatan yang lebih panjang: jembatan antara janji kemerdekaan dan kenyataan kehidupan rakyat.
Delapan puluh satu tahun Republik Indonesia berdiri.Kini pertanyaannya sederhana. “Kapan denyut kemerdekaan itu benar-benar terasa di Paraman?,” (*).











