“81 Tahun Indonesia Merdeka, Warga di Nagari nan menyimpan jejak sejarah perjuangan Kolonel Dahlan Djambek era PDRI ini masih harus menaklukkan jalan terjal menuju ladang penghidupan”
AGAM, HARIANHALUAN.ID — Sebuah jembatan kecil dicat merah putih. Di atasnya terpampang kalimat yang seharusnya menenangkan hati: “Negara Hadir untuk Rakyat. Namun, bagi warga Nagari Sipinang, Jorong Paraman, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, kalimat itu masih terasa seperti sebuah pertanyaan.
Benarkah negara sudah hadir?
Sebab untuk sampai ke jembatan itu saja, warga harus lebih dulu menaklukkan sekitar 10 kilometer jalan dari Simpang Koto Laweh, Palupuah.
Jalan setapak itu membelah perbukitan. Mendaki, kemudian menurun ke lurah. Berliku di antara jurang-jurang curam. Aspal belum pernah menyentuh sebagian besar badan jalan. Hanya beberapa bagian yang telah dicor semen, itu pun tampak mulai dimakan usia.
Sepeda motor roda dua menjadi satu-satunya kendaraan yang paling mungkin digunakan warga. Itu pun bukan perjalanan yang bisa dilakukan sembarangan.
Motor harus dikendalikan dengan hati-hati ketika mendaki maupun menuruni tanjakan curam. Warga yang memiliki motor kopling relatif lebih leluasa menaklukkan medan. Sementara kendaraan biasa harus dipaksa bekerja keras.
Di kiri dan kanan, jurang menganga. Di situlah warga Paraman menjalani hari-hari mereka. Mereka bertani. Menanam padi di sawah, berkebun kayu manis, palawija dan berbagai tanaman lainnya. Ladang menjadi sumber kehidupan sekaligus tumpuan masa depan.

Tetapi membawa hasil tani keluar dari kawasan itu bukan perkara mudah.
Jalan yang sulit membuat biaya dan waktu pengangkutan membengkak. Hasil pertanian yang semestinya menjadi sumber kesejahteraan justru harus lebih dulu melewati medan yang membuat warga menguras tenaga.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia sebentar lagi memperingati 81 tahun kemerdekaannya. Bendera merah putih akan berkibar di berbagai sudut negeri.
Upacara digelar. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Pidato tentang pembangunan dan pemerataan akan disampaikan.
Tetapi di Paraman, denyut kemerdekaan itu belum sepenuhnya terasa.
Jembatan Merah Putih
Satu-satunya penanda paling nyata tentang kehadiran negara yang baru saja hadir di kawasan tersebut adalah sebuah jembatan. Terpampang di sebuah spanduk kalimat “Jembatan Perintis Garuda”
Panjang jembatan ber cat merah putih itu sekitar 20 meter. Lebarnya kurang lebih satu meter. Hanya kendaraan roda dua yang dapat melintas. Dibangun oleh personel TNI Kodim Lubuk Basung dan selesai sekitar sebulan sebelum digunakan masyarakat.
Jembatan tersebut kini menjadi akses penting warga menuju ladang dan kawasan pertanian.Bagi sebagian orang, ukurannya mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi warga Paraman, jembatan itu berarti lebih dari sekadar beton dan besi.
Ia adalah jalan menuju sawah. Jalan menuju kebun. Jalan menuju sumber penghidupan.

Dan sekaligus menjadi simbol bahwa setelah puluhan tahun menunggu, ada sedikit denyut kehadiran negara yang akhirnya sampai ke wilayah mereka.
Namun, jembatan saja tentu belum cukup. Warga membutuhkan jalan yang layak agar hasil pertanian dapat dibawa keluar dengan lebih mudah. Mereka membutuhkan jaringan telekomunikasi agar tidak terputus dari dunia luar. Mereka membutuhkan pendidikan yang memungkinkan anak-anak mereka memiliki pilihan masa depan lebih luas.

Sebab kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga seharusnya berarti kesempatan yang sama untuk hidup layak.
Listrik Baru Datang Beberapa Tahun Lalu
Listrik baru masuk ke kawasan ini kurang dari satu dekade lalu. Sementara internet hingga kini masih menjadi barang yang mahal dan sulit dijangkau.
Masyarakat yang membutuhkan akses internet bahkan harus mengandalkan layanan Starlink berbayar yang dijual melalui sejumlah warung.
Paketnya bukan dihitung berdasarkan kuota besar sebagaimana lazimnya di kawasan perkotaan.Di sini, internet bisa dibeli berdasarkan waktu.
Sekitar Rp3.000 untuk satu jam. Harga tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian masyarakat kota.
Tetapi di daerah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari pertanian, setiap rupiah tetap memiliki arti.
Keterisolasian itu turut memengaruhi kehidupan anak-anak muda. Menurut warga, tamatan SMA baru mulai lebih banyak muncul beberapa tahun belakangan. Lulusan sarjana masih jarang.
Muhammad Yunus, salah anak muda Paraman yang memilih pulang setelah bertahun-tahun meninggalkan Nagari itu. Dan kini yang ia temukan adalah kampung halaman yang masih berjuang mendapatkan sesuatu yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi kebutuhan dasar. Yaitu Akses.

Persoalan Paraman bukan sekadar jarak.
Yang lebih berat adalah rasa tertinggal.
Masyarakat di kawasan ini bahkan lebih sering berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Bukittinggi atau Palupuah dibandingkan ke Matur, meskipun secara administratif mereka berada di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Jarak administratif tidak selalu berarti kedekatan akses. Begitu pula pembangunan. Sebuah daerah bisa berada dalam wilayah pemerintahan yang sama, tetapi merasakan kehadiran pembangunan dengan kadar yang berbeda.
Di Paraman, ketimpangan itu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Jalan menjadi persoalan. Transportasi menjadi persoalan. Internet menjadi persoalan. Pendidikan menjadi persoalan.
Bahkan ketika bencana datang, masyarakat masih harus berjuang sendiri.
Galodo Datang, Warga Bangkit Sendiri
Pada akhir November 2025, banjir galodo menerjang kawasan yang dialiri Batang Masang. Sejumlah hektare sawah masyarakat terendam.
Material bencana menimbun lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga. Setelah air surut, persoalan belum selesai.
Sawah yang tertimbun material harus kembali dibersihkan. Lahan harus dipulihkan. Petani harus kembali menanam.
Tetapi program pemulihan dan rehabilitasi-rekonstruksi yang diharapkan masyarakat belum banyak dirasakan denyutnya.
Maka warga kembali mengandalkan kekuatan yang sejak lama menjadi modal utama mereka yaitu gotong royong dan kekeluargaan.
Mereka turun bersama-sama membersihkan material galodo.Mereka kembali mengolah lahan. Mereka menanam. Mereka mencoba bangkit. Bukan karena keadaan mudah.












