TANAH DATAR

UPERTIS Perkuat Deteksi Dini Hiperurisemia pada Masyarakat Sungai Tarab

×

UPERTIS Perkuat Deteksi Dini Hiperurisemia pada Masyarakat Sungai Tarab

Sebarkan artikel ini

TANAH DATAR, HARIANHALUAN.ID — Tim dosen dan mahasiswa Universitas Perintis Indonesia (UPERTIS), khususnya Program Studi Teknologi Laboratorium Medik (TLM), melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar.

Kegiatan yang mengangkat tema Pelayanan Pemeriksaan Kadar Asam Urat dan Edukasi Risiko Hiperurisemia pada Pasien Tuberkulosis di Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar tersebut menjadi upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini gangguan kadar asam urat.

Tim PkM terdiri dari empat dosen, yakni Dra. Suraini, M.Si., Rita Permatasari, A.Md.Kes., S.S.T., M.Biotek., Renowati, M.Biomed., dan Anggun Sophia, M.Pd. Sementara itu, kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa, Orin Aulia Abrar dan Teigguh Putra Andiria.

Ketua tim menjelaskan, tuberkulosis (TB) paru masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian. Selain risiko penularan dan tantangan dalam menjalani pengobatan, pasien TB juga dapat mengalami efek samping dari obat antituberkulosis, salah satunya peningkatan kadar asam urat atau hiperurisemia.

Penggunaan obat antituberkulosis tertentu, seperti Pirazinamid, diketahui dapat menghambat ekskresi asam urat melalui ginjal sehingga kadar asam urat dalam darah dapat meningkat.

“Kondisi hiperurisemia yang tidak terdeteksi dapat menimbulkan keluhan, seperti nyeri pada persendian. Jika tidak ditangani dengan baik, keluhan tersebut berpotensi memengaruhi kenyamanan dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TB,” jelasnya.

Baca Juga  Lulus Kuliah di Cina, 8 Calon Mahasiswa Tanah Datar Minta Bantuan Bupati Eka Putra

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pemeriksaan kadar asam urat menggunakan metode point of care testing (POCT). Pemeriksaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian edukasi kesehatan melalui metode ceramah, diskusi, serta pembagian leaflet.

Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta, tim juga melakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Edukasi diarahkan pada pemahaman mengenai hiperurisemia, faktor risiko, pentingnya deteksi dini, serta penerapan pola hidup sehat.

Dari kegiatan tersebut, sebanyak 59 orang masyarakat mengikuti pemeriksaan dan edukasi. Berdasarkan kelompok umur, peserta terbanyak berada pada rentang usia >20–45 tahun dengan persentase 46 persen. Sementara berdasarkan jenis kelamin, peserta perempuan berjumlah 51 persen dan laki-laki 49 persen.

Hasil pemeriksaan menunjukkan, sebanyak 38 orang atau 64,4 persen memiliki kadar asam urat normal. Kemudian, 20 orang atau 33,9 persen ditemukan memiliki kadar asam urat tinggi, sedangkan satu orang atau 1,7 persen memiliki kadar asam urat rendah.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, kadar asam urat tinggi ditemukan pada enam dari 29 responden laki-laki atau 20,7 persen. Sedangkan pada perempuan, terdapat 14 dari 30 responden atau 46,7 persen yang memiliki kadar asam urat tinggi.

Berdasarkan distribusi umur, pada peserta laki-laki dengan kadar asam urat tinggi, jumlah terbanyak berada pada kelompok usia >20–45 tahun, yakni empat dari enam orang atau 66,7 persen. Sementara pada peserta perempuan, jumlah terbanyak ditemukan pada kelompok usia >45–60 tahun, yakni delapan dari 14 orang atau 57,14 persen.

Baca Juga  LKAAM Tanah Datar Deklarasi Maraknya Penyakit Masyarakat

Temuan tersebut menunjukkan masih terdapat sekitar sepertiga peserta yang diperiksa memiliki kadar asam urat tinggi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala disertai edukasi mengenai faktor risiko hiperurisemia dan penerapan pola hidup sehat.

Meski demikian, tim menegaskan hasil kegiatan tersebut belum dapat menggambarkan kejadian hiperurisemia secara khusus pada pasien tuberkulosis. Hal itu karena peserta yang terjaring dalam kegiatan merupakan masyarakat umum dan tidak dikelompokkan berdasarkan status TB maupun penggunaan obat antituberkulosis.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini. Edukasi yang diberikan juga diharapkan mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat serta lebih memahami risiko peningkatan kadar asam urat,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, UPERTIS berharap sinergi antara pelayanan pemeriksaan kesehatan dan edukasi masyarakat dapat terus diperkuat. Upaya promotif dan preventif tersebut diharapkan turut mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat serta keberhasilan program pengendalian tuberkulosis di tingkat masyarakat. (*)