DHARMASRAYA, HARIANHALUAN.ID – Sejarah pendidikan Islam di Kabupaten Dharmasraya tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Dari gerakan pendidikan tersebut, lahir lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi pintu bagi masyarakat untuk mendapatkan ilmu agama dan pendidikan formal.
Salah satu jejak pentingnya berada di Pulau Punjung, melalui Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Pondok Pesantren Pembangunan Pulau Punjung.
Ketua Pemuda PERTI Dharmasraya, Al-Ustadz H. Rahmat Hidayat, mengingatkan agar sejarah tersebut tidak dilupakan oleh generasi sekarang.
Menurutnya, keberadaan lembaga pendidikan yang dirintis PERTI pada masa lalu memiliki kontribusi besar dalam membuka akses pendidikan bagi masyarakat Dharmasraya, ketika kesempatan memperoleh pendidikan belum semudah saat ini.
“Jangan lupa dengan sejarah dan juga jangan terpaku dengan sejarah sehingga membuat kita lalai,” kata Rahmat.
Bagi Rahmat, dua hal tersebut harus berjalan beriringan. Sejarah harus menjadi pijakan untuk mengetahui dari mana sebuah gerakan pendidikan berasal, tetapi generasi sekarang juga dituntut meneruskan perjuangan tersebut sesuai tantangan zaman.
Dari MTI, PGA hingga Pondok Pesantren
Jejak pendidikan Islam di Pulau Punjung itu bermula dari keberadaan MTI yang kemudian mengalami transformasi mengikuti perkembangan kebutuhan pendidikan masyarakat.
Dalam perjalanannya, lembaga tersebut berkembang menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA) sebelum kemudian memasuki era modern sebagai Pondok Pesantren Pembangunan Pulau Punjung.
Perubahan bentuk tersebut menjadi bagian dari dinamika panjang pendidikan Islam di daerah.
Di balik perjalanan tersebut terdapat sosok Hj. Rawiyana R, yang dikenal sebagai salah satu tokoh yang merintis lembaga pendidikan tersebut sejak masa MTI, kemudian PGA hingga berkembang menjadi pondok pesantren.
Apa yang dibangun pada masa itu bukan sekadar sebuah institusi pendidikan.
Kehadirannya menjadi jawaban atas keterbatasan akses pendidikan yang dirasakan masyarakat.
Saat pendidikan belum berkembang luas, lembaga seperti MTI menjadi tempat masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus pendidikan keagamaan.
“PERTI hadir memenuhi kebutuhan pendidikan, tapi tidak berpolitik kala itu,” ujar Rahmat.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana gerakan PERTI pada masa awal lebih banyak mengambil ruang dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan.
Melahirkan Guru hingga Aparatur Pemerintahan
Kontribusi lembaga pendidikan tersebut kemudian terlihat dari generasi yang dilahirkannya.
Para lulusan tidak hanya kembali ke tengah masyarakat sebagai orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mengisi berbagai bidang profesi.
Sebagian menjadi guru. Sebagian dipercaya menjadi kepala sekolah. Sebagian lainnya kemudian masuk dalam pemerintahan.
Pada masa itu, ketika Dharmasraya masih menjadi bagian dari Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, alumni lembaga pendidikan tersebut turut mengambil bagian dalam kehidupan pemerintahan dan pembangunan daerah.
Jejak tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan yang dibangun melalui tradisi PERTI memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar proses belajar mengajar.












