Pendidikan menjadi jalan mobilitas sosial.Dari ruang kelas, lahir guru. Dari madrasah, lahir kepala sekolah. Dari lembaga pendidikan Islam, lahir pula sumber daya manusia yang kemudian ikut menjalankan roda pemerintahan.
PERTI dalam Kultur Pendidikan Minangkabau
Rahmat juga menempatkan perjalanan pendidikan PERTI dalam konteks kultur masyarakat Minangkabau.
PERTI bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi pendidikan Islam yang panjang.
Sebelum sekolah modern berkembang, surau telah menjadi salah satu ruang penting untuk belajar agama dan membentuk karakter masyarakat.
Tradisi tersebut kemudian berkembang dalam berbagai bentuk lembaga pendidikan Islam, termasuk madrasah.
Dalam konteks itulah PERTI mengambil peran.
Gerakan pendidikan tersebut menjadi bagian dari masyarakat dan tumbuh untuk menjawab kebutuhan umat.
Karena itu, menurut Rahmat, sejarah PERTI di Dharmasraya tidak boleh hanya dilihat sebagai sejarah organisasi.
Lebih jauh, ia merupakan bagian dari sejarah masyarakat dalam membangun pendidikan secara mandiri.
Jangan Terjebak Romantisme Masa Lalu
Meski menekankan pentingnya sejarah, Rahmat mengingatkan agar generasi sekarang tidak berhenti pada romantisme masa lalu.
Sejarah, kata dia, harus menjadi bekal untuk menghadapi masa depan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat.
Jika generasi terdahulu berjuang membuka akses pendidikan ketika sekolah masih terbatas, generasi sekarang menghadapi tantangan berbeda.
Teknologi, digitalisasi, perubahan sosial dan tuntutan kompetensi membuat lembaga pendidikan harus terus beradaptasi.
Karena itu, warisan PERTI harus diteruskan dalam bentuk yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Jangan lupa dengan sejarah, tetapi jangan terpaku dengan sejarah sehingga membuat kita lalai,” tegas Rahmat.
Warisan Pendidikan yang Masih Hidup
Jejak historis MTI Pondok Pesantren Pembangunan Pulau Punjung menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Dharmasraya memiliki sejarah panjang.
MTI menjadi bagian awal perjalanan.PGA menjadi fase transformasi. Dan Pondok Pesantren Pembangunan Pulau Punjung menjadi bentuk keberlanjutan pendidikan Islam di era yang terus berubah.
Di sepanjang perjalanan itu, ada guru yang mengabdi, ada santri yang belajar dan ada alumni yang kemudian kembali mengambil peran di tengah masyarakat.
Warisan terbesar dari perjalanan tersebut bukan hanya bangunan atau nama lembaga. Melainkan generasi yang pernah ditempa di dalamnya. Itulah sebabnya, bagi Rahmat, sejarah pendidikan PERTI perlu terus diceritakan.
Bukan untuk membanggakan masa lalu semata.Melainkan agar generasi hari ini memahami bahwa pendidikan yang mereka nikmati sekarang dibangun melalui perjuangan panjang generasi sebelumnya.
Dan dari jejak itulah, pendidikan Islam di Dharmasraya diharapkan terus bergerak maju—tanpa kehilangan akar sejarah dan kultur masyarakat yang melahirkannya. (*).












