HEADLINE

Zamrisyaf SY : Empat Dekade Menanti Kehadiran Negara

×

Zamrisyaf SY : Empat Dekade Menanti Kehadiran Negara

Sebarkan artikel ini
Zamrisyaf SY, menyerahkan buku kajian teknologi pemanfaatan gelombang samudra karyanya kepada Senator DPD RI asal Sumbar, Muslim M. Yatim. FAUZI

Di sudut Nagari Sitalang, Kabupaten Agam, seorang pemuda pernah dicap “urang boco“. Dalam bahasa Minang, sebutan itu bukan pujian. Ia dianggap terlalu banyak bermimpi. Terlalu jauh memandang masa depan. Namanya Zamrisyaf SY.

Empat puluh tahun silam, ketika listrik masih menjadi barang mewah di banyak pelosok Sumatera Barat (Sumbar), ia justru sibuk membayangkan bagaimana angin, air, dan gelombang laut bisa menjadi sumber energi bagi masyarakat.

Mimpi itu sempat menjadi berita. Harian Haluan pada awal dekade 1980-an menuliskan kisah pemuda asal Nagari Sitalang, Kabupaten Agam, yang memilih pulang kampung, menolak menyerah pada keterbatasan, dan bereksperimen dengan teknologi sederhana. Di tengah cibiran, ia tetap bekerja.

Hari ini, usia Zamrisyaf tak lagi muda. Rambutnya mulai memutih. Namun satu hal tak berubah. Mimpinya belum padam.

Jauh sebelum isu energi baru terbarukan menjadi agenda nasional, Zamrisyaf sudah berkutat dengan energi alternatif. Pada era Gubernur Hasan Basri Durin, ia dikenal sebagai salah seorang pionir pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang memanfaatkan kincir sederhana. Baginya, energi bukan sekadar listrik, melainkan alat untuk mengangkat martabat masyarakat di daerah terpencil.

Ia percaya, teknologi tidak selalu harus mahal. Yang dibutuhkan adalah keberanian mencoba. Semangat itulah yang terus ia bawa hingga kini. Jika dahulu air sungai menjadi perhatian, kini pandangannya tertuju ke laut.

Menurutnya, garis pantai Sumbar menyimpan potensi besar energi gelombang yang belum banyak disentuh riset maupun investasi. “Kalau negara-negara lain bisa memanfaatkan gelombang laut sebagai sumber energi, mengapa kita tidak?” begitu kira-kira gagasan yang terus ia suarakan.

Kenyang Janji

Perjalanan panjang itu tentu tidak mudah.Puluhan tahun menggeluti dunia energi membuat Zamrisyaf mengaku telah kenyang mendengar janji-janji manis. Politisi datang silih berganti. Kepala daerah berganti periode. Banyak yang memuji idenya. Tidak sedikit yang berfoto bersama. Sebagian menjanjikan dukungan. Namun ketika proposal selesai dipresentasikan dan lampu ruangan dipadamkan, yang tersisa hanyalah tumpukan dokumen dan harapan yang kembali tertunda.

Baginya, riset di Indonesia sering berhenti di meja seminar. Teknologi lahir sebagai laporan akademik, tetapi jarang benar-benar sampai kepada masyarakat.

Baca Juga  Agung Adhitya Lingga  Pimpin GAPEMBI Sumbar

Padahal, energi terbarukan membutuhkan keberanian untuk melangkah dari laboratorium menuju lapangan.

Mendirikan METI Sumbar

Kini Zamrisyaf memilih jalan lain. Ia menjadi salah satu penggagas berdirinya Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat. Baginya, perjuangan energi bersih tidak bisa lagi dilakukan seorang diri.

Harus ada kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, peneliti, dan masyarakat. METI Sumbar diharapkan menjadi rumah bagi berbagai gagasan energi terbarukan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Karena masa depan energi tidak cukup dibangun dengan pidato. Ia harus dibangun dengan riset, keberanian, dan keberpihakan.

Di tengah perjalanan panjang itu, Zamrisyaf kini menaruh harapan kepada Anggota DPD RI asal Sumatera Barat, Muslim M. Yatim. Harapannya sederhana. Bukan proyek besar. Bukan pula seremoni.

Ia berharap ada jalan keluar bagi minimnya anggaran riset untuk pengembangan energi baru terbarukan berbasis gelombang laut.

Menurutnya, perguruan tinggi di Sumbar sebenarnya memiliki sumber daya manusia yang memadai. Namun, dana penelitian yang tersedia masih sangat terbatas dan belum cukup menghasilkan teknologi yang siap diterapkan.

“Bantulah membuka jalan. Minimal melalui dana riset yang ada di universitas-universitas di Sumbar. Selama ini ada penelitian, tetapi dampaknya terhadap pengembangan teknologi masih sangat minim,” ujarnya.

Baginya, dukungan negara terhadap inovasi bukanlah biaya, melainkan investasi jangka panjang.

Empat puluh tahun lalu, seorang pemuda dari Sitalang pernah dianggap terlalu banyak bermimpi. Hari ini, usia memang telah mengurangi tenaganya. Namun keyakinannya tetap sama.

Indonesia tidak akan pernah benar-benar mandiri energi jika hanya menjadi konsumen teknologi. Negeri ini harus melahirkan penemu, memberi ruang kepada para periset, dan menghargai orang-orang yang sejak muda memilih berjalan di jalan sunyi inovasi.

Di rumahnya, mungkin tak banyak yang berubah. Tetapi di kepalanya, gelombang laut masih terus bergerak. Dan bersama setiap gelombang itu, Zamrisyaf masih menyimpan satu harapan: suatu hari nanti, listrik dari laut bukan lagi sekadar mimpi seorang anak kampung yang dulu dijuluki urang boco, melainkan kenyataan yang menerangi negeri.

Baca Juga  Bupati Dharmasraya Minta Semua Unsur Terkait Operasi Ketupat untuk Berikan Kenyamanan Masyarakat Rayakan Lebaran

Harapan Zamrisyaf kini tertuju kepada Anggota DPD RI asal Sumbar, Muslim M. Yatim. Menurutnya, Indonesia membutuhkan keberpihakan yang lebih nyata terhadap para inovator daerah yang selama ini bekerja dalam keterbatasan.

Bagi Zamrisyaf, riset energi baru terbarukan tidak boleh berhenti pada seminar, diskusi, atau publikasi ilmiah. Hasil penelitian harus bertemu dengan kebijakan dan dukungan anggaran, sehingga mampu melahirkan teknologi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Di sisi lain, Muslim M. Yatim memandang sosok Zamrisyaf sebagai aset bangsa yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, pengalaman panjang yang dimiliki putra Sitalang itu merupakan modal berharga dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

“Tokoh seperti Pak Zamrisyaf sudah membuktikan dedikasinya sejak puluhan tahun lalu. Beliau pernah menerima penghargaan Kalpataru, memiliki dua lisensi hak paten di bidang teknologi pengembangan energi gelombang laut, dan terus konsisten berkarya meski dengan berbagai keterbatasan. Orang-orang seperti ini semestinya mendapat ruang dan dukungan untuk terus berkarya bagi bangsa,” ujar Muslim M. Yatim.

Ia juga menilai perguruan tinggi, pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga dunia industri perlu membangun kolaborasi agar hasil-hasil riset tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi berkembang menjadi teknologi yang dapat diterapkan.

“Potensi energi laut Indonesia sangat besar. Sumbar memiliki garis pantai yang panjang dan karakter gelombang yang layak diteliti. Saya berharap ada sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan para inovator seperti Pak Zamrisyaf sehingga gagasan ini dapat diwujudkan menjadi program nyata,” katanya.

Bagi Zamrisyaf, dukungan seperti itulah yang selama puluhan tahun ia nantikan. Bukan sekadar tepuk tangan atau pujian, melainkan keberanian negara untuk mempercayai putra-putra daerah yang memilih menempuh jalan sunyi inovasi.

Empat dekade telah berlalu sejak ia dicap urang boco. Namun hari ini, julukan itu justru menjadi pengingat bahwa setiap lompatan besar selalu bermula dari mimpi yang sering kali dianggap mustahil. (*)