SUMBARKAB. SOLOKKAMPUS

Realisasikan PISA Kemdiktisaintek 2026, Menghidupkan Kembali Spirit Silek Harimau Gagoan dalam Koreografi Kontemporer

×

Realisasikan PISA Kemdiktisaintek 2026, Menghidupkan Kembali Spirit Silek Harimau Gagoan dalam Koreografi Kontemporer

Sebarkan artikel ini

SOLOK, HARIANHALUAN.ID – Di tengah arus globalisasi yang terus mengubah wajah kebudayaan Indonesia, seni tradisi menghadapi berbagai tantangan, seperti berkurangnya regenerasi, minimnya inovasi artistik, lemahnya tata kelola komunitas, serta kurangnya dokumentasi.

Kondisi ini juga dialami Sanggar Silek Tuo Harimau Gagoan di Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok. Sanggar yang berdiri sejak 1993 ini memiliki kekayaan filosofi, teknik, dan nilai budaya Minangkabau, namun menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman.

Sebagai upaya menjawab persoalan tersebut, Kemdiktisaintek melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISA) Tahun 2026 mendukung pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penerapan Model Koreografi Kontemporer pada Sanggar Silek Tuo Harimau Gagoan Nagari Paninggahan”.

Kurniadi Ilham, selaku ketua pengabdian melakukan pengabdian ini bersama Basyarul Aziz dan Nurmalena, serta melibatkan mahasiswa Program Studi Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

“Kegiatan berlangsung pada 3, 4, 10, dan 11 Juli 2026 lalu ini sebagai bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan model pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan seni pertunjukan,” katanya.

Kegiatan ini, lanjutnya, diawali dengan sosialisasi kepada pengurus sanggar, pelatih, tokoh masyarakat, dan anggota sanggar. Selain menjelaskan tujuan dan tahapan program, kegiatan ini menjadi ruang diskusi mengenai tantangan regenerasi, pengelolaan sanggar, serta harapan masyarakat terhadap keberlanjutan Silek Tuo Harimau Gagoan sebagai identitas budaya Nagari Paninggahan.

“Kami juga mengikuti pengenalan nilai-nilai dasar silek yang dipandu oleh pembina sanggar, Angku Reno. Ia menjelaskan bahwa belajar silek tidak hanya bertujuan menguasai teknik bela diri, tetapi juga membentuk karakter, adab, dan kesadaran spiritual,” ujarnya.

Baca Juga  Dani Sopian Semprot Manajemen PKS Kemilau: Jangan Bohong Kepada Kami!

Filosofi silek mengajarkan penghormatan kepada orang tua, menjaga nama baik nagari, mengendalikan kesombongan, serta menghargai perbedaan melalui falsafah lain padang lain bilalang, lain lubuak lain ikannyo. Setelahnya mereka pun mengikuti prosesi adat penyambutan anggota baru menggunakan tanaman lokal sebagai simbol penyucian diri, ketulusan niat, dan penghormatan terhadap alam.

Pada 4 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan olah tubuh, body awareness, eksplorasi gerak, improvisasi, dan penyusunan komposisi tari berdasarkan pendekatan Alma M. Hawkins. Mahasiswa ISI Padangpanjang dan anggota sanggar saling bertukar pengetahuan.

“Pesilat memperkenalkan filosofi gerak dasar Silek Tuo, sementara tim pengabdian mengembangkan gerak tersebut menjadi bahasa koreografi kontemporer tanpa menghilangkan identitas budaya Minangkabau. Gerak-gerak seperti langkah ampek, langkah delapan, elak, sasak, dan serak jalo dipahami terlebih dahulu nilai filosofisnya sebelum dikembangkan menjadi materi artistik baru,” jelas Kurniadi Ilham.

Lalu pada 10 Juli 2026, program memasuki tahap penguatan kelembagaan melalui penyerahan tiga dokumen utama kepada sanggar, yaitu Buku SOP dan Model Pelatihan Sanggar, Pedoman Program Tahunan Festival Silaturahmi dan Apresiasi Seni, serta Buku Kurikulum dan Model Latihan Rutin Sanggar. Tim juga memberikan pendampingan mengenai dokumentasi digital, pemanfaatan media sosial, penyusunan struktur organisasi, dan penguatan identitas sanggar untuk mendukung regenerasi.

Rangkaian kegiatan ditutup pada 11 Juli 2026 dengan agenda latihan gabungan antara mahasiswa dan anggota sanggar sebagai implementasi seluruh materi yang telah dipelajari. Proses ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menghasilkan transfer pengetahuan, tetapi juga melahirkan kolaborasi kreatif yang mempertemukan tradisi dengan pendekatan koreografi kontemporer.

Baca Juga  Keandalan Listrik Tugas Bersama, Polda Sumbar Dukung Penegakan Hukum dan Pengawasan Aset PLN

Menurut Angku Reno selaku pembina sanggar, menjelaskan nilai utama dalam silek bukanlah kemampuan mengalahkan lawan, melainkan kemampuan mengalahkan diri sendiri. Setiap gerakan lahir dari cara masyarakat membaca kehidupan dan menghormati alam.

“Sehingga pembelajaran silek harus selalu disertai pemahaman terhadap nilai budaya yang melatarbelakanginya,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep etnokoreografi Sal Murgiyanto yang memandang tari sebagai produk budaya yang tidak terpisahkan dari sistem sosial, adat, dan lingkungan masyarakat. Perspektif ini diperkaya oleh konsep deep ecology Arne Naess dan pemikiran Thomas Berry yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam yang memiliki dimensi spiritual.

Dalam konteks Silek Tuo Harimau Gagoan, hubungan tersebut tampak pada inspirasi gerak yang berasal dari perilaku harimau, penggunaan tumbuhan lokal dalam tradisi, serta penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan dan inspirasi artistik.

Program PISA Kemdiktisaintek Tahun 2026 ini membuktikan bahwa inovasi seni tidak berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, inovasi lahir dari pemahaman mendalam terhadap nilai budaya yang diterjemahkan sesuai kebutuhan zaman. Program ini menghasilkan peningkatan kapasitas anggota sanggar dalam bidang koreografi, tersusunnya model pelatihan, SOP, kurikulum, program kerja tahunan, serta materi gerak baru berbasis Silek Tuo Harimau Gagoan.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah nagari, dan pelaku budaya, pengabdian ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi, menjadikan tradisi sebagai sumber kreativitas dan inspirasi bagi masa depan seni pertunjukan Indonesia. (Kurniadi Ilham, Basyarul Aziz, Nurmalela)