HEADLINE

Diduga Bantuan Bencana Tanah Bergerak Koto Tinggi Tak Tepat Sasaran

×

Diduga Bantuan Bencana Tanah Bergerak Koto Tinggi Tak Tepat Sasaran

Sebarkan artikel ini

LIMA PULUH KITA, HARIANHALUAN.ID — Sejumlah warga yang merupakan korban dampak bencana tanah bergerak di Jorong Aia Angek, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh merasa kecewa.

Pasalnya, masih ada warga yang terdampak bencana seharus mendapatkan bantuan dari pemerintah malahan sama sekali tidak terdata untuk penerima bantuan tersebut.

Hal itu utarakan oleh Plt Kepala Jorong Aia Angek, niniak mamak serta sejumlah warga terdampak lainnya pada Rabu (1/4) siang di Payakumbuh.

Menurut Plt Kepala Jorong Fadil mengatakan, warga meragukan sejumlah penerima bantuan bencana sehingga terjadi pro kontra pada masyarakat setempat.

“Data tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ada yang seharusnya mendapatkan bantuan tetapi sama sekali tidak terdata. Seperti pada bantuan rumah hunian tetap dan bantuan stimulan,” ujarnya.

Untuk bantuan rumah hunian tetap sebanyak 60 unit, ada penerima yang seharusnya tidak layak mendapatkannya. Tetapi karena ada kedekatan dengan perangkat nagari sehingga dimasukkan sebagai penerima bantuan.

“Penerima rumah hunian ini ada yang keluarga dari badan musyawarah nagari, keluarga dari Ketua Kerapan Adat Nagari serta keluarga dari kepala jorong sebelumnya dengan kondisi rumah mereka tidak rusak. Ada juga penerima bantuan selama ini bukan berdomisili di Jorong Aia Angek,” katanya lagi.

Baca Juga  Guru SDN 05 Pauh Lubuk Sikaping Wakili Sumbar ke Tiongkok, Ghenny Aosi Jadi Satu-satunya Guru dari Pasaman yang Lulus Seleksi Nasional

Berdasarkan datanya, ada sekitar 4 penerima bantuan hunian tetap tersebut yang tidak layak sebagai penerima. Sedangkan masih ada sekitar belasan kepala keluarga lainnya yang berhak sebagai penerima bantuan hunian tersebut dengan kondisi rumah mereka memang rusak.

Begitupun terhadap penerima bantuan stimulan senilai Rp8 juta, juga dinilai tidak tepat sasaran. Ada penerima bantuan yang merupakan perantau di Riau dan bukan berdomisili di kawasan bencana tanah bergerak.

“Ada 150 KK penerima bantuan stimulan ini tetap ada beberapa KK yang tidak berhak sebagai penerima,” ujarnya lagi.

Dari data Plt Kepala Jorong Aia Angek itu, seharusnya ada sebanyak 226 KK yang terdampak bencana tetapi yang terdata sebagai penerima bantuan hanya sebanyak 150 KK saja.

Salah satu warga terdampak Novita Hermon mengatakan, dirinya merupakan penerima bantuan hunian tetap tetapi tidak masuk sebagai penerima bantuan stimulan senilai Rp8 juta.

“Ada 4 KK yang senasib dengan saya. Kami penerima hunian tetapi tidak terima bantuan stimulan isian rumah dan ekonomi. Meski demikian saya tetap menetap dirumah bantuan. Ada juga beberapa rumah yang tidak ditempati,” katanya.

Baca Juga  Supreme Energy Dorong Kemajuan Ekonomi Masyarakat di Solok Selatan  

Warga terdampak lainnya seperti Irwan, Safri, Iket dan Ismail sekelompok nama dari puluhan warga terdampak lainnya yang tidak menerima bantuan apapun dari pemerintah.

“Kami warga terdampak bencana tapi tidak terdata sebagai penerima bantuan. Kami setiap hari beraktifitas dan hidup di daerah kawasan bencana tetapi bantuan tidak pernah mengalir,” ujarnya.

Sedangkan, salah satu niniak mamak Aia Angek Desfariko Datuak Bandaro heran dengan pendataan penerima bantuan bencana. “Entah bagaimana bantuan bisa salah sasaran. Ada yang seharusnya mendapatkan bantuan tetapi tidak terdata. Bagaimana kok bisa begini,” katanya.

Sementara Bupati Limapuluh Kota Safni yang dihubungi mengakui, sudah mendata penerima bantuan secara teliti sehingga tidak terjadi kesalahan data atau salah sasaran.

“Untuk penerima bantuan dilakukan pendataan bersama antar lintas instansi. Semua OPD terlibat supaya tidak terjadi kesalahan saat pendataan. Saya pun berharap semua masyarakat mendapatkan bantuan,” katanya.

Untuk Jorong Aia Angek, kata bupati, merupakan kawasan zona merah untuk tanah bergerak. Jorong tersebut memang tidak layak untuk dihuni dan harus ditinggalkan. (h/ddg)