OPINI

Sengkarut Tata Kelola BGN, Prioritas Gizi, Teknologi Atau Korupsi?

×

Sengkarut Tata Kelola BGN, Prioritas Gizi, Teknologi Atau Korupsi?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Alfaiz Rayhan Azhim

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Indonesia saat ini memiliki Program unggulan ambisius, Makan Bergizi Gratis. Program ini dirancang untuk satu tujuan mulia yaitu: menyelamatkan jutaan anak Indonesia dari cengkeraman stunting dan malnutrisi. Ini adalah janji masa depan yang lebih sehat. 

Namun, perkembangan terkini di Badan Gizi Nasional (BGN) telah membuktikan bahwa bahkan program kesejahteraan sosial yang paling bermaksud baik pun tidak kebal terhadap hantu lama birokrasi Indonesia yaitu korupsi dan tata kelola yang buruk.

Kejaksaan Agung (Kejagung) baru-baru ini menggemparkan publik dengan menyebut mantan kepala BGN Dadan Hindayana dan pejabat tinggi lainnya sebagai tersangka dalam kasus penggelembungan harga besar-besaran.

Inti dari skandal ini adalah pengadaan 21.801 sepeda motor listrik, yang dimaksudkan untuk memfasilitasi distribusi makanan di daerah-daerah terpencil. Selain motor listrik beberapa pengadaan barang juga tidak luput dari kerakusan manusia dalam lembaga ini.

Pengadaan motor ini diklaim sebagai penghematan, karena mendapatkannya dibawah harga pasar tutur mantan kepala BGN Dadan Hindayana pada awal April 2026 kepada media. 

Apa yang dulunya dipertahankan sebagai strategi hemat biaya untuk meningkatkan mobilitas pedesaan kini telah terurai menjadi penyelidikan korupsi yang mengejutkan senilai Rp 1 triliun, dengan satuan harga dilaporkan digembungkan hingga mencapai angka yang tidak masuk akal, yaitu Rp 42 juta.

Baca Juga  Mengapa Masyarakat Perlu Memahami Politik?

Misi Mulia yang Dibajak oleh Tata Kelola yang Buruk

Skandal ini menyoroti kelemahan mendasar dalam pelaksanaan proyek-proyek negara berskala besar. Ketika pemerintah memperkenalkan sepeda listrik ke dalam program nutrisi, narasi awalnya sangat dipoles dan dibingkai sebagai perpaduan cerdas antara distribusi logistik yang seha dan energi hijau.

Kenyataan lapangan menceritakan kisah yang sangat berbeda. Sementara pusat-pusat nutrisi lokal berjuang untuk mendapatkan bahan-bahan segar dan rantai pasokan yang bersih. 

Hal yang juga berpengaruh kepada naiknya harga kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia. Ketika permasalahan itu berpengaruh kepada hajat hidup orang banyak, sangat disayangkan jika para pemimpin lembaga itu acuh. 

Kepemimpinan lembaga tersebut sibuk menyetujui kontrak-kontrak yang sangat mahal untuk sepeda listrik, laptop, dan televisi 75 inci.

Ironi Pahit Dibalik Tujuan Mulia

Sebuah program Badan Gizi Nasional yang dirancang untuk menghitung kalori dan nutrisi bagi anak-anak yang kelaparan akhirnya salah menghitung anggaran pengadaannya sendiri hingga ratusan miliar rupiah. 

Baca Juga  Distorsi Fungsi Pertahanan

Ironi ketika melakukan tindakan korupsi di Lembaga Negara yang memiliki tujuan mulia. Apalagi tindakan ini menyinggung masalah anggaran pengadaan barang yang di kotruosi di Badan Gizi Nasional merupakan tindakan praktik haram ini di tempat yang salah. 

Mobilitas di daerah pedesaan tidak dapat disangkal penting, tetapi mengalihkan perhatian publik dari higienitas dapur dan kualitas makanan ke pengadaan teknologi tinggi yang besar dan tidak terkendali menciptakan lahan subur yang sempurna untuk korupsi.  Hal ini mengabaikan kebutuhan logistik yang sebenarnya demi kontrak yang menguntungkan.

Rusaknya Kepercayaan Terhadap Lembaga Negara

Ketika skandal korupsi menimpa perusahaan milik negara komersial, publik menjadi marah. Tetapi ketika skandal korupsi menimpa lembaga yang bertugas memberi makan anak-anak yang kelaparan, publik merasa dikhianati. Kerusakan di sini melampaui kerugian finansial, itu menghancurkan kepercayaan publik.

Setiap rupiah yang dinaikkan dari sepeda motor listrik adalah sebagian susu, telur, atau beras bersih yang diambil dari seorang anak yang sangat membutuhkannya.