NASIONAL

Hampir Tiga Bulan di Bumi Pat Petulai, AKBP Syahrul Hariady Membangun Kedekatan dengan Masyarakat

×

Hampir Tiga Bulan di Bumi Pat Petulai, AKBP Syahrul Hariady Membangun Kedekatan dengan Masyarakat

Sebarkan artikel ini

REJANG LEBONG, HARIANHALUAN.ID — Seorang Kapolres mungkin dikenal dari pangkat dan jabatannya. Tetapi bagi masyarakat, sosok seorang pemimpin kepolisian sering kali dikenang dari hal-hal yang lebih sederhana. Bagaimana ia menyapa, bagaimana ia mendengar dan bagaimana ia hadir ketika warga membutuhkan.

Hampir tiga bulan terakhir, AKBP Syahrul Hariady, S.I.K., M.H., menjalani cerita itu di Bumi Pat Petulai.

Sejak resmi menerima tongkat komando sebagai Kapolres Rejang Lebong melalui Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Mapolda Bengkulu pada 6 Juli 2026, Syahrul memasuki lingkungan baru dengan karakter masyarakat dan dinamika sosial yang harus dipahaminya.

Baca Juga  Kemlu Bantu Penanganan WNI Terdampak Kebakaran di Sabah Malaysia

Dua hari kemudian, 8 Juli 2026, rangkaian penyambutan dan serah terima berlangsung di Mapolres Rejang Lebong.

Sejak itu pula, hampir setiap langkah kepemimpinannya menjadi bagian dari proses mengenal daerah yang kini menjadi ruang pengabdiannya. Bukan hanya mengenal wilayah hukum, tetapi juga mengenal manusianya.

Sebab, bagi kepolisian, masyarakat bukan sekadar angka dalam laporan atau nama dalam daftar perkara.

Mereka adalah orang-orang yang setiap hari menjalani kehidupan, bekerja, membesarkan keluarga, menyekolahkan anak dan berharap lingkungan tempat mereka tinggal tetap aman.

Baca Juga  Jembatan Merah Putih Diresmikan, Akses Tiga Desa di Bermani Ulu kembali Terhubung

Mengenal Masyarakat, Bukan Sekadar Wilayah

Hampir tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk mulai memahami bahwa setiap daerah memiliki karakter sendiri.

Rejang Lebong memiliki dinamika masyarakat yang beragam. Di dalamnya terdapat persoalan keamanan yang membutuhkan perhatian, mulai dari kriminalitas, penyalahgunaan narkotika, kenakalan remaja, balap liar hingga berbagai potensi gangguan kamtibmas.

Namun, persoalan-persoalan tersebut memiliki wajah manusia di belakangnya.