SOLOK KOTA, HARIANHALUAN.ID — Pemerintah Kota Solok terus menggenjot pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir yang melanda daerah itu beberapa waktu lalu. Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat dimanfaatkan sebagai salah satu pengungkit, dengan menyasar langsung sektor perdagangan, UMKM dan IKM.
Melalui Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPKUKM), berbagai program digulirkan. Mulai dari bantuan peralatan usaha, penataan pedagang kaki lima (PKL), pembenahan pasar, hingga penguatan pemasaran produk lokal.
Terkait itu, Wali Kota Solok Dr. H. Ramadhani Kirana Putra mengatakan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur yang rusak. Aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi, juga harus segera dipulihkan. “Evaluasi langsung di lapangan penting dilakukan agar penanganan yang direncanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat serta tidak berhenti pada tahap perencanaan,” kata Ramadhani.
Lantaran itu, menurutnya, program pemulihan harus memberikan manfaat nyata dan menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Penguatan sektor perdagangan dan usaha masyarakat menjadi bagian penting dalam menggerakkan kembali perekonomian Kota Solok. Rangkaian program tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan TKD tidak sekadar sebagai anggaran pembangunan, tetapi instrumen pemulihan ekonomi masyarakat.
Apalagi, Pemko Solok telah mengarahkan penyesuaian TKD 2026 untuk mendukung pemulihan pascabencana sekaligus menggerakkan kembali aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Dari total Rp108,58 miliar, Rp18,30 miliar dialokasikan untuk sarana penanggulangan bencana dan pemulihan sosial ekonomi, termasuk dukungan kepada UMKM. Kini tantangannya adalah memastikan seluruh program tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat dan menghasilkan dampak ekonomi. Sebab, ukuran keberhasilan pemanfaatan TKD bukan hanya terletak pada terserapnya anggaran, tetapi pada seberapa jauh pedagang kembali bergeliat, UMKM tumbuh, pasar semakin tertata dan daya beli masyarakat kembali pulih.
“Harapan kita, seluruh program ini benar-benar memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya mempercepat masyarakat bangkit setelah bencana banjir pada akhir tahun lalu,” kata Ramadhani.
Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kota Solok Ricky Carnova, S.STP, MM mengatakan, pemanfaatan TKD pada sektor perdagangan dan UMKM diarahkan untuk memperkuat pelaku usaha sekaligus membenahi ekosistem perdagangan. “Yang kita dorong bukan hanya bantuan peralatan, tetapi bagaimana pelaku usaha memiliki ruang berusaha yang lebih baik, akses pasar yang lebih luas, serta mampu mengelola usahanya secara lebih profesional,” ujar Ricky.
Atas alasan itu, sebanyak 94 pelaku usaha mendapatkan bantuan perlengkapan dan peralatan. Bantuan tersebut menyasar pedagang, UMKM dan IKM agar aktivitas usaha masyarakat tetap bergerak dan berkembang. Penataan PKL juga menjadi perhatian. Sebanyak 240 unit tenda disiapkan untuk mendukung aktivitas pedagang di sejumlah lokasi, di antaranya Sawah Solok, Pandan dan kawasan Car Free Day. “Penataan PKL harus tetap memberi ruang bagi masyarakat untuk berusaha. Kita ingin kawasan lebih tertib, tetapi aktivitas ekonomi masyarakat juga tetap tumbuh,” kata Ricky.
Sementara pada sektor pasar, Pemko Solok melakukan rehabilitasi Pasar Abdurrahman bin Auf di sekitar Terminal Bareh Solok. Pasar tersebut dipersiapkan sebagai tempat perdagangan yang lebih layak dan nyaman bagi pedagang pasar pagi. Pasar itu juga diarahkan untuk menampung pedagang yang selama ini berjualan di sepanjang jalan dan area parkir, mulai dari kawasan Los Daging, Pasar Semi Modern hingga Pasar Raya tahap IV.
Sementara itu, pembenahan Pasar Raya Solok dilakukan melalui perbaikan dan pemeliharaan gedung serta jaringan drainase. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan dan kebersihan pasar. Upaya menciptakan perdagangan yang lebih tertib juga dilakukan melalui program pasar tertib ukur. Sebanyak 25 timbangan pegas diberikan kepada kelompok pedagang ikan di Pasar Raya Solok.
Program itu diperkuat dengan sosialisasi dan tera ulang bagi pedagang Pasar Raya Solok dan Pasar Pagi Abdurrahman bin Auf. Ricky mengatakan, kepastian ukuran dalam transaksi merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan antara pedagang dan konsumen. “Dengan kepastian ukur melalui metrologi legal, hak-hak konsumen terlindungi dan kepercayaan publik terhadap keberadaan pedagang lokal semakin meningkat,” ujarnya dalam kegiatan penguatan pengawasan perdagangan dan metrologi legal.
Di sisi lain, Pemko Solok menyiapkan Galeri dan Klinik IKM sebagai ruang konsultasi, pembinaan dan workshop bagi pelaku UMKM dan IKM. Materi yang diberikan mencakup digital marketing, marketplace hingga manajemen keuangan. Fasilitas tersebut juga diarahkan menjadi pusat oleh-oleh yang menampung, memasarkan sekaligus mempromosikan produk UMKM, IKM dan makanan khas Kota Solok.
Menurut Ricky, penguatan UMKM tidak cukup berhenti pada pemberian bantuan. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan agar mampu meningkatkan kualitas produk, menguasai pemasaran digital dan memperluas jaringan pasar. Langkah tersebut sejalan dengan arah Pemko Solok yang menempatkan DPKUKM sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Saat pelantikan Ricky sebagai Kepala DPKUKM, Wali Kota Ramadhani menekankan pentingnya inovasi pelayanan, peningkatan daya saing UMKM, stabilitas perdagangan dan perluasan akses pasar bagi produk lokal. (h/*)












