Keterangan foto: Seorang pedagang di Pasar Nanggalo, Padang tengah melayani pembeli, beberapa waktu yang lalu. BPS mencatat, pada triwulan I 2026, ekonomi Sumbar tumbuh sebesar 5,02 persen secara year on year (y-on-y). YESI
PADANG, HARIANHALUAN.ID—Ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan pada triwulan I tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Sumbar tumbuh sebesar 5,02 persen secara year on year (y-on-y). Capaian ini menempatkan Sumbar sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi keempat di Pulau Sumatera, di bawah Kepulauan Riau, Lampung, dan Sumatera Selatan.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin menyatakan, pertumbuhan terjadi hampir merata pada semua lapangan usaha, kecuali pengadaan listrik dan gas, yang terkontraksi 0,42 persen. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 17,77 persen, diikuti jasa lainnya sebesar 9,10 persen, serta jasa keuangan sebesar 7,94 persen.
Pertumbuhan lapangan usaha yang memiliki peran dominan lainnya, antara lain pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 7,57 persen serta lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib tumbuh sebesar 6,31 persen.
“Sementara dari sisi pengeluaran, komponen impor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 20,14 persen. Namun perlu diperhatikan bahwa komponen ini merupakan pengurang PDRB,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (6/5).
Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 15,24 persen, diikuti oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 14,77 persen, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 7,64 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) sebesar 3,11 persen, dan komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 2,99 persen. “Adapun komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB mengalami pertumbuhan sebesar 20,14 persen,” ucapnya.
Di sisi lain, struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku triwulan I 2026 secara urutan masih sama dan secara kontribusi juga tidak menunjukkan banyak perubahan.
Perekonomian Sumbar masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 22,03 persen; diikuti oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 16,84 persen; lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 10,69 persen; lapangan usaha konstruksi sebesar 9,18 persen; dan lapangan usaha industri pengolahan 8,51 persen. Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sumbar mencapai 67,24 persen.
Sementara itu, secara kuartalan atau quarter to quarter (q-to-q) tercatat tumbuh sebesar 3,15 persen. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum serta transportasi dan pergudangan, secara berurutan mengalami pertumbuhan yang paling signifikan, yaitu sebesar 15,09 persen dan 9,27 persen, diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 7,95 persen serta pertambangan dan penggalian sebesar 6,48 persen.
Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki peran dominan tumbuh sebesar 1,98 persen. Kemudian, perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh sebesar 2,98 persen. Lalu, industri pengolahan tumbuh sebesar 5,01 persen. Sementara konstruksi terkontraksi sebesar 2,05 persen.
Mulai Menemukan Momentum
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumbar, Arry Yuswandi mengatakan, capaian pertumbuhan ekonomi ini menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi daerah relatif stabil dan mulai kembali menemukan momentumnya. Kondisi ini menunjukkan adanya akselerasi aktivitas ekonomi setelah sempat mengalami tekanan pada periode akhir 2025.
Struktur ekonomi Sumbar yang masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menurutnya menegaskan bahwa karakter ekonomi daerah ini masih sangat berbasis sumber daya alam dan sektor primer.
“Namun demikian, sektor-sektor lain juga menunjukkan kontribusi yang semakin signifikan, terutama perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, konstruksi, serta industri pengolahan. Kelima sektor ini menjadi leading sectors yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara simultan dan memperlihatkan adanya dinamika ekonomi yang semakin beragam,” katanya, Rabu (6/5).
Ia menyebutkan, jika ditelusuri lebih dalam, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan ini ditopang oleh beberapa faktor utama. Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan kontribusi sekitar 1,02 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
“Peningkatan ini didorong oleh naiknya aktivitas konsumsi masyarakat, terutama selama momentum Ramadan dan Idulfitri, serta lonjakan transaksi perdagangan elektronik yang tumbuh lebih dari 50 persen,” ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, komponen PMTB atau investasi yang tumbuh 1,99 persen, menurutnya, tidak lepas dari meningkatnya impor barang modal hingga 143,50 persen, termasuk mesin, alat berat, dan peralatan industri. Investasi tersebut berkaitan erat dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan rehabilitasi pascabencana yang menjadi fokus pemerintah daerah dalam memulihkan aktivitas ekonomi.
Selain itu, ekspor juga menunjukkan kinerja yang sangat kuat. Ekspor barang luar negeri tumbuh 19,91 persen dengan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 1,94 persen. Komoditas unggulan seperti minyak sawit (CPO) menjadi tulang punggung ekspor dengan pangsa mencapai lebih dari 80 persen.Di samping itu, produk kimia berbasis gambir juga mengalami lonjakan permintaan global yang signifikan, mencerminkan peluang ekspor nonmigas yang semakin terbuka.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi daerah, meskipun pertumbuhannya relatif moderat. Momentum Ramadan dan Idulfitri, ucapnya, memberikan dorongan signifikan terhadap belanja masyarakat, terutama pada sektor makanan, minuman, dan jasa.
“Namun, terdapat indikasi bahwa konsumsi masyarakat, khususnya di sektor agraris, masih cenderung stagnan. Hal ini tercermin dari indeks konsumsi petani yang hanya tumbuh tipis sekitar 0,52 persen,” kata Arry.
Di sisi lain, ia melihat peningkatan tabungan masyarakat dan pertumbuhan kredit konsumsi menunjukkan adanya kehati-hatian dalam belanja, sekaligus mencerminkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Dari sisi fiskal, ia menuturkan, konsumsi pemerintah juga mengalami pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, belanja barang dan jasa justru mengalami kontraksi cukup dalam akibat efisiensi anggaran dan keterlambatan proses pengadaan di awal tahun.
Kondisi ini, menurut Arry, menunjukkan bahwa peran fiskal pemerintah masih penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi perlu diimbangi dengan efektivitas belanja agar dampaknya lebih luas dan terasa bagi masyarakat.
Secara sektoral, hampir seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif, kecuali sektor pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi. Menariknya, sektor dengan pertumbuhan tertinggi justru berasal dari penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh hingga 17,77 persen.
Hal ini mengindikasikan mulai pulihnya sektor pariwisata dan ekonomi berbasis jasa. Selain itu, sektor jasa keuangan dan jasa lainnya juga menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, menandakan bahwa diversifikasi ekonomi mulai berkembang dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sektor primer.
“Dalam konteks regional, Sumbar menyumbang sekitar 6,83 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera dan 1,51 persen terhadap perekonomian nasional. Dari sisi pertumbuhan, Sumbar berada pada peringkat keempat di antara provinsi di Pulau Sumatera, menunjukkan daya saing ekonomi yang cukup kuat meskipun bukan yang terbesar secara kontribusi. Posisi ini menjadi penting sebagai indikator bahwa Sumatera Barat mampu bersaing dalam dinamika ekonomi kawasan,” tutur Arry.
Arry menyatakan bahwa secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan I 2026 mencerminkan proses pemulihan yang semakin solid. Kombinasi antara meningkatnya investasi, kuatnya ekspor, dan membaiknya konsumsi domestik menjadi fondasi utama pertumbuhan.
Namun demikian, ia juga menyadari bahwa sejumlah tantangan tetap perlu diantisipasi, seperti ketergantungan pada komoditas ekspor tertentu seperti CPO, konsumsi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, efisiensi belanja pemerintah, serta ketimpangan antar sektor dan wilayah.
“Ke depan, strategi pembangunan ekonomi Sumbar perlu diarahkan pada penguatan sektor hilir, diversifikasi ekonomi, serta peningkatan daya beli masyarakat agar pertumbuhan yang terjadi tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan,” katanya. (*)











