HEADLINE

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (Bagian 11) : Tokyo Lengang dari Sepeda Motor

×

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (Bagian 11) : Tokyo Lengang dari Sepeda Motor

Sebarkan artikel ini

Oleh Dr. H. Jufri Syahruddin

Ketika kita menjelajahi kota Tokyo baik dengan jalan kaki maupun naik bus, taksi atau kereta api, kita hampir-hampir tidak menemukan orang naik motor atau sepeda motor di jalanan kota Tokyo. Kota ini bagaikan bebas dari motor dan sedikit sekali mobil pribadi. Yang banyak kita temui adalah taksi, bus, mobil box dan kendaraan polisi serta ambulance.

Meskipun Jepang merupakan pusat bagi raksasa otomotif dunia seperti Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki, namun keberadaan sepeda motor di jalanan Tokyo sangat lengang. Hal ini berbanding terbalik dengan kota-kota besar di Indonesia yang mana jalan-jalan penuh sesak oleh sepeda motor.

Ada sejumlah faktor penyebab mengapa sepeda motor tidak diminati warga Tokyo.

Faktor pertama adalah sangat efisiennya manajemen transportasi umum di Tokyo. Tokyo memiliki salah satu jaringan kereta api dan bus terbaik di dunia. Ketepatan waktu yang luar biasa dan jangkauan stasiun yang luas membuat warga merasa tidak perlu memiliki kendaraan pribadi untuk mobilitas harian. Jalan kaki dari stasiun ke kantor atau rumah sudah menjadi budaya yang sangat umum.

Faktor kedua adalah adanya aturan parkir yang sangat ketat. Di Tokyo, kita tidak bisa memarkir motor sembarangan di trotoar atau pinggir jalan. Jika memarkir motor secara ilegal akan kena denda yang besar yakni sekitar ¥10.000 atau setara dengan Rp1 jutaan atau lebih. Bukan itu saja, lahan parkir sangat sulit ditemukan. Akibatnya, tempat parkir khusus motor terbatas dan biasanya berbayar.

Apartemen-apartemen  di Tokyo juga tidak menyediakan lahan parkir motor yang memadai.

Alasan lain keengganan orang memiliki motor karena biaya kepemilikan yang tinggi. Memiliki motor di Jepang membutuhkan biaya yang cukup menguras kantong. Untuk mendapatkan SIM motor di Jepang sangat sulit dan mahal. Biayanya bisa mencapai ¥100.000 atau ekitar Rp10-11 juta karena seleksi yang sangat ketat. Kemudian adanya biaya pajak dan asuransi serta biaya kir atau pemeriksaan tahunan yang besar.

Faktor lain adalah faktor musim dan cuaca yang terus berganti.

Baca Juga  Martinus Dahlan: Kabupaten Kepulauan Mentawai Butuh Perhatian Khusus Pemerintah Pusat

​Mengendarai motor di Tokyo bisa sangat menyiksa saat musim tertentu, misalnya, musim dingin suhu bisa mencapai titik beku, sehingga membuat berkendara menjadi sangat dingin dan jalanan licin karena es tipis.

Pada musim panas, sinar mentari yang menyengat membuat berkendara dengan motor menjadi tidak nyaman.

Tambahan lagi adanya stigma sosial dan sejarah yang membuat orang Jepang trauma dengan motor. ​Pada tahun 1970-an hingga 1980-an, Jepang sempat memiliki masalah dengan geng motor (bousouzoku). Hal ini sempat menciptakan stigma negatif bahwa pengendara motor identik dengan perilaku antisosial atau kriminal.    

Selain itu, ada kampanye  di sekolah-sekolah yang melarang siswa mendapatkan SIM, membeli, atau mengendarai motor untuk menekan angka kecelakaan.

Sepeda Lebih Diminati

Berbanding terbalik dengan sepeda motor, sepeda adalah “raja” jalanan di Tokyo. Jika berkunjung ke kota ini, Anda akan melihat ribuan sepeda berseliweran di jalan-jalan raya, jalan kecil, trotoar dan pusat perbelanjaan serta.pasar. Di samping itu, kita juga menyaksikan sepeda terparkir di depan stasiun, pusat perbelanjaan, hingga gang-gang kecil dan di tempat parkir khusus sepeda.

Memang, ​sepeda telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup warga Tokyo saat ini karena berbagai alasan.

Pertama, sepeda sebagai kendaraan penghubung dari rumah ke stasiun kereta. Karena jalan kaki mungkin memakan waktu 15–20 menit, bersepeda dapat memangkas waktu tersebut menjadi hanya 5 menit saja. Istilah populer untuk sepeda komuter di sana adalah “mamachari” atau sepeda ibu-ibu yang biasanya dilengkapi keranjang belanja di depan.

Kedua, warga Tokyo beralih ke sepeda karena fasilitas parkir yang mudah dan. canggih. Karena jumlah sepeda sangat banyak, pemerintah Tokyo membangun infrastruktur parkir sepeda yang luar biasa.

Baca Juga  Pembangkit EBT, Strategi PLN Sumatera Barat Melistriki Masyarakat di Pelosok Nagari

Di Tokyo ada parkir bertingkat dan parkir bawah tanah. Pemerintah membangun sistem parkir otomatis di mana sepeda akan “ditelan” masuk ke bawah tanah untuk disimpan secara robotik.

Selain itu, kita juga menemukan area parkir khusus sepeda di sekitar stasiun yang teratur untuk mencegah trotoar menjadi berantakan.

Berikutnya adalah karena adanya regulasi yang mendukung bahwa trotoar merupakan milik bersama antara pejalan kaki dan pengendara sepeda. Oleh sebab itu, di banyak areal, sepeda boleh dikendarai di atas trotoar yang lebar bersama pejalan kaki dengan prioritas utama tetap pada pejalan kaki.

Setiap sepeda yang dibeli wajib didaftarkan ke kepolisian setempat. Hal ini sangat efektif untuk menekan angka pencurian. Jika polisi menghentikan pengendara sepeda itu adalah hal yang lumrah bagi turis atau warga lokal, karena polisi akan akan mengecek stiker registrasi sepedan tersebut.

Alasan yang paling penting adalah biaya sepeda sangat murah.

​Berbeda dengan motor yang butuh SIM mahal dan pajak, sepeda hampir tidak memerlukan biaya tambahan selain pembelian awal. Biaya parkir sepeda di stasiun biasanya hanya sekitar ¥100–¥200 (sekitar Rp10.000–Rp20.000) per hari.

Semoga sistem berlalu lintas di Tokyo suatu hari kelak akan dapat dicontoh dan diterapkan di negara kita tercinta ini. (Bersambung)