HEADLINE

Jam Gadang Memanggil Ingatan : Seabad Menjaga Sejarah, Diplomasi dan Identitas Bukittinggi

×

Jam Gadang Memanggil Ingatan : Seabad Menjaga Sejarah, Diplomasi dan Identitas Bukittinggi

Sebarkan artikel ini
Film Maker Nasional, Arief Malin Mudo. DOK

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.ID — Menjelang satu abad usia Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi tampaknya tidak ingin sekadar menggelar pesta seremoni. Momentum yang akan berlangsung pada 3 hingga 21 Juni 2026 itu justru dirancang sebagai sebuah ikhtiar besar untuk membaca ulang sejarah, mempertegas identitas kota, sekaligus membuka jalan diplomasi budaya Bukittinggi ke tingkat internasional.

Di balik gegap gempita persiapan perhelatan “Alek Nagari Rang Kurai” itu, ada sentuhan tangan Film Maker nasional kebanggan Ranah Minang,  Arief Malin Mudo yang dipercaya langsung  Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, untuk merancang konsep besar peringatan seratus tahun ikon paling terkenal di Ranah Minang tersebut.

Bagi sutradara film Surau dan Silek ini, peringatan satu abad Jam Gadang bukanlah sekadar perayaan usia sebuah bangunan bersejarah. Lebih dari itu, momentum ini adalah upaya membangun kesadaran kolektif tentang siapa sesungguhnya Bukittinggi di mata sejarah Indonesia dan dunia. “Pak Wali Kota meminta agar peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial. Harus ada substansi besar yang ingin dicapai,” ujar Arief dalam wawancara panjang bersama Haluan Jumat (15/5) lalu.

Menurut Arief Malin Mudo, acara peringatan 100 tahun Jam Gadang adalah momentum sekaligus panggung untuk memperkuat positioning Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan, kota intelektual, sekaligus gerbang diplomasi budaya Indonesia-Belanda.

Meneguhkan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan

Ia mengatakan, salah satu substansi utama yang ingin dicapai dalam momentum ini adalah mempertegas posisi Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan dan penyangga republik. Narasi itu sesungguhnya bukan hal baru. Kota Bukittinggi memiliki jejak historis panjang sejak era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga fase Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Namun bagi Arief, pengakuan terhadap posisi historis itu belum sepenuhnya mengakar kuat secara nasional.

Ia menyinggung bagaimana pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanggal 19 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, sebuah momentum yang berkaitan erat dengan sejarah perjuangan di Bukittinggi. Namun, menurutnya, narasi besar tentang peran Bukittinggi masih perlu terus digali dan diperkuat.

Karena itu, dalam  salah satu rangkaian kegiatan peringatan satu abad jam gadang nanti, akan digelar Seminar Internasional Bukittinggi Kota Perjuangan yang menghadirkan akademisi, sejarawan, budayawan hingga tokoh-tokoh luar negeri. Melalui seminar internasional itu, Arief bermaksud agar pengakuan terhadap Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan tidak lahir dari pemerintah kota sendiri, melainkan dari perspektif pihak luar.

“Kita ingin pengakuan itu datang secara objektif dari akademisi, sejarawan maupun budayawan berkompeten yang melihat langsung bagaimana peran Bukittinggi dalam sejarah bangsa,” katanya.

Seminar itu bahkan telah mengonfirmasi kehadiran mantan Menteri Kebudayaan Malaysia, Rais Yatim, hingga Duta Besar Belanda untuk Indonesia sebagai keynote speaker. Bagi Arief Malin Mudo, pendekatan itu penting agar Bukittinggi tidak hanya dipahami sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai kota yang pernah menjadi pusat gagasan, perjuangan dan diplomasi bangsa.

Dari Ikon Kolonial Menjadi Gerbang Diplomasi

Salah satu gagasan paling menarik dalam peringatan satu abad Jam Gadang adalah upaya mengubah cara pandang publik terhadap bangunan tersebut. Selama ini, Jam Gadang lebih sering dipandang sebagai peninggalan kolonial Belanda. Namun Arief ingin menggeser perspektif itu menjadi simbol diplomasi budaya antara Indonesia dan Belanda yang dijembatani oleh Bukittinggi dan Amsterdam.

Baca Juga  30 Ribu KK di Pasbar Terima Bantuan Beras

“Ke depan, Jam Gadang jangan hanya dipandang sebagai landmark atau bangunan bersejarah semata. Kita ingin ia menjadi gerbang diplomasi budaya,” ujarnya.

Lewat momentum ini, ia berharap akan lahir kerja sama konkret antara Bukittinggi dengan kota-kota di Belanda dalam bentuk Sister City, kerja sama pendidikan, pelestarian heritage, pertukaran budaya hingga literasi sejarah. Dalam pandangannya, sejarah kolonial tidak selalu harus dibaca dengan rasa permusuhan. 

Sebaliknya, sejarah dapat menjadi jembatan untuk membangun relasi baru yang lebih setara dan produktif. Karena itulah, konsep peringatan seratus tahun Jam Gadang dirancang tidak hanya bernuansa nostalgia, tetapi juga mengarah pada masa depan.

Kota Intelektual yang Melahirkan Gagasan Besar

Di tengah geliat sektor wisata yang selama ini menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Daerah Bukittinggi, Arief melihat ada identitas lain yang perlu diperkuat yaitu Bukittinggi sebagai kota intelektual. Menurutnya, kota kecil di jantung Sumatera Barat itu sejak lama telah melahirkan tokoh-tokoh besar dan gagasan penting bagi bangsa.

Ia menyebut sederetan nama-nama seperti Mohammad Hatta, Tan Malaka, hingga keberadaan Kweekschool Bukittinggi yang disebut-sebut menjadi salah satu titik penting lahirnya bahasa persatuan Indonesia. “Bukittinggi mungkin tidak kaya sumber daya alam, tetapi sejak dulu kota ini kaya sumber daya manusia dan gagasan,” katanya.

Nilai-nilai itulah yang ingin disebarluaskan kepada dunia melalui peringatan seratus tahun Jam Gadang. Arief bahkan menyebut momentum ini sebagai ajang refleksi bahwa masyarakat Bukittinggi sejak dahulu merupakan masyarakat yang terdidik, adaptif, cerdas berdiplomasi dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Besarnya skala kegiatan satu abad Jam Gadang juga terlihat dari keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga BUMN nasional. Kementerian Kebudayaan, kata Arief, memberikan dukungan langsung terhadap pelaksanaan seminar internasional. Sementara amplifikasi promosi kegiatan didukung Holding BUMN pariwisata InJourney.

Promosi peringatan 100 tahun Jam Gadang bahkan akan tampil melalui videotron di lebih dari 11 bandara di Indonesia, mulai dari Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Bandar Udara Internasional Minangkabau hingga Bandar Udara Sentani, Papua.

Bagi Arief, promosi itu bukan semata soal pariwisata. Lebih dari itu, ia ingin setiap daerah di Indonesia saling mengetahui agenda budaya dan wisata yang hidup di daerah lain. “Inilah bentuk sinergi nyata antara pemerintah daerah dan BUMN pusat,” ujarnya.

Diplomasi Budaya Lewat Pekan Film Asia Tenggara

Nuansa diplomasi budaya juga akan terasa lewat penyelenggaraan Bukittinggi East Film, sebuah pekan sinema terbuka yang menghadirkan film-film dari negara-negara serumpun Asia Tenggara. Film-film dari Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura akan diputar di kawasan pedestrian Jam Gadang dengan konsep open air cinema.

Tak sekadar menonton, masyarakat nantinya juga dapat berdialog langsung dengan para film maker, sutradara maupun produser yang hadir. Arief berharap kegiatan itu menjadi ruang edukasi budaya sekaligus membuka peluang agar para sineas tertarik menjadikan Sumatera Barat sebagai lokasi produksi film.

Baca Juga  Wako Pariaman Luncurkan Crash Program Imunisasi Polio Tingkat Sumbar Tahun 2023

“Ini bukan sekadar hiburan. Ada refleksi budaya dan ruang interaksi yang kita bangun,” katanya.

Selama satu pekan, sekitar tujuh film panjang akan diputar berturut-turut dan didahului pertunjukan budaya setiap malamnya. Yang menarik, peringatan satu abad Jam Gadang tidak hanya digerakkan pemerintah kota. Banyak komunitas ikut mengintegrasikan program mereka ke dalam rangkaian kegiatan.

Salah satu agenda besar adalah International Minangkabau Literacy Festival yang digagas sastrawan Sastri Bakry dan akan dihadiri penulis dari 35 negara mulai 3 Juni mendatang.

Selain itu ada pula Pejalan Nagari Festival yang digagas komunitas pejalan kaki nasional pada 13–14 Juni. Komunitas lari, pecinta bunga, hingga berbagai kelompok kreatif lainnya juga turut dilibatkan.

Bagi Arief, inilah bentuk ideal kolaborasi sebuah kota. Yaitu ketika pemerintah tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi fasilitator bagi tumbuhnya kreativitas masyarakat. “Peringatan 100 tahun Jam Gadang harus menjadi alek gadang nagari,” katanya.

 Mengungkap Fakta Baru Arsitek Jam Gadang

Di balik seluruh kemeriahan itu, salah satu bagian paling penting dari rangkaian kegiatan adalah upaya mengungkap fakta-fakta sejarah yang selama ini kurang dikenal publik. Arief mengungkapkan, berdasarkan penelusuran yang dilakukan panitia, nama asli arsitek Jam Gadang ternyata bukan Yazid Sutan Gigi Ameh sebagaimana yang selama ini populer di masyarakat.

Menurutnya, arsitek sebenarnya adalah Yazid Datuak Mangkuto, sementara Sutan Gigi Ameh merupakan kepala mandor pembangunan. Panitia bahkan telah bersilaturahmi langsung dengan keluarga Yazid dan menemukan sejumlah dokumen penting, termasuk dokumen pernikahan sang arsitek.

Fakta itu membuka kemungkinan bahwa Yazid merancang Jam Gadang saat usianya masih sangat muda, bahkan diperkirakan masih sekitar 20 tahunan. “Ini menunjukkan bahwa Bukittinggi sejak dulu memang dibangun oleh tangan-tangan kreatif anak muda,” ujar Arief.

Ia juga menyingkap fakta lain bahwa pembangunan Jam Gadang tidak sepenuhnya dibiayai pemerintah kolonial Belanda. Ada kontribusi para pedagang di kawasan Bukik Kubang Kabau atau Pasar Ateh saat ini. Karena itu, menurut Arief, Jam Gadang sejatinya bukan hanya simbol kolonial, tetapi juga simbol partisipasi masyarakat lokal dan kreativitas generasi muda Bukittinggi pada zamannya.

Di balik seluruh gagasan besar tentang sejarah, diplomasi dan budaya, Arief menyimpan harapan sederhana namun mendalam. Ia ingin Jam Gadang tetap menjadi ruang publik yang membahagiakan bagi warga kota.

Terinspirasi dari kota-kota tua di Eropa yang menjadikan kafe dan ruang publik sebagai tempat interaksi sosial, Arief Malin Mudo membayangkan kawasan Jam Gadang menjadi tempat warga berkumpul, berbincang dan menikmati hidup secara lebih manusiawi. “Semakin banyak interaksi sosial di dunia nyata, maka semakin kecil ketergantungan terhadap dunia maya,” katanya.

Dalam pandangannya, kota yang sehat bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana ruang publik mampu menghadirkan kebahagiaan secara organik bagi masyarakatnya.

Dan melalui momentum satu abad Jam Gadang, Bukittinggi tampaknya sedang mencoba menghidupkan kembali ruh itu: sebuah kota kecil yang tidak hanya indah dipandang wisatawan, tetapi juga hangat, intelektual, terbuka dan membahagiakan bagi warganya sendiri. (h/*)