Oleh: Medi Iswandi
Mahasiswa Program Doktor FEB Universitas Andalas
Bagi orang Minang, merantau bukanlah sekadar tradisi turun-temurun. Lebih seperti panggilan takdir. Sebuah tradisi keberanian yang sudah ada sejak ratusan tahun silam telah melahirkan orang-orang hebat dari kampung-kampung keras yang hampir tak pernah memberikan kenyamanan.
Dari bukit-bukit Sumatera Barat, dari nagari yang tanahnya tak ramah,muncullah para saudagar, ulama, cendekiawan, pengusaha dan pemimpin negeri. Mereka pergi, bukan karena kampungnya sejahtera. Mereka pergi justru karena kerasnya hidup. Mereka sadar bertahan tanpa keberanian adalah hidup tanpa kehormatan, hanya menunggu kematian perlahan.
Karena itulah leluhur Minangkabau meninggalkan petuah keras: “Karatau madang di hulu,
babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.”
Sepintas sederhana, tapi sesungguhnya adalah cambuk bagi jiwa-jiwa yang lemah. Bahwa anak muda yang hanya nyaman dalam dekapan orang tua, yang hanya berani dalam pelukan kampung sebenarnya belum sungguh-sungguh hidup.
Karena belum mengenal lapar. Belum pernah jatuh. Belum mengenal dirinya sendiri. Tidak heran, perantau-perantau besar Minang banyak lahir dari kampung yang keras meramu kehidupan.
Mereka tak diwarisi permadani kemewahan, tapi diwarisi benih-benih daya tahan yang membaja. Anak-anak itu tumbuh menyaksikan peluh orang tua yang tak kenal lelah, hanya demi satu cita menyekolahkan mereka.
Sejak kecil, mereka belajar bahwa dunia tak selalu ramah. Bahwa untuk bertahan, kecerdasan saja tak cukup. Harus ada kemampuan menderita. Maka berangkatlah. Dengan tas kecil. Bekal seadanya. Disertai ketakutan yang disembunyikan di balik raut wajah tegar.
Lalu sejarah bicara. Dari perjalanan penuh onak itulah lahir para konglomerat Minang. Lahir jaringan pedagang, pengusaha, rumah makan, toko emas, industri tekstil, perusahaan besar, pemimpin dan ulama yang tersebar di seluruh Indonesia.
Data demi data menunjukkan betapa kuatnya tradisi merantau ini. Jutaan orang Minang hidup di perantauan, bahkan jumlahnya diyakini melebihi yang tinggal di kampung halaman sendiri. Dan bukti keberhasilan itu bukan sekadar cerita. Setiap tahun, anak-anak Minang dari rantau mengirim dan membawa pulang uang dalam jumlah yang luar biasa besar ke kampung halamannya.
Berbagai kajian ekonomi dan data remitansi uang perantau menunjukkan nilainya mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun. Uang itu mengalir ke nagari-nagari kecil. Membangun rumah-rumah keluarga. Menyekolahkan adik dan keponakan. Menghidupkan usaha kecil di kampung. Membangun masjid, surau, jalan, hingga membantu sanak saudara bertahan hidup.
Merantaulah
Betapa banyak kampung di Sumatera Barat yang sebenarnya tetap hidup karena denyut nadi anak-anaknya di rantau. Mereka pergi membawa mimpi, tetapi tidak pernah benar-benar memutuskan hubungan dengan tanah kelahirannya. Karena bagi orang Minang, kesuksesan di rantau bukan hanya tentang menjadi kaya. Tetapi tentang bagaimana hasil perjuangan itu kembali menghidupkan kampung halaman.
Namun hari ini, sesuatu mulai berubah. ‘Gen Z’ mulai gamang. Rantau tak lagi dilihat sebagai hamparan harapan, tapi sebagai lembah tekanan, kompetisi dan ketidakpastian. Mereka tumbuh di era layar yang gemerlap. Semua orang tampak sukses. Semua tampak kaya, bahagia, dan utuh di dalam genggaman.
Namun di sisi lain, mereka juga melihat sisi kelam modernitas. Kota-kota besar yang dipenuhi manusia kelelahan. Jiwa-jiwa muda yang terbakar dan patah sebelum sempat berkembang.
Dan muncullah kegamangan: Untuk apa merantau? Untuk apa pergi jauh? Untuk apa meninggalkan kampung? Generasi ini tiba-tiba takut gagal. Takut tersesat tanpa genggaman keluarga. Takut kehilangan bantal-bantal kenyamanan. Maka mereka pun memilih tetap tinggal. Bukan karena cinta kampung, walaupun di kampung juga penuh ketidakpastian.
Inilah ironi terbesar zaman ini. Mereka memiliki akses informasi seluas samudra. Dunia ada di ujung jari. Mudah mencari informasi. Tapi justru karena terlalu banyak melihat dunia, mereka semakin takut melangkah ke dunia nyata. Terlalu sering melihat keberhasilan kilat. Terlalu sering membandingkan hidup dengan pencapaian orang lain.
Terlalu ingin semuanya aman sebelum satu kaki pun melangkah. Padahal, sejarah tak pernah ditulis oleh para penunggu kepastian. Sejarah ditulis oleh anak-anak muda yang berangkat tanpa jaminan. Tanpa koneksi. Tanpa modal besar. Hanya bermodalkan satu hal: keberanian.
Mungkin, itulah yang mulai hilang hari ini. Bukan kecerdasan. Bukan pula keterampilan. Tapi keberanian untuk meninggalkan sarang kenyamanan demi masa depan yang lebih besar. Sesungguhnya, merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman. Merantau adalah keberanian untuk meninggalkan versi kecil dari diri sendiri.
Manusia tak akan tumbuh besar di tempat yang selalu nyaman. Manusia tumbuh ketika dipaksa berhadapan dengan badai dunia. Ketika jatuh dan bangkit dengan tangannya sendiri. Ketika kecewa tanpa bisa mengadu setiap saat kepada orang tuanya.
Mungkin yang paling menakutkan bukanlah gagal di rantau. Tapi terlalu takut untuk mencoba, akhirnya hidup hanya menjadi penonton atas keberhasilan orang lain. Dahulu, banyak orang tua Minang melepas anaknya pergi bukan karena tega. Tapi karena mereka tahu anak yang tak pernah ditempa kehidupan, tidak akan bisa menjadi manusia yang hebat. (*)
Table of Contents











