SUMBAR

Belajar dari Peraih Kalpataru, DLH Sumbar Gandeng Departemen Teknik Lingkungan UNAND Bangun Gerakan Hentikan Sampah dari Hulu

×

Belajar dari Peraih Kalpataru, DLH Sumbar Gandeng Departemen Teknik Lingkungan UNAND Bangun Gerakan Hentikan Sampah dari Hulu

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID– Persoalan sampah bukan lagi sekadar urusan kebersihan kota. Tumpukan sampah yang tak terkendali kini menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca, pemicu bencana, hingga ancaman serius bagi kesehatan manusia. 

Karena itu, pengelolaan sampah tak bisa lagi hanya mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan harus dimulai dari rumah tangga melalui perubahan perilaku masyarakat.

Semangat itulah yang diusung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat bersama Departemen Teknik Lingkungan Universitas Andalas (Unand) dalam kegiatan “Sosialisasi Peran Pengolahan Sampah dalam Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca: Strategi Kolaborasi Berkelanjutan Skala Komunal” di Aula DLH Sumbar, Sabtu (4/7/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Peraih Penghargaan Kalpataru 2026 kategori Pembina, Shanty Meta Febrinalisa, sebagai narasumber utama. Forum itu diikuti  49 Bank Sampah, tiga kelompok pembudidaya maggot, serta 20 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Kota Padang yang selama ini menjadi ujung tombak pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Dalam pemaparannya, Shanty Meta Febrinalisa menegaskan bahwa persoalan sampah telah berkembang menjadi persoalan lingkungan global yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup manusia.

Menurutnya, buruknya pengelolaan sampah memicu berbagai persoalan, mulai dari bau menyengat, pencemaran lingkungan, overkapasitas tempat pembuangan akhir yang berpotensi menimbulkan longsor, kebakaran akibat gas metana, polusi udara, hingga peningkatan emisi gas rumah kaca.

Tak hanya itu, pembakaran sampah juga menghasilkan senyawa dioksin yang berbahaya bagi kesehatan.

“Cemaran dioksin bahkan dapat memengaruhi kualitas sperma dan tingkat fertilitas remaja pria. Belum lagi ancaman mikroplastik yang kini sudah masuk ke rantai makanan manusia,” ujarnya.

Baca Juga  Pasa Pabukoan di Pasar Baru Bangkitkan Ekonomi Masyarakat Padang Panjang

Karena itu, ia menilai solusi terbaik bukan dengan memperluas TPA, tetapi mengurangi sampah sejak dari sumbernya melalui perubahan gaya hidup masyarakat.

Shanty memperkenalkan konsep Zero Waste atau hidup minim sampah yang dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah di rumah, merencanakan belanja secara bijak agar tidak berlebihan, menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang kali, memanfaatkan kembali barang yang masih layak, serta terus melakukan evaluasi terhadap kebiasaan sehari-hari.

“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jangan menunggu orang lain. Mulailah dari diri sendiri, lalu tularkan melalui teladan,” katanya.

Di hadapan peserta, Shanty turut membagikan perjalanan panjang komunitas yang dibinanya di wilayah DKI Jakarta hingga akhirnya berhasil meraih penghargaan Kalpataru, penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup.

Perjalanan itu dimulai pada 2011 melalui gerakan sederhana menggunakan kotak makan guna ulang saat pembagian takjil Ramadan di masjid. Gerakan kecil tersebut berhasil mengurangi penggunaan wadah sekali pakai.

Memasuki 2020, komunitasnya mulai mengembangkan program pengumpulan limbah elektronik dan limbah B3 rumah tangga. Pada saat yang sama, mereka membangun pasar berbasis grup WhatsApp yang mendorong warga berbelanja menggunakan rantang dan wadah guna ulang untuk mengurangi sampah kemasan.

Inovasi terus berkembang. Tahun 2021, lahir Koperasi Kompos PKK RW 016 yang mengolah sampah organik dapur secara komunal sekaligus menjadi tempat pelatihan kerja bagi pemuda usia 15 hingga 20 tahun.

Baca Juga  Disdukcapil Sijunjung Sosialisasi Penggunaan Identitas Digital Penduduk

Setahun kemudian dibentuk Pos KUPILAH sebagai pusat pengumpulan sampah anorganik. Tahun 2023, gerakan itu berkembang melalui pembangunan Taman Kompos RW 016 dan program belanja kolektif untuk menekan penggunaan kemasan sekali pakai.

Pada 2024, komunitas tersebut memperluas inovasi melalui konversi maggot dalam program Aksi Jaga Bumi serta mengembangkan Pos KUPILAH di kawasan taman kompos.

“Kami belajar bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Konsistensi melakukan langkah-langkah kecil bersama masyarakat justru melahirkan perubahan yang nyata,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Tasliatul Fuadi mengapresiasi kiprah komunitas-komunitas lingkungan yang selama ini terus bergerak tanpa lelah mengurangi timbulan sampah di tingkat masyarakat.

Ia mengatakan, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat diselesaikan melalui kolaborasi seluruh unsur pentahelix yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.

“Kami ingin bergandengan tangan dengan seluruh komunitas peduli lingkungan di Sumatera Barat. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Gerakan masyarakat adalah kekuatan utama dalam mengurangi sampah dari sumbernya,” katanya.

Tasliatul Fuadi mengungkapkan, saat ini banyak peluang pendanaan yang dapat dimanfaatkan komunitas lingkungan, baik dari pemerintah, perusahaan swasta, BUMN, lembaga filantropi, maupun lembaga donor internasional.

“Banyak sekali sumber pendanaan yang bisa diakses komunitas lingkungan, termasuk dari luar negeri. Yang terpenting adalah program yang dijalankan memiliki manfaat nyata bagi masyarakat dan mampu menciptakan dampak ekonomi,” ujarnya.