HEADLINE

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura (Bag. 5) : Osaka Terkenal dengan Julukan “Dapur Negara”

×

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura (Bag. 5) : Osaka Terkenal dengan Julukan “Dapur Negara”

Sebarkan artikel ini
Jufri Syahruddin bersama istri berada di pusat Kota Osaka. IST

Laporan: Dr. H. Jufri Syahruddin

Setelah di Tokyo, penulis melanjutkan penerbangan ke Osaka via Bandara Itami. Di Osaka ada dua bandar udara, yaitu Itami sebagai bandara domestik dan Kansai sebagai Bandara Internasional. 

Osaka terletak di wilayah Kansai, di bagian tengah-barat pulau Honshu, yaitu pulau terbesar di Jepang. ​Secara geografis, Osaka berada di tepi Teluk Osaka dan merupakan bagian dari wilayah metropolitan Keihanshin, yang menghubungkan tiga kota besar, yaitu Kyoto, Osaka, dan Kobe.

​Pada abad ke-5 hingga abad ke-7 ​Osaka berfungsi sebagai pelabuhan utama Jepang yang bernama Naniwa. Tempat ini menjadi pintu masuk bagi budaya, teknologi, dan agama (Buddhisme) dari China dan Korea ke Jepang.

Pada tahun 645 M, Kaisar Kotoku memindahkan ibu kota dari Nara ke Osaka dan membangun Istana Naniwa Nagara-Toyosaki. Meskipun status ibu kota kemudian berpindah ke Nara dan Kyoto, Osaka tetap menjadi pusat budaya dan ekonomi yang penting.

Pada tahun 1496 M, sebuah kuil besar yang berfungsi seperti benteng dibangun di dataran tinggi Uemachi. Sejak itu nama “Osaka” mulai digunakan secara luas dan sampai pada masa kini.

​Toyotomi Hideyoshi, seorang panglima perang legendaris Jepang kemudian membangun Kastil Osaka pada abad ke-16, tepatnya pada tahun 1583 M, di atas reruntuhan kuil Uemachi tersebut. Ia menjadikan Osaka sebagai pusat politik dan militer, serta menarik banyak pedagang untuk tinggal di sana.

Baca Juga  Ayo Buruan, Hanya Tersisa 4 Hari Kerja Lagi… Bank Nagari Tambah Kuota Promo HUT Ke-62 dan Ramadhan 1445 H

Osaka terus berevolusi dan pada abad ke-17 sampai ke-19. Osaka terkenal dengan julukan “Dapur Negara”. Osaka berkembang pesat sebagai pusat ekonomi dan pusat logistik. Hampir semua komoditas utama dari seluruh Jepang, terutama beras, dikumpulkan dan didistribusikan melalui Osaka. Hal inilah yang memicu julukan “Dapur Negara” atau dalam bahasa Jepang disebut “Tenka no Daidokoro“.

​Karena didominasi oleh kelas pedagang, Osaka melahirkan budaya hiburan yang khas, seperti teater boneka Bunraku dan teater Kabuki. Pada zaman modern, Osaka dikenal sebagai kota Industri dan Greater Osaka atau Osaka Raya.

​Sementara itu, pada akhir abad ke-19, Osaka bertransformasi dari kota dagang menjadi kota industri tekstil dan manufaktur yang sangat maju, hingga dijuluki sebagai “Manchester di Timur”. Selanjutnya, pada awal abad ke-20 (era Taisho), Osaka sempat menjadi kota terbesar di Jepang dalam hal populasi, melampaui Tokyo.

Meski hancur akibat pemboman selama Perang Dunia II, Osaka bangkit kembali dengan cepat dan menjadi salah satu kota metropolitan paling modern di dunia.

Fakta Unik Sejarah Osaka

Osaka juga disebut dengan ​Kota Air atau Metropolis Air karena memiliki banyak sungai dan kanal buatan yang dulunya digunakan untuk transportasi barang. Sejarah sebagai kota pedagang membuat penduduk Osaka dikenal memiliki karakter yang terbuka, humoris, dan praktis dibandingkan dengan penduduk kota lain di Jepang.

Baca Juga  Telkom Akses Raih Peringkat Emas SNI Award 2023

​Saat ini, kita dapat melihat perpaduan sejarah ini di Kastil Osaka yang ikonik atau di kuil tertua di Jepang, Shitennoji, yang didirikan oleh Pangeran Shotoku pada tahun 593 M.

Sekarang Osaka dapat dilihat dari dua kategori, yakni Kota Osaka sebagai pusat kota dan Prefektur Osaka sebagai wilayah administrasi yang lebih luas. Kota Osaka (Osaka City) adalah area inti yang mencakup distrik-distrik populer seperti Umeda, Namba, dan Shinsaibashi.

Luas wilayah kota Osaka sekitar 225 km². Dengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta jiwa, kota ini memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi karena fungsinya sebagai pusat bisnis utama di Jepang Barat.

​Sementara itu, Prefektur Osaka mencakup Kota Osaka ditambah 42 kotamadya lainnya (seperti Sakai, Higashiosaka, dan Suita). ​Luas wilayah Prefektur Osaka sekitar 1.905 km². Meskipun ini adalah prefektur terkecil kedua di Jepang berdasarkan luas lahan, signifikansinya sangat besar. Jumlah penduduknya sekitar 8,8 juta jiwa. Ini menjadikan Osaka sebagai prefektur terpadat ketiga di Jepang setelah Tokyo dan Kanagawa.

​Jika menghitung seluruh wilayah metro yang saling terhubung yakni termasuk Osaka, Kyoto, dan Kobe, ​jumlah penduduknya mencapai lebih dari 18,8 juta jiwa. Wilayah ini merupakan salah satu kawasan metropolitan terbesar dan paling produktif di dunia. (*)