AGAM, HARIANHALUAN.ID — Perlindungan terhadap anak dan remaja tidak cukup hanya dengan imbauan. Ketika kekerasan terjadi, dibutuhkan saluran pengaduan yang mudah diakses, respons cepat, serta pendampingan yang mampu membuat korban merasa aman untuk berbicara.
Kebutuhan itulah yang mendorong UPTD Puskesmas Bawan menghadirkan inovasi SAYANG BAWAN (Sistem Aduan dan Layanan Cepat Perlindungan Anak dan Remaja) di wilayah kerjanya.
Inovasi tersebut dirancang sebagai ruang pengaduan sekaligus layanan perlindungan bagi anak dan remaja yang mengalami atau mengetahui adanya dugaan kekerasan, baik secara fisik, psikis maupun seksual.
Kepala UPTD Puskesmas Bawan, Nessa Maretta, M.Keb, mengatakan kehadiran SAYANG BAWAN merupakan bagian dari upaya Puskesmas untuk memastikan persoalan kekerasan terhadap anak tidak berhenti karena korban takut atau tidak mengetahui harus melapor kepada siapa.
“Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan. Penanganan kasus kekerasan terhadap anak membutuhkan sinergi lintas sektor agar korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan secara menyeluruh,” ujar Nessa, Selasa (11/8).
Menurutnya, anak maupun remaja yang menjadi korban kekerasan sering kali berada dalam posisi sulit. Rasa takut, malu, tekanan lingkungan hingga ketidaktahuan mengenai mekanisme pengaduan dapat membuat korban memilih diam.
Karena itu, SAYANG BAWAN dirancang untuk memangkas hambatan tersebut dengan menyediakan akses pengaduan melalui QR Code dan hotline layanan.
Setiap laporan yang diterima akan dijaga kerahasiaannya dan ditindaklanjuti oleh tim yang telah dibentuk. Penanganan dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi kasus, termasuk memberikan perlindungan serta pendampingan kepada korban.
“Kami ingin anak dan remaja memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan apa yang mereka alami. Ketika ada laporan, harus ada respons dan pendampingan yang tepat,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Bawan tidak bekerja sendiri. Inovasi tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai unsur, mulai dari pihak sekolah, guru Bimbingan Konseling (BK), kepolisian hingga lembaga yang bergerak dalam perlindungan anak.
Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting karena persoalan kekerasan terhadap anak tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan. Kasus yang ditemukan dapat membutuhkan penanganan psikologis, sosial, pendidikan, hingga aspek perlindungan dan hukum.
Dengan jejaring tersebut, Puskesmas Bawan berupaya memastikan setiap laporan dapat ditangani sesuai kewenangan masing-masing pihak sehingga korban tidak harus menghadapi persoalannya seorang diri.
Namun SAYANG BAWAN tidak hanya ditempatkan sebagai layanan ketika kasus sudah terjadi. Puskesmas juga menjadikannya sebagai instrumen pencegahan melalui edukasi kepada anak dan remaja.
Edukasi dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk kekerasan, mengenali situasi yang berpotensi membahayakan, pentingnya berani mencari pertolongan, serta bagaimana melaporkan kejadian kepada pihak yang dapat memberikan perlindungan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran sejak dini bahwa kekerasan bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai hal biasa atau diselesaikan dengan cara mendiamkan korban.
“Kita ingin membangun keberanian untuk berbicara dan melapor. Anak-anak harus mengetahui bahwa ketika mereka menghadapi persoalan, ada pihak yang siap mendengar, melindungi dan membantu,” tutur Nessa.
Melalui SAYANG BAWAN, Puskesmas Bawan juga ingin mendorong keterlibatan masyarakat. Orang tua, guru, lingkungan sekolah dan masyarakat memiliki peran penting dalam mengenali tanda-tanda kekerasan serta menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Budaya saling peduli menjadi salah satu kunci agar kasus kekerasan tidak tersembunyi. Masyarakat juga diharapkan tidak menutup mata ketika mengetahui atau mencurigai adanya kekerasan terhadap anak dan remaja.
Kehadiran inovasi tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai layanan pengaduan, tetapi juga tentang bagaimana membangun sistem perlindungan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Puskesmas Bawan berharap SAYANG BAWAN dapat menjadi salah satu pintu bagi anak dan remaja untuk mendapatkan pertolongan secara cepat sekaligus memperkuat upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Melalui slogan “Berani Lapor, Bersama Kita Lindungi Anak dan Remaja”, Puskesmas Bawan mengajak seluruh elemen masyarakat membangun lingkungan yang aman, ramah anak dan mendukung tumbuh kembang generasi muda, baik secara fisik maupun mental.
“Sebab, perlindungan anak bukan hanya tugas satu lembaga. Ketika semua pihak berani peduli, berani mendengar dan berani bertindak, ruang bagi kekerasan terhadap anak dan remaja semakin dapat dipersempit,” tutupnya. (*)












