HEADLINEOLAHRAGAUTAMA

Dari Besi ke Pentas Dunia, Solikin Bawa Nama Payakumbuh Menuju Mimpi Olimpiade

×

Dari Besi ke Pentas Dunia, Solikin Bawa Nama Payakumbuh Menuju Mimpi Olimpiade

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, HARIANHALUAN.ID — Di tengah riuhnya arena angkat besi, ketika ratusan atlet muda mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat beban seberat mungkin, sosok Solikin justru berdiri tenang di sisi arena.

Tatapannya tajam mengawasi jalannya pertandingan. Setiap gerakan atlet diperhatikannya dengan saksama. Tak boleh ada kesalahan. Tak boleh ada keputusan yang keluar dari aturan.

Bagi Solikin, arena itu bukan tempat yang asing.

Pria asal Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, itu telah puluhan tahun hidup bersama olahraga angkat besi. Dari seorang atlet yang mengangkat beban demi mengejar prestasi, kini ia dipercaya duduk sebagai dewan wasit yang menentukan sah atau tidaknya perjuangan para atlet di atas arena.

Kepercayaan itu kembali diterimanya pada Kejuaraan Nasional Angkat Besi Youth & Junior Tahun 2026 yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, 18 hingga 25 Juli 2026.

Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) menugaskan delapan dewan wasit dan 19 wasit untuk memimpin pertandingan yang diikuti sekitar 300 atlet dan official dari berbagai daerah di Indonesia. Dan di antara nama-nama yang dipercaya itu, ada Solikin, putra Payakumbuh yang terus mengukir perjalanan panjangnya di dunia angkat besi.

Usianya kini telah menginjak 55 tahun. Namun, waktu rupanya tidak mampu mengikis kecintaannya terhadap olahraga yang telah membesarkan namanya itu.

Dengan perawakan tinggi, besar dan tegap, tubuh kekar berotot, serta wajah teduh, Solikin dikenal sebagai sosok yang ramah dan rendah hati. Di balik penampilannya yang gagah, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai sejak masa mudanya.

Tahun 1992 menjadi titik awal perjalanan Solikin sebagai atlet angkat besi.

Dari arena ke arena, ia mengangkat beban bukan hanya dengan kekuatan otot, tetapi juga dengan ketekunan dan disiplin. Prestasi demi prestasi diraihnya hingga membawa namanya menembus level nasional bahkan internasional.

Baca Juga  Menteri Pendidikan Tambahkan Jenis Seragam Baru untuk Siswa SD, SMP dan SMA

Namun, perjalanan Solikin tidak berhenti ketika kariernya sebagai atlet berakhir.

Ia memilih tetap tinggal di dunia yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Kali ini, bukan sebagai atlet yang mengangkat barbel, melainkan sebagai wasit yang memastikan setiap perjuangan di atas arena berlangsung sesuai aturan.

Lisensi wasit internasional telah dikantonginya. Begitu pula dengan lisensi pelatih internasional.

Sejak dipercaya menjadi wasit pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XV di Surabaya, Jawa Timur, tahun 2000, langkah Solikin semakin panjang. Berbagai ajang bergengsi telah dijalaninya. Dari kompetisi tingkat nasional hingga event internasional seperti SEA Games dan ASEAN Games.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Petugas Trantib pada Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh, Solikin tetap menyempatkan diri mengabdikan kemampuan dan pengalamannya untuk dunia angkat besi.

Saat ini, ia juga tercatat sebagai pengurus Pengprov PABSI Sumatera Barat di bidang perwasitan.

Perjalanan panjang itulah yang membuat setiap kepercayaan yang diterimanya terasa begitu berarti. Namun, di balik sederet pengalaman dan lisensi yang dimiliki, Solikin masih menyimpan satu mimpi yang belum ditaklukkannya.

Mimpi itu adalah Olimpiade.

“Saya punya impian suatu hari nanti bisa bertugas dalam Olimpiade. Karena ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya maupun Kota Payakumbuh,” ujar Solikin melalui pesan WhatsApp kepada media ini, Selasa (21/7).

Mimpi itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi Solikin, Olimpiade adalah puncak dari perjalanan panjang yang telah dimulainya lebih dari tiga dekade lalu.

Dari seorang atlet pada 1992, kemudian menjadi wasit PON pada 2000, hingga dipercaya memimpin berbagai pertandingan bergengsi di tingkat internasional, langkahnya terus bergerak menuju satu panggung yang paling ia impikan.

Baca Juga  Satresnarkoba Polres Solok Kembali Sikat Pengedar Narkoba Asal Cupak dengan 19 Paket Sabu

Ia sadar, untuk sampai ke sana tidak cukup hanya dengan pengalaman. Dibutuhkan konsistensi, integritas, kemampuan, dan kepercayaan.

Namun, Solikin tampaknya tidak ingin berhenti bermimpi.

Sebab setiap kali berdiri di tepi arena, menyaksikan atlet mengangkat beban dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, mungkin ia kembali teringat pada masa mudanya—ketika dirinya juga pernah berada di posisi yang sama, berjuang mengangkat beban dan mengejar mimpi.

Kini, beban yang diangkatnya memang berbeda.

Bukan lagi sekadar barbel, melainkan tanggung jawab untuk menjaga marwah olahraga yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Dari Payakumbuh, Solikin terus melangkah. Membawa pengalaman, membawa nama Sumatera Barat, dan tentu saja membawa nama Kota Payakumbuh ke panggung yang lebih luas.

Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman pun menyampaikan rasa bangganya atas kiprah Solikin. Menurutnya, keberadaan Solikin di berbagai ajang olahraga nasional dan internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Payakumbuh.

“Kami berharap semoga Solikin sukses, semakin menyala dan kami mendoakan semoga impiannya menjadi wasit Olimpiade diijabah oleh Allah SWT,” kata Elzadaswarman saat bertemu Solikin di ruang kerjanya beberapa hari lalu.

Bagi Solikin, perjalanan belum selesai.

Semarang hanyalah satu persinggahan dari perjalanan panjang yang telah dimulainya puluhan tahun lalu.

Dan di balik arena, di balik peluit dan keputusan seorang wasit, masih ada satu mimpi yang terus ia jaga: suatu hari nanti berdiri di arena Olimpiade, membawa nama Payakumbuh ke panggung olahraga terbesar dunia. (*)