Penulis. Dr. Ir. Harison, M.Kom, M.Pd.T, IPP, IPM
Sekretaris Prodi Profesi Insinyur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas
Di lereng Gunung Singgalang, Nagari Sungai Tanang, Kabupaten Agam, dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa berupa mata air yang jernih, melimpah, dan tidak pernah berhenti mengalir. Salah satu yang paling dikenal adalah Mata Air Tiagan, sumber kehidupan yang selama puluhan tahun telah memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Namun, di balik limpahan air tersebut tersimpan sebuah pertanyaan besar, mengapa sumber daya yang begitu berharga itu belum sepenuhnya mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat pemiliknya.
Sesungguhnya, kualitas Mata Air Tiagan tidak perlu lagi diragukan. Sejak tahun 1977, mata air ini telah dimanfaatkan secara resmi oleh PDAM Kota Bukittinggi, yang kini bernama Perumda Air Minum Tirta Jam Gadang, sebagai salah satu sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Bukittinggi. Hampir lima dekade lamanya air dari Sungai Tanang mengalir menuju ribuan rumah pelanggan di kota tersebut. Fakta ini menjadi bukti bahwa kualitas, kontinuitas debit, dan kelayakan mata air Sungai Tanang telah teruji oleh waktu.
Tidak hanya dimanfaatkan oleh Perumda Air Minum Tirta Jam Gadang, sumber air tersebut juga telah dikelola oleh Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Sungai Tanang untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat setempat melalui jaringan perpipaan yang mengalir langsung ke rumah-rumah penduduk. Selain itu, kerja sama pemanfaatan sumber air oleh Perumda Air Minum Tirta Jam Gadang juga memberikan kontribusi pendapatan tahunan kepada BUMNag Sungai Tanang, sehingga keberadaan mata air tersebut telah memberikan manfaat ekonomi bagi nagari. Namun demikian, manfaat tersebut masih dapat ditingkatkan melalui hilirisasi sehingga nilai tambah ekonomi yang diperoleh masyarakat menjadi jauh lebih besar.
Inilah yang melatarbelakangi lahirnya Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKMDB) Universitas Andalas dengan judul Transformasi Nagari Sungai Tanang Menuju Kemandirian Berkelanjutan melalui Pendidikan, Hilirisasi Riset, dan Pengembangan Bisnis Lokal. Program ini berangkat dari keyakinan bahwa pembangunan nagari tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam, tetapi harus mampu mengubah potensi tersebut menjadi produk bernilai ekonomi melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu fokus utama program adalah mendirikan unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) berbasis Mata Air Tiagan. Gagasan ini bukan sekadar membangun sebuah industri air minum, tetapi membangun sebuah ekosistem ekonomi baru yang melibatkan masyarakat sebagai
pelaku utama. Air yang selama ini hanya dijual sebagai air baku diharapkan dapat diolah menjadi produk jadi dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh daerah lain, tetapi juga oleh masyarakat Sungai Tanang sendiri.
Yang menarik, gagasan tersebut lahir melalui proses musyawarah bersama masyarakat. Dalam pertemuan antara Tim PKM-DB Universitas Andalas dengan Pemerintah Nagari Sungai Tanang, Wali Nagari, Ketua BAMUS, perangkat nagari, tokoh masyarakat, dan unsur terkait, disepakati bahwa pengembangan AMDK menjadi salah satu prioritas pembangunan ekonomi nagari. Pada kesempatan tersebut, Wali Nagari bersama Ketua BAMUS meminta waktu untuk mempersiapkan lima orang masyarakat yang akan ditunjuk sebagai calon pengelola unit usaha AMDK. Kelima orang tersebut nantinya akan memperoleh pelatihan, pembinaan, dan pendampingan langsung dari tim Universitas Andalas sehingga mampu mengelola usaha secara profesional, mandiri, dan berkelanjutan. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa program benar-benar dibangun atas aspirasi masyarakat, bukan sekadar gagasan dari perguruan tinggi.






