Oleh : Yosmed Hidayat (G3601251007); Mikrobiologi, IPB University
Sejarah vaksin adalah kisah panjang tentang bagaimana manusia belajar menjinakkan musuh tak kasatmata. Berawal dari pengamatan sederhana terhadap penyakit cacar, kini berkembang menjadi teknologi genetika canggih yang mampu merespons pandemi global dalam hitungan bulan.
Sebelum dunia mengenal istilah “vaksin” secara ilmiah, sekitar abad ke-10 masyarakat Tiongkok dan India telah mempraktikkan metode pencegahan cacar yang dikenal sebagai variolasi. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan materi dari luka penderita cacar ringan ke tubuh orang sehat. Pada masanya teknik ini menjadi harapan dalam mengatasi wabah mematikan. Praktik tersebut kemudian diperkenalkan ke Eropa oleh Lady Mary Wortley Montagu awal abad ke-18 dan membuka babak baru dalam upaya manusia melawan penyakit menular. Meskipun variolasi dapat menurunkan angka kematian akibat cacar, prosedur ini tetap berisiko karena menggunakan virus cacar manusia yang masih memiliki tingkat keganasan tinggi (virulen).
Namun perubahan besar benar-benar terjadi pada tahun 1796, ketika seorang dokter Inggris bernama Edward Jenner melakukan eksperimen yang mengguncang dunia medis. Ia mengamati bahwa pemerah susu yang pernah terinfeksi cacar sapi tampak kebal terhadap cacar manusia. Dengan keberanian ilmiah, Jenner mengambil cairan (nanah) yang terdapat pada lepuhan luka cacar sapi dan menginokulasikannya kepada seorang anak laki-laki. Hasilnya mengejutkan: anak tersebut terlindungi dari cacar manusia yang mematikan. Dari sinilah istilah “vaksin” lahir, berasal dari kata Latin vacca, yang berarti sapi. Penemuan Jenner menjadi fondasi pencegahan penyakit menular yang dilakukan manusia secara ilmiah.
Beberapa dekade kemudian, Louis Pasteur memperluas cakrawala vaksinasi melalui percobaan skala laboratorium di Paris. Pada tahun 1879 seorang ilmuan Prancis Louis Pasteur sedang melakukan pengatan tentang penyakit kolera pada ayam. Setiap kali isolat bakteri murni penyebab penyakit kolera yang telah diisolasi disuntikkan ke ayam sehat, hasilnya hampir selalu sama, dimana ayam jatuh sakit dan mati. Polanya yang jelas semakin memperkuat teorinya yang menyatakan kuman memang penyebab penyakit. Namun suatu kejadian tak terduga mengubah arah penelitian ini secara dramatis. Sebelum pergi berlibur, Pasteur memberi instruksi kepada asistennya untuk menyuntikkan ayam dengan kultur terbaru yang telah disiapkan. Karena lupa, kultur-kultur itu dibiarkan menumpuk di rak laboratorium tanpa digunakan selama beberapa minggu. Ketika asistennya kembali dari liburan dan akhirnya melakukan inokulasi yang tertunda itu, hasil yang muncul sangat berbeda dari yang biasa terjadi dimana ayam-ayam yang diinokulasi tidak mati dan hanya menunjukkan gejala ringan sebelum pulih sepenuhnya (Barranco, C., 2020).
Sebagai ilmuwan yang selalu penuh rasa ingin tahu, Pasteur tidak menganggap hasil ini sebagai sekadar “kultur yang kurang baik”. Ia justru terpesona dengan fenomena tersebut. Untuk menguji hipotesanya, ia kemudian mengambil ayam yang telah sembuh tersebut dan menyuntik kembali dengan kultur bakteri P. multocida yang baru dan sangat virulen. Jika kultur sebelumnya membuat ayam selamat, maka kultur segar seharusnya dengan mudah membunuh mereka. Namun yang terjadi adalah ayam-ayam itu tetap sehat, tanpa tanda-tanda penyakit berat. Sementara ayam yang tidak pernah mendapatkan inokulasi awal mati seperti biasa ketika diinokulasi dengan kultur bakteri baru. Disinilah Pasteur menyadari sesuatu yang revolusioner dimana kuman yang telah “dilemahkan” ternyata mampu melindungi tubuh dari serangan berikutnya.
Konsep ini kemudian dikenal sebagai atenuasi yaitu suatu prinsip bahwa mikroorganisme dapat dilemahkan sehingga sehingga kehilangan tingkat virulensi, tetapi tetap mampu merangsang kekebalan tubuh. Gagasan ini memperluas terobosan yang menjadi cikal bakal pengembangan vaksin antraks dan rabies. Dalam pidato ilmiahnya pada Kongres Medis Internasional di Inggris, yang dimuat dalam The British Medical Journal (1881), Pasteur memberikan penghormatan kepada jasa dan pengabdian luar biasa yang diberikan oleh salah satu tokoh terbesar Inggris, Edward Jenner.
Yang membuat kisah ini menjadi luar biasa bukanlah peristiwa kebetulan yang dialami, melainkan cara Pasteur tidak melihat hasil tak terduga sebagai kegagalan, melainkan memahaminya sebagai petunjuk. Dari hal kecil yang tak terduga, lahirlah prinsip besar yang menyatakan bahwa kuman penyebab penyakit dapat dikendalikan dan diubah menjadi pelindung kehidupan. Menurut Smith (2012), temuan ini menjadi dasar prinsip atenuasi yang memperluas vaksinologi dari pendekatan empiris menjadi eksperimen biologis terkontrol, sehingga membangun kerangka konseptual dalam pengembangan vaksin dapat dipahami secara rasional.
Mendekati abad ke-20, pengembangan vaksin ditandai dengan kemajuan dalam imunologi dan teknologi kultur sel. Vaksin polio yang dikembangkan oleh Jonas Salk pada 1955 merupakan bagian penting keberhasilan besar imunisasi modern. Tidak lama kemudian, Albert Bruce Sabin, seorang ahli virologi dan dokter berkebangsaan Polandia-Amerika berhasil mengembangkan vaksin polio oral (OPV) yang mempermudah imunisasi secara massal. Keberhasilan vaksinasi mencapai puncaknya ketika World Health Organization (WHO) pada tahun 1980 secara resmi menyatakan eradikasi cacar. Keberhasilan ini merupakan hasil langsung dari strategi vaksinasi global yang telah terkoordinasi
Memasuki abad ke-21, teknologi vaksin telah mengalami revolusi pada tingkat molekuler. Terjadinya pandemi COVID-19 mempercepat pengembangan vaksin berbasis mRNA oleh berbagai perusahaan seperti Pfizer dan Moderna. Berbagai pengembangan riset telah melaporkan pendekatan berbasis informasi genetik mampu menghasilkan perlindungan imun yang efektif dalam waktu relatif singkat (Polack et al. 2020; Baden et al. (2021).
Secara historis dan ilmiah, perjalanan vaksin menunjukkan evolusi metodologi, mulai dari observasi empiris Jenner, eksperimen atenuasi Pasteur, pengembangan vaksin inaktif dan hidup pada abad ke-20, hingga rekayasa genetika modern. Plotkin, S., (2014) menegaskan bahwa vaksinasi telah menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam sejarah manusia, menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahunnya.
Dengan demikian, sejarah vaksin bukan sekadar kisah tentang penemuan medis, melainkan tentang perkembangan metode ilmiah itu sendiri, bagaimana observasi, eksperimen terkontrol, dan inovasi teknologi berpadu untuk mengubah patogen penyebab penyakit menjadi alat perlindungan kehidupan. (*)
REFERENSI
Baden, L. R., El Sahly, H. M., Essink, B., Kotloff, K., Frey, S., Novak, R., Diemert, D., Spector, S.A., Rouphael, N., Creech, C.B., McGettigan, J., Khetan, S., Segall, N., Solis, J., Brosz, A., Fierro, C., Schwartz, H., Neuzil, K., Corey, L., Gilbert, P., Janes, H., Follmann, D., Marovich, M., Mascola, J., Polakowski, L., Ledgerwood, J., Graham, B.S., Bennett, H., Pajon, R., Knightly, C., Leav, B., Deng, W., Zhou, H., Han, S., Ivarsson, M., Miller, J. & Zaks, T. (2021). Efficacy and safety of the mRNA-1273 SARS-CoV-2 vaccine. New England journal of medicine, 384(5), 403-416.
Barranco, C. (2020). The first live attenuated vaccines. Nat Milestones, 284, S7.
Montero, D. A., Vidal, R. M., Velasco, J., Carreño, L. J., Torres, J. P., Benachi O, M. A., Tovar-Rosero, Y-Y. & O’Ryan, M. (2024). Two centuries of vaccination: historical and conceptual approach and future perspectives. Frontiers in public health, 11, 1326154.
Plotkin, S. (2014). History of vaccination. Proceedings of the National Academy of Sciences, 111(34), 12283-12287.
Polack, F. P., Thomas, S. J., Kitchin, N., Absalon, J., Gurtman, A., Lockhart, S., Perez, J.L., Marc, G. P., Moreira, E.D., Zerbini, C., Bailey, R., Kena A. Swanson, K.A., Roychoudhury, S., Koury, K., Li, P., Kalina, W, V., Cooper, D., Frenck, R.W., Hammitt, L., Türeci, O., Nell, H., Schaefer, A., Ünal, S., Tresnan, D.B., Susan Mather, S., Dormitzer, P.R., Şahin, U., Kathrin U. Jansen, K.U., and William C & Gruber, W. C. (2020). Safety and efficacy of the BNT162b2 mRNA Covid-19 vaccine. New England journal of medicine, 383(27), 2603-2615.
Schwartz, M. (2022). The Pasteurian contribution to the history of vaccines. Comptes Rendus. Biologies, 345(3), 93-107.






