Ujian Otonomi Strategis
Ke depannya, potensi terealisasinya sisa komitmen investasi sangat bergantung pada bagaimana Indonesia menavigasi krisis Selat Hormuz. Kunjungan terakhir ke Moskow dan Paris menunjukkan kecerdikan sekaligus mengandung risiko tinggi. Di Moskow, Indonesia mendapatkan jaminan pasokan energi untuk meredam inflasi domestik. Di Paris, Indonesia mempererat hubungan keamanan dengan kekuatan nuklir Eropa. Langkah “Natural Hedging” ini dilakukan dengan memanfaatkan posisi strategis laut-laut Indonesia (Selat Malaka dan Selat Sunda) sebagai jalur utama energi Asia Timur untuk menaikkan daya tawar di meja perundingan.
Proyeksi menunjukkan bahwa sekitar 55 hingga 60 persen dari total komitmen investasi asing dapat terealisasi secara fisik pada akhir 2029, asalkan stabilitas politik dalam negeri tetap terjaga dan lembaga seperti Danantara mampu berperan efektif sebagai pengelola dana abadi negara (Sovereign Wealth Fund). Kehadiran Danantara yang mulai aktif pada awal 2026 diharapkan dapat menjadi “Partner Investasi” yang memberikan jaminan bagi investor asing melalui skema pembagian risiko (calculated risk). Investasi di sektor-sektor seperti mineral kritis, semikonduktor, dan pusat data memiliki peluang realisasi lebih tinggi karena merupakan bagian dari kebutuhan rantai pasok global yang bersifat mendesak.
Pendeknya, rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memang membuahkan hasil yang impresif dalam hal penggalangan komitmen investasi dunia. Namun, analisis menunjukkan bahwa Indonesia juga sedang menanggung beban pengeluaran yang tidak sedikit untuk keamanan dan energi demi mengejar investasi yang masih bersifat probabilitas. Sehingga tanpa reformasi birokrasi yang radikal di tingkat domestik untuk menjamin kepastian hukum, dikhawatirkan surplus komitmen investasi ini hanya akan berakhir sebagai “janji diplomatik” di tengah kewajiban pembayaran belanja luar negeri yang terus berjalan. (*)












