Iskandar juga mengusulkan agar wisata warisan budaya (heritage tourism) Sumatera Barat dikembangkan secara terintegrasi dengan menghubungkan Jam Gadang, Warisan Dunia UNESCO Ombilin Sawahlunto, Indarung I yang telah menjadi Cagar Budaya Nasional dan arsipnya diakui UNESCO Memory of the World Asia-Pacific, serta Teluk Bayur atau Emmahaven sebagai gerbang perdagangan internasional.
“Dengan demikian, wisatawan dapat menikmati kisah utuh perjalanan Sumatera Barat: batubara dari Sawahlunto, semen dari Indarung, distribusi melalui Teluk Bayur, dan kemajuan zamannya yang tercermin dalam Jam Gadang. Jika Jam Gadang adalah ikon waktunya, maka Sawahlunto, Indarung, dan Teluk Bayur adalah saksi industrialisasi dan peradabannya,” ujar Iskandar.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa, pertama, Jam Gadang sangat aman secara struktural karena tidak ditemukan kerusakan struktural yang signifikan setelah gempa besar Sumatera pada 2007 dan 2009.
Kedua, hasil investigasi mengonfirmasi bahwa struktur utama bangunan menggunakan sistem beton bertulang, sehingga membantah berbagai anggapan yang berkembang selama ini mengenai konstruksi Jam Gadang. Ketiga, pondasi bangunan masih sangat baik. Tidak ditemukan indikasi penurunan maupun kerusakan pondasi. Keempat, tidak diperlukan penguatan struktur. Pada tahap rehabilitasi saat ini, penambahan atau perkuatan struktur belum diperlukan. Kelima, fokus konservasi lebih diarahkan pada perlindungan elemen arsitektur, pengurangan beban bangunan, pembatasan jumlah pengunjung, serta monitoring berkala terhadap kondisi struktur.
Selain meluruskan sejarah konstruksi, Iskandar juga memberikan catatan terhadap narasi yang kerap mengaitkan Jam Gadang dengan menara jam terkenal Big Ben di London.
Menurutnya, berdasarkan berbagai referensi sejarah, mesin Jam Gadang diproduksi oleh Benhard Vortmann di Recklinghausen, Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mekanisme yang dibuat oleh Dent & Co. di London, Inggris.
“Jadi, sebenarnya kedua jam tersebut dibuat oleh perusahaan yang berbeda. Karena itu, penting bagi kita untuk menyampaikan sejarah berdasarkan fakta agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penulisan angka Romawi IIII pada sisi jam bukanlah sebuah kekeliruan ataupun keunikan yang hanya dimiliki Jam Gadang. Penulisan tersebut merupakan praktik yang lazim digunakan pada berbagai menara jam klasik di Eropa sebagai bagian dari tradisi estetika dan keseimbangan visual.
Menanggapi hal tersebut, Ahli Utama Kementerian Pariwisata Nia Niscaya mengatakan bahwa pertanyaan Direktur Keuangan PT Semen Padang akan menjadi masukan untuk menambah pengetahuan ke depannya.
“Ini akan menjadi masukan yang positif bagi kami,” ujarnya.












