Kisah penggunaan putih telur dalam pembangunan Jam Gadang telah menjadi cerita yang diwariskan secara turun-temurun dan bahkan sering disampaikan kepada wisatawan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa cerita tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari folklor masyarakat, bukan sebagai fakta utama konstruksi bangunan.
Cerita sejarah lain justru menunjukkan besarnya kontribusi masyarakat lokal dalam pembangunan Jam Gadang. Vesco Datuak Rajo Mangkuto, keturunan A Datuak Rajo Dilangik yang dikenal sebagai pemasok bata merah pembangunan Jam Gadang, menceritakan bahwa bata diproduksi secara tradisional menggunakan tanah liat yang diolah dengan bantuan kerbau. Sebelum digunakan, setiap bata diuji kualitasnya dengan cara dijatuhkan dari pedati untuk memastikan hanya bata terbaik yang dipakai dalam pembangunan.
Dari penelusuran sejarah lokal, A Datuak Rajo Dilangik pernah dianugerahi bintang emas tokoh daerah oleh Wali Kota Bukittinggi, sebagai pengakuan kontribusinya.
Memasuki usia satu abad pada 2026, Jam Gadang tetap berdiri kokoh sebagai ikon Kota Bukittinggi sekaligus saksi perkembangan teknologi konstruksi di Indonesia. Menara setinggi sekitar 28,3 meter itu telah bertahan menghadapi berbagai gempa besar yang melanda Sumatera Barat.
Bagi PT Semen Padang, fakta sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan industri semen nasional telah beriringan dengan lahirnya berbagai bangunan bersejarah di Indonesia.
Di sisi lain, diskusi yang berkembang dalam seminar internasional itu memperlihatkan pentingnya membangun narasi sejarah berbasis penelitian ilmiah sehingga warisan budaya tidak hanya dikenang melalui legenda, tetapi juga dipahami melalui fakta, ilmu pengetahuan, dan pencapaian teknologi pada zamannya. (*)












