PADANG, HARIANHALUAN.ID — Pimpinan Redaksi Garuda TV Atika Suri berbagi pengalaman dan ilmu jurnalistik, public speaking serta komunikasi publik di era digital kepada mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (UNAND), Senin (14/9/2026).
Atika Suri menjadi salah satu narasumber dalam Klinik Public Speaking dan Manajemen Konten Social Media yang digelar Himpunan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (HIMASTERIKOM) UNAND bersama Program Studi S2 Magister Ilmu Komunikasi.
Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Mochtar Naim, Kampus Pascasarjana FISIP UNAND, Jati, Kota Padang. Selain Atika Suri, kegiatan juga menghadirkan Head of Digital Garuda TV Rosidin dan dimoderatori Sekretaris Magister Ilmu Komunikasi Dr. M.A Dalmenda. M.Si
Dalam paparannya, Jurnalis Perempuan senior Indonesia berdarah Payakumbuh itu menyampaikan materi berjudul “Ketika Pemerintah Kehilangan Kendali Narasi: Komunikasi Publik Pemerintah dari Perspektif Media.”
Menurut Atika Suri, perkembangan teknologi digital hari ini telah mengubah pola komunikasi publik. Informasi tidak lagi bergerak satu arah dari pemerintah atau institusi kepada masyarakat, tetapi berkembang menjadi komunikasi dua arah bahkan multi-arah.
“Teknologi digital memungkinkan kita mengakses informasi ter-update dan membuat komunikasi dua arah atau multi arah. Teknologi digital membuka cara-cara baru untuk memberikan feedback terhadap sajian tayangan digital,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan tersebut membuat kemampuan berkomunikasi menjadi semakin penting. Public speaking bukan hanya persoalan berbicara di depan orang banyak, tetapi bagaimana pesan dan gagasan dapat disampaikan secara tepat kepada audiens.
Terlebih di era digital, kesalahan dalam menyampaikan pesan dapat berkembang dengan sangat cepat. Dalam materi yang disampaikannya, Atika menyebut blunder komunikasi publik tidak hanya membuat tujuan komunikasi gagal tercapai, tetapi juga dapat menghasilkan efek bumerang yang memperburuk keadaan.
“Di era digital dengan penyebaran informasi yang sangat cepat, sebuah pernyataan blunder dapat menjadi viral dalam hitungan menit,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan karakter media juga membuat publik tidak lagi sekadar menjadi penerima informasi. Masyarakat kini dapat memberikan respons, menyebarkan kembali informasi dan menentukan sendiri informasi apa yang dianggap relevan.
Atika menilai kondisi tersebut harus dipahami oleh siapa pun yang bekerja dalam komunikasi publik, termasuk pemerintah. Sebab, masyarakat tidak membaca seluruh siaran pers yang dikeluarkan pemerintah.
“Publik menentukan apa yang ingin dibaca, siapa yang dipercaya, informasi mana yang dianggap relevan dan informasi mana yang dibagikan,” katanya.
Karena itu, Atika Suri mendorong agar pesan komunikasi publik tidak berhenti pada kegiatan atau pejabat yang menyampaikan informasi. Informasi harus menjawab persoalan yang lebih dekat dengan kepentingan masyarakat.
Ia mencontohkan, informasi mengenai kebijakan pemerintah seharusnya tidak hanya berisi anggaran, regulasi, program dan indikator. Media dan publik lebih membutuhkan informasi mengenai dampak kebijakan tersebut.
“Media mencari dampak. Siapa yang kehilangan, mendapatkan, menunggu, terdampak, mengalami perubahan,” paparnya.
Menurut Atika, cara pandang tersebut penting agar sebuah kebijakan dapat diterjemahkan menjadi cerita yang relevan bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya data dan bukti dalam setiap komunikasi publik. Pernyataan mengenai keberhasilan suatu program, misalnya, akan lebih kuat jika disertai ukuran yang jelas dan pengalaman masyarakat yang merasakan manfaatnya.
“Data plus bukti plus manusia sama dengan komunikasi yang kredibel,” tegasnya.












