BREAKING NEWS

ISPU Mati, Hotspot Tembus 200 Titik, DLH Sumbar Minta Warga Waspada Kabut Asap

×

ISPU Mati, Hotspot Tembus 200 Titik, DLH Sumbar Minta Warga Waspada Kabut Asap

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID— Pemantauan kualitas udara di Sumatera Barat menghadapi kendala setelah alat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang berada di depan Kantor Gubernur Sumbar mengalami kerusakan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi, mengatakan kerusakan alat tersebut telah diketahui sejak Juni lalu. Kebocoran pada bagian atap menjadi salah satu persoalan yang menyebabkan alat pemantauan tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Kita sudah mengetahui sejak bulan Juni. Ada kerusakan, ada kebocoran pada atapnya. Ini pemantauannya langsung dari kementerian. Kami sudah melaporkannya semenjak bulan Juni kepada Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya kepada Haluan Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, laporan terkait kerusakan tersebut kembali disampaikan kepada pemerintah pusat pada Kamis (13/8/2026)  sore melalui Direktur terkait di Kementerian Lingkungan Hidup.Laporan itu, telah diteruskan kepada pimpinan untuk segera ditindaklanjuti.

Baca Juga  Shin Tae-yong Rasakan Pengalaman Bersama Hyundai STARGAZER di GIIAS 2022

“Kita berharap segera diperbaiki agar kita bisa mengantisipasi dan memantau kondisi udara secara real time, terutama di masa El Nino,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap pemantauan kualitas udara secara real time dinilai semakin penting seiring memasuki periode kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tasliatul Fuadi mengatakan, berdasarkan koordinasi DLH dengan Dinas Kehutanan serta pemantauan satelit NOAA, terdapat lebih dari 200 titik hotspot di Sumbar sepanjang 1 hingga 13 Agustus 2026.

Hotspot tersebut tersebar di sejumlah daerah, di antaranya Dharmasraya, Sijunjung, Pesisir Selatan, Pasaman, Pasaman Barat dan Limapuluh Kota.

“Dari pantauan kita, koordinasi dengan Dinas Kehutanan, juga pantauan dari satelit NOAA, dari sekitar tanggal 1 Agustus sampai 13 Agustus, terpantau sekitar 200-an lebih titik hotspot di Sumatera Barat,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Sumbar tengah memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang.

Baca Juga  OJK Cabut Izin BPR Lubuk Raya Mandiri di Lubeg, Nasabah Diimbau Tetap Tenang

Tasliatul Fuadi menyebut informasi BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa periode puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September.

Meski secara visual mulai terlihat seperti kabut asap di sejumlah wilayah di Sumatra Barat, namun Tasliatul memastikan hasil pemantauan kualitas udara yang masih tersedia belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan pemantauan alat yang berada di Padang Pariaman, parameter kualitas udara selama 13 hari terakhir masih berada pada kategori baik hingga sedang.

“Dari hasil pemantauan alat kita yang ada di Padang Pariaman, sebenarnya dari parameter-parameter yang dipantau, sesuai indikatornya kualitas udara di Sumatera Barat meskipun secara visual terlihat seperti ada kabut asap, namun masih dalam batas-batas kondisi baik sampai sedang,” jelasnya.