BREAKING NEWS

ISPU Mati, Hotspot Tembus 200 Titik, DLH Sumbar Minta Warga Waspada Kabut Asap

×

ISPU Mati, Hotspot Tembus 200 Titik, DLH Sumbar Minta Warga Waspada Kabut Asap

Sebarkan artikel ini

Kondisi tersebut, lanjutnya, belum masuk kategori tidak sehat, sangat tidak sehat maupun kondisi berbahaya.

“Belum sampai kepada tingkat tidak sehat, apalagi sangat buruk. Masih kondisi lebih baik, masih hijau,” katanya.

Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah Sumbar pada Jumat (14/8) juga diharapkan membantu memperbaiki kualitas udara sekaligus mengurangi konsentrasi asap.

“Kita sangat berharap kembali normal, kabut asap di Sumatera Barat bisa hilang dan kualitas udaranya semakin baik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, kemunculan kabut asap di Sumbar tidak serta-merta berasal dari aktivitas pembakaran di dalam daerah. Potensi kontribusi asap dari provinsi tetangga juga perlu diperhitungkan, mengingat sejumlah wilayah di sekitar Sumbar tengah menghadapi peningkatan hotspot. Di antaranya Jambi, Sumatera Selatan, Riau dan Sumatera Utara.

Menurut Tasliatul, jumlah hotspot di Sumatera Selatan bahkan mencapai ribuan titik dalam periode yang sama. Kondisi serupa juga terjadi di Jambi dan Riau yang memiliki kawasan gambut cukup luas.

Baca Juga  Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Sumbar Perlu Dievaluasi

“Bisa jadi arah angin yang membawa ke arah barat ke kita itu bisa menambah dampak daripada kabut asap yang terjadi,” katanya.

Karena itu, menurut dia, pemantauan hotspot dan kualitas udara perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan kondisi udara Sumbar.

Di tengah meningkatnya risiko karhutla, DLH Sumbar meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Tasliatul Fuadi mengimbau masyarakat yang membuka lahan, baik untuk perkebunan maupun perladangan, agar tidak menggunakan metode pembakaran.

“Karena adanya informasi dari BMKG, kita memasuki masa kemarau panjang. El Nino ini membawa angin yang kering dan mudah terbakar apabila dilakukan pembakaran karena suhunya panas,” katanya.

Baca Juga  Berikut Data Korong di Padang Pariaman yang Dilanda Banjir dan Longsor

Larangan serupa juga berlaku bagi aktivitas di kawasan hutan. Masyarakat yang melakukan aktivitas di hutan diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi vegetasi yang kering membuat api kecil sekalipun berpotensi memicu kebakaran.

“Jangan membuang puntung rokok sembarangan,” tegasnya.

Tidak hanya di kawasan hutan, masyarakat di permukiman juga diminta tidak membakar sampah. Menurut Tasliatul Fuadi, pembakaran sampah justru dapat menambah konsentrasi asap dan menghasilkan zat yang berbahaya bagi kesehatan.

Imbauan juga ditujukan kepada para petani agar tidak membakar jerami setelah panen. DLH mendorong jerami dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos atau bagian dari pengelolaan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

“Jangan membakar jerami, tetapi gunakan prinsip pertanian yang sudah dianjurkan Dinas Pertanian, dengan menjadikan jerami sebagai pupuk kompos tanaman,” pungkasnya. (*).