KESEHATAN

Japfa for Kids Bawa Perubahan Nyata Menembus 28 Provinsi, Ketika Edukasi Diiringi Perubahan Perilaku

×

Japfa for Kids Bawa Perubahan Nyata Menembus 28 Provinsi, Ketika Edukasi Diiringi Perubahan Perilaku

Sebarkan artikel ini

PADANG, HALUAN — Perubahan besar sering kali tidak datang dengan suara gemuruh. Ia bisa bermula dari hal yang sangat sederhana. Misalnya saja satu butir telur di kotak bekal, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, dan seorang anak yang mulai memahami arti hidup sehat.

Pagi itu di ruang Kelas SDN 06 Batang Anai, seorang guru tersenyum melihat muridnya datang membawa bekal nasi, telur, dan sayur. Anak yang sebelumnya kerap berangkat sekolah tanpa sarapan itu kini tidak hanya makan lebih baik, tetapi juga rajin mencuci tangan dan mengingatkan teman-temannya melakukan hal yang sama.

Bagi banyak orang, perubahan itu mungkin tampak biasa. Namun laporan perubahan perilaku siswa yang diterima tim JAPFA for Kids menunjukkan itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Delapan belas tahun perjalanan program ini tidak hanya berbicara tentang makanan bergizi, melainkan tentang perubahan perilaku yang perlahan tumbuh di ruang kelas, di rumah, dan di lingkungan tempat anak-anak dibesarkan. Dari perubahan kecil itulah, harapan besar mulai dibangun.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan pengalaman paling berkesan selama pelaksanaan program di Sumatera Barat justru lahir dari perubahan yang terjadi secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari para siswa.

“Di awal program, masih banyak siswa yang belum terbiasa mengonsumsi protein hewani secara rutin, membawa bekal bergizi, maupun menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Seiring berjalannya program, guru dan orang tua mulai melihat perubahan tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujarnya kepada Haluan, Rabu (15/8/2026).

Menurutnya, dampak JAPFA for Kids tidak hanya tercermin pada peningkatan status gizi, tetapi juga pada terbentuknya perilaku hidup sehat yang diharapkan tetap bertahan bahkan setelah program selesai.

Perjalanan JAPFA for Kids di Sumatera Barat dimulai sejak 2010. Dari Kabupaten Padang Pariaman hingga Kota Payakumbuh, program kemudian bergerak ke berbagai daerah seperti Lintau Buo, Harau, Pasaman, Pasaman Barat, Sangir, IV Jurai, hingga Batang Anai.

Selama belasan tahun pelaksanaannya di Ranah Minang, program ini telah menjangkau puluhan sekolah dan ribuan siswa. Pada 2025, JAPFA for Kids hadir di Kecamatan Lintau, Kabupaten Tanah Datar, dengan melibatkan 14 sekolah, 1.665 siswa, dan 161 guru. Setahun kemudian, pada 2026, program diperluas di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, menjangkau 12 sekolah, 2.733 siswa, dan 203 guru.

Sekolah-sekolah itu tersebar di nagari dan kampung, mulai dari UPT SDN 01 Pangian, UPT SDN 02 Taluak, UPT SDN 03 Tigo Jangko, hingga SDIT Nurul Ummah di Lintau, serta SDN 1 Batang Anai, SDN 2 Batang Anai, SDN 20 Batang Anai, hingga SDN 6 Pasir Jambak di Padang Pariaman. Setiap sekolah bukan sekadar titik program, melainkan tempat tumbuhnya harapan baru.

Baca Juga  Ancaman Nyata bagi Generasi Z, Jajanan Tak Sehat Jadi Pemicu Utama Asam Lambung

Kini, perjalanan itu telah melampaui batas. Secara nasional, hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota dan 28 provinsi.

Dari ruang kelas di Batang Anai dan sekolah-sekolah lain di berbagai penjuru Indonesia, satu tujuan tetap sama yakni membantu anak-anak tumbuh lebih sehat dan menerapkan perilaku hidup sehat.

Ketika Data Menguatkan Cerita

Cerita perubahan itu tidak hanya terasa, tetapi juga terukur.

Rachmat mengungkapkan, pada Juli 2025 terdapat 128 siswa yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Setelah program berjalan selama enam bulan, hingga Januari 2026, sebanyak 57,4 persen siswa berhasil meningkatkan Indeks Massa Tubuh (IMT) hingga mencapai status gizi normal.

Artinya, lebih dari separuh anak yang sebelumnya berada dalam kondisi gizi bermasalah berhasil kembali ke kategori normal.

“Perubahan yang paling terlihat adalah peningkatan status gizi anak penerima manfaat,” katanya.

Namun JAPFA menilai keberhasilan tidak berhenti pada angka timbangan dan pengukuran tinggi badan. Program juga memantau perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa maupun orang tua.

Secara nasional, dampak program juga menunjukkan tren yang semakin kuat. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau 51,5 persen. Pada 2025, angkanya naik menjadi 646 dari 1.034 siswa atau 62,5 persen.

Indikator keberhasilan ini bukan hanya statistik nasional, tetapi juga perubahan nyata yang terlihat di wajah anak-anak.

Bukan Sekadar Memberi Makan

Banyak program perbaikan gizi identik dengan pemberian makanan tambahan. JAPFA memilih pendekatan yang lebih panjang yakni menggabungkan intervensi gizi dengan edukasi dan pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Pemberian makanan bergizi penting, tetapi manfaatnya akan lebih optimal apabila diikuti edukasi yang membangun pemahaman dan kebiasaan hidup sehat,” tutur Rachmat.

Melalui edukasi, anak-anak diajarkan pentingnya gizi seimbang, konsumsi protein hewani, kebersihan diri, dan PHBS. Guru dan orang tua dilibatkan agar perubahan tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut di rumah.

Pendekatan ini membuat program tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengajarkan cara menjaga kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi Terintegrasi dan Kolaborasi

Sebelumnya, Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan program dijalankan melalui berbagai strategi terintegrasi, antara lain pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, serta pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA.

Baca Juga  Jurus Kolaborasi Japfa Comfeed Sukseskan Pengentasan  Stunting Hingga Dorong Optimalisasi  Potensi Ekonomi Sumbar

“Program ini juga dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan monitoring berkala agar dampak program dapat terukur secara konsisten,” ujarnya.

Sementara itu, Head of HR & GA JAPFA Comfeed Indonesia Unit Padang, Yosi Puspa Sari, mengatakan JAPFA for Kids menerapkan prinsip sharing contribution.

“JAPFA hadir tidak hanya sebagai donatur, melainkan sebagai mitra yang mengajak sekolah, guru, orang tua, puskesmas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dan berkontribusi aktif dalam mencapai tujuan bersama,” katanya.

Keberhasilan program, menurut Rachmat, tidak mungkin dicapai sendirian. Guru menjadi pengingat harian bagi siswa, orang tua mulai memperhatikan isi bekal anak, puskesmas membantu pemantauan kesehatan dan status gizi, sementara pemerintah daerah mendukung pelaksanaan program di lapangan.

Kolaborasi inilah yang membuat perubahan perilaku memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.

Peluang Menjangkau Wilayah 3T

Ketika ditanya mengenai kemungkinan perluasan ke daerah 3T seperti Mentawai, Rachmat mengatakan JAPFA terbuka terhadap peluang tersebut.

Perusahaan mempertimbangkan kebutuhan di lapangan, kesiapan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan sekolah, serta keberlanjutan pendampingan program. JAPFA juga memprioritaskan sekolah-sekolah yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan agar pengawasan dan pendampingan dapat berjalan optimal.

“Apabila terdapat peluang dan dukungan yang memadai, tidak menutup kemungkinan program dapat dikembangkan ke wilayah lain di masa mendatang,” ujarnya.

CSR Harus Menjawab Kebutuhan Nyata

Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi dan akademisi UIN Imam Bonjol Padang, Huriyatul Akmal, menilai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR harus diukur dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

“Program yang disusun hendaknya memang berbasis pada kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan yang baik bukan hanya memberi manfaat sesaat, tetapi mampu membantu memulihkan dan memperkuat kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Dari Kotak Bekal Menuju Masa Depan

Dari sepenggal perjalanan 18 tahun JAPFA for Kids di Sumatera Barat hingga menembus 28 provinsi, tersimpan satu pelajaran sederhana: program gizi tidak hanya mengisi perut anak-anak, tetapi juga perlahan membentuk cara mereka hidup, tumbuh, dan bermimpi.

Mungkin perubahan itu dimulai dari satu kotak bekal kecil di Batang Anai. Namun ketika kebiasaan sehat tumbuh, ketika guru, orang tua, sekolah, puskesmas, dan pemerintah bergerak bersama, perubahan kecil itu dapat menjelma menjadi gerakan besar.

Dan dari sanalah, masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak Indonesia mulai dibangun. (h/yes)