OPINI

Ketika Algoritma Menjadi “Mamak” Baru dalam Komunikasi Kita

×

Ketika Algoritma Menjadi “Mamak” Baru dalam Komunikasi Kita

Sebarkan artikel ini

Literasi media harus berkembang menjadi literasi algoritmik. Masyarakat perlu bertanya bukan hanya, “Apakah informasi ini benar?”

Tetapi juga: “Siapa yang membuatnya?” “Untuk kepentingan apa?” “Bagaimana informasi ini sampai kepada saya?, ”Apakah saya melihat informasi ini karena memang penting, atau karena sistem mengetahui bahwa saya akan tertarik?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena komunikasi pada dasarnya tidak pernah sepenuhnya bebas dari struktur kekuasaan.

Dari Raso jo Pareso ke Literasi Digital

Menariknya, masyarakat Minangkabau sebenarnya memiliki nilai budaya yang dapat menjadi modal dalam menghadapi persoalan komunikasi digital.

Ada ungkapan raso jo pareso. Rasa berkaitan dengan kepekaan, sementara pareso mengandung makna memeriksa atau menimbang. Dalam konteks komunikasi digital, keduanya dapat dibaca kembali sebagai kemampuan untuk memiliki empati sekaligus melakukan verifikasi.

Di media sosial, kita membutuhkan “rasa” agar tidak mudah melukai orang lain dengan pesan yang kita sebarkan.

Kita juga membutuhkan “pareso” agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang belum tentu benar.

Nilai budaya semacam ini menjadi semakin penting ketika kecepatan komunikasi sering kali mengalahkan kehati-hatian.

Satu kali klik dapat membuat sebuah informasi berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya. Satu unggahan dapat menyebar jauh melampaui konteks awalnya. Sebuah potongan video dapat dipisahkan dari peristiwa yang sebenarnya dan kemudian memperoleh makna baru.

Baca Juga  Sanggar Kuda Lumping Sari Utomo, Pelestari Kesenian Jawa di Bumi Solok Selatan

Dalam keadaan demikian, kemampuan menahan diri justru menjadi bentuk kecakapan komunikasi.Tidak semua yang bisa dibagikan harus dibagikan. Tidak semua yang viral harus dipercaya. Dan tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir menjadi permusuhan.

AI dan Masa Depan Komunikasi

Tantangan tersebut semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Jika sebelumnya manusia membutuhkan waktu untuk menulis, mengedit gambar, atau memproduksi video, kini teknologi dapat membantu melakukan berbagai pekerjaan tersebut dalam waktu yang jauh lebih singkat.

AI memberikan peluang besar bagi pendidikan, bisnis, media, dan industri kreatif. Namun, ia juga menuntut tanggung jawab baru.

Di masa depan, persoalannya mungkin bukan lagi apakah sebuah teks atau gambar dibuat manusia atau mesin.

Persoalan yang lebih mendasar adalah: siapa yang bertanggung jawab atas pesan tersebut?

Teknologi dapat membantu menghasilkan pesan, tetapi tanggung jawab sosial tetap berada pada manusia yang menggunakannya.

Karena itu, perkembangan teknologi komunikasi seharusnya tidak membuat manusia menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Teknologi seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan tanggung jawab manusia.

Komunikasi yang Tetap Memanusiakan

Pada akhirnya, perjalanan komunikasi dari surat, radio, televisi, internet, media sosial hingga AI menunjukkan bahwa teknologi selalu berubah.Tetapi kebutuhan manusia sebenarnya relatif tetap.

Baca Juga  Dewan Energi Mahasiswa Sumbar Resmi Mekar, Perkuat Gerakan Dekarbonisasi

Kita ingin didengar. Kita ingin dipahami. Kita ingin memperoleh informasi yang dapat dipercaya. Kita ingin terhubung dengan orang lain. Karena itu, tantangan terbesar komunikasi masa kini bukan semata-mata bagaimana menjadi lebih cepat, lebih viral, atau lebih banyak mendapatkan perhatian.

Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana tetap menjadi manusia di tengah sistem komunikasi yang semakin otomatis.

Mungkin dahulu orang tua mengingatkan anaknya agar tidak mudah percaya pada kabar yang beredar dari mulut ke mulut. Hari ini nasihat tersebut masih relevan, hanya bentuk “mulut ke mulut” itu telah berubah menjadi share, forward, repost, dan like.

Dulu kita mungkin bertanya kepada orang yang lebih tua sebelum mempercayai sebuah kabar. Kini kita perlu bertanya kepada diri sendiri sebelum menekan tombol “bagikan”. Sebab dalam dunia komunikasi digital, setiap orang bukan hanya menjadi penerima pesan.

Kita juga telah menjadi bagian dari media itu sendiri.Dan mungkin, di situlah ukuran kedewasaan komunikasi kita hari ini: bukan seberapa cepat kita menyampaikan sesuatu, melainkan seberapa bijak kita menentukan apa yang layak disampaikan. (*)