Menggunakan kacamata Teori Komunikasi Dialektis dari Jürgen Habermas, kehadiran Rocky mengubah watak ruang Wantimpres menjadi sebuah ideal speech situation sebuah ruang publik yang ideal di mana kebijakan publik yang akan ditandatangani oleh presiden harus melewati ujian argumentasi yang bebas dari dominasi kekuasaan di ruang tertutup.
Pemerintah kini ditantang untuk mempertahankan rasionalitas kebijakannya secara metodologis sebelum regulasi dilepas ke publik.
Kendati demikian, langkah ini tentu memicu perdebatan sengit dalam lanskap teori politik.
Secara klasik, Teori Kooptasi dari Philip Selznick akan membaca fenomena ini sebagai upaya pragmatis negara untuk meredam ancaman eksternal. Negara bertindak sebagai spons yang menyerap elemen kritis ke dalam struktur formal agar stabilitas politik tetap terjaga.
Namun, oposisi biner ini menjadi cair karena watak personal Rocky yang justru membawa paradigma radical break ke dalam sistem.Â
Melalui perspektif historical institutionalism, Rocky tidak sedang menundukkan diri pada birokrasi, melainkan mencoba menggunakan institusi formal Wantimpres sebagai instrumen peretas untuk melakukan intervensi etis dari dalam.
Pertemuan Prabowo dan Rocky pada akhirnya mengembalikan esensi Wantimpres menjadi lembaga penasihat etis (ethical council), bukan sekadar penasihat teknis. Setidaknya versi Rocky akan ambil memosisikan dirinya sebagai sosok yang kritis, bukan bicara kritik.
Langkah politis yang penuh ketegangan teoretis ini membawa ingatan kita pada pituah luhur masyarakat Minangkabau yang sangat menghargai kebenaran objektif di atas segalanya: “Kato nan bana indak namuah dianjak, bak camin nan indak kabua” kebenaran itu tidak akan pernah bisa bergeser, layaknya cermin jernih yang tidak mau buram.
Pituah ini menjadi jangkar logis sekaligus beban moral bagi peran baru Rocky Gerung. Penguasa selalu membutuhkan cermin yang jujur, bukan cermin retak yang hanya menampilkan keindahan semu.
Setidaknya ada keyakinan publik ketika Rocky memutuskan masuk ke dalam sistem dengan janji tetap memelihara fungsi kritisnya, ia sedang memposisikan dirinya sebagai cermin yang tidak kabur tersebut.
Tugasnya bukan mengurusi urusan teknis kementerian, melainkan menjaga agar kompas etis kepemimpinan tetap lurus. Begitu cermin itu menjadi buram karena kilau jabatan, maka runtuhlah seluruh bangunan argumen akal sehat yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Menjadi pembisik yang akal sehat itu jauh lebih terhormat ketimbang pecundang yang doyan jilat atas injak bawah.
Pada akhirnya, panggung Wantimpres kini bukan lagi sekadar tempat parkir para politisi senior yang pensiun.
Disamping singasana kekuasaan, kini tengah duduk seorang kritikus handal yang siap mengusik kenyamanan kekuasaan dari dalam rumah kekuasaan itu sendiri. Komunikasi politik kepresidenan tidak lagi berjalan satu arah yang monoton.
Bagi Presiden Prabowo, memelihara “kerikil di dalam sepatu” seperti Rocky jauh lebih aman dan menyelamatkan, daripada dikelilingi oleh duri dalam daging yang tak kelihatan namun mematikan.
Pada akhirnya, panggung Wantimpres kini bukan lagi sekadar tempat parkir kosmetik bagi para politisi senior yang hendak pensiun dalam sunyi. Di sana kini duduk seorang begawan kata yang selama ini mahir menelanjangi kepalsuan dengan pisau logikanya. Komunikasi politik kepresidenan tidak boleh lagi berjalan searah, monoton, apalagi berujung pada kultus individu yang meninabobokan.
Bagi Presiden Prabowo, memelihara “kerikil di dalam sepatu” seperti Rocky Gerung jauh lebih menyelamatkan ketimbang membiarkan karpet merah istananya dipenuhi duri dalam daging yang bermuka dua.
Taruhan terbesar kini justru berada di pundak Rocky sendiri. Di koridor kekuasaan yang penuh dengan aroma kompromi, sejarah akan mencatat dengan dingin: apakah ia masuk untuk meretas sistem dan tetap menjadi cermin yang menolak buram, atau ia justru sedang bersiap larut dalam cawan kenyamanan yang dulu kerap ia maki?
Sebab, dalam rimba politik Republik ini, ironi tertinggi selalu tertulis ketika sang penantang yang semula garang, perlahan-lahan khusyuk dan takzim mencium lantai singgasana yang pernah dikutuknya.
Kita tunggu saja, sejauh mana akal sehat mampu bertahan di bawah atap istana seorang Prabowo Presiden RI yang lebih RI.Bravo Bung Roky Gerung dari negeri akal sehat Benarkah kritis itu bukan kritik…? Entahlah, bro…! (*)












