Lompatan besar kebudayaan itu kini menemukan medium barunya yang paling estetis lewat sinema. Dalam sebuah bincang ringan di sela-sela kesibukan persiapan helat, Kepala Dinas Pariwisata Kota Solok, Heppy Dharmawan, S.S., M.Si., sempat melontarkan merencanakan dialog budaya tentang Sejarah Kubuang Tigo Baleh yang perlu lebih dipahami oleh lapisan tenaga guru seantero Kota Solok.
Lebih lanjut sebuah visi yang memantik pemikiran. Heppy menguraikan banyak tradisi seni, adat dan budaya Kota Solok yang belum terdokomentasi secara maksimal apalagi dikemas dengan format film documenter.
Tumbuh berkembangnya komunitas perfilman di Kota Solok, sejatinya layak Kota Solok menggagas sebagai pusat perfilman. Bahwa ke depan, Kota Solok ke depannya akan berkolaborasi dengan perguruan tinggi jalan untuk diposisikan sebagai pusat perfilman budaya di Minangkabau.
Gagasan besar ini bukan sekadar menjadi mimpi eksekutif di atas kertas, melainkan gayung bersambut dengan komitmen politik di parlemen. Ketua DPRD Kota Solok, Fauzi Rusli, S.E., M.M., suatu ketika dalam suatu diskusi ringan menegaskan dukungan penuh lembaga legislatif untuk menggagas ruang bagi lahirnya sineas-sineas muda daerah.
Parlemen memandang ikhtiar ini sebagai langkah taktis dan strategis untuk menyelamatkan ingatan kolektif kita. Bagi Fauzi, setidaknya dengan semangat sebagai politis muda usia kepincut mewujudkan agar muncul sineas-sineas muda dari Kota Solok.
Lewat bidikan lensa kamera anak nagari, kekayaan kultural yang rawan punah—seperti magisnya seni tutur Ritual Bailau yang menyayat hati, ketangkasan Tari Turun ke Sawah / Tari Kreasi Agraris: Tarian yang menggambarkan aktivitas petani mulai dari mengolah tanah hingga memanen padi sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi, hingga jejak emas cagar budaya daerah—dapat didokumentasikan dalam karya visual sinematik yang abadi.
Sinema di tangan pemuda Solok hari ini telah disepakati bersama oleh umara dan parlemen untuk bertransformasi menjadi pena sejarah baru, yang melukis ulang peradaban Kubuang Tigo Baleh ke layar perak dunia.
Esensi dari tareh tabanam itu kini hidup dan berdenyut di tangan komunitas muda. Lewat ruang kreasi yang dibuka lebar oleh pemerintah kota, anak-anak muda Solok tidak lagi menjadi penonton pasif. Mereka adalah kreator, sineas, seniman, dan penggerak digital yang merajut kembali tradisi lama dengan benang inovasi. Di tangan mereka, keindahan estetika seni tradisi, kesantunan budaya tutur, hingga megahnya instalasi jerami dikemas menjadi mahakarya kontemporer yang memukau mata dunia. Pemuda Solok hari ini membuktikan bahwa mereka bisa menggenggam dunia digital tanpa harus melepaskan sarung adatnya.
Selaras dengan itu, integrasi seni, adat, dan budaya ini bertransformasi menjadi energi yang menghidupkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kota Solok. Dari aroma kuliner spesifik nagari hingga keanggunan kerajinan tangan lokal, ekonomi kreatif bergerak eksponensial di sepanjang festival.
Kebijakan Wali Kota yang menyatukan pariwisata budaya dan industri kreatif digital dengan pemberdayaan pelaku usaha lokal adalah bukti nyata bahwa tradisi mampu menghidupkan, baik secara spiritual maupun material. Baralek Gadang bukan sekadar panggung perayaan yang membuang biaya, melainkan investasi kultural yang memutar roda kesejahteraan anak nagari dari hulu ke hilir.
Kita dibimbing untuk tidak menjadi plagiator peradaban yang buta. Tetua Minang telah jauh-jauh hari meniupkan peluit peringatan lewat petatah-petitihnya:
“Jan ikuik sajo bakeh urang marandang, takuik kok anguih minyaknyo. Kok ka baraja, barajalah ka nan bana, asa jan taserak nan di kanduang.”
Ketika kita mengejar kemajuan tanpa pijakan identitas, kita ibarat orang yang mengaduk kuali kosong hingga minyaknya hangus terbakar. Solok tidak butuh kemajuan yang mencerabut manusia dari akar budayanya.
Inovasi yang kita tenun di kota beras ini haruslah bermuara pada sumur kearifan lokal. Jangan sampai, demi mengejar predikat metropolis atau pusat industri kreatif, permata tareh tabanam yang dikandung di dalam rahim adat Kubuang Tigo Baleh justru terserak dan hilang tak berbekas.
Melalui helat Rang Solok Baralek Gadang, kita sedang memacak kembali tiang-tiang kesadaran itu. Seni, adat, dan budaya berbasis kearifan lokal bukanlah masa lalu yang beku dalam museum, melainkan energi hidup yang mengalir dalam nadi pembangunan kota.
Mari kita buktikan bersama sinergi kepemimpinan yang berakar pada rakyat, bahwa dari rahim Kubuang Tigo Baleh akan lahir generasi kosmopolit yang menguasai teknologi dunia, namun dadanya tetap bergetar mendengar alunan talempong, patuah ninik mamak, serta petunjuk agama.
Merawat tareh tabanam adalah ikrar kita hari ini. Sebuah janji suci untuk memastikan bahwa sekilau apa pun masa depan Kota Solok nanti, ia tidak akan pernah lupa pada tanah asalnya yang wangi oleh aroma padi, kokoh oleh tatanan adat, dan mulia oleh untaian budi. (*)












