OPINI

Libur Sekolah, Kesempatan yang Sering Terlewatkan untuk Dekat dengan Anak

×

Libur Sekolah, Kesempatan yang Sering Terlewatkan untuk Dekat dengan Anak

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nafkhatul Wahidah, M.Psi., Psikolog

HARIANHALUAN.ID – Libur sekolah selalu menjadi momen yang paling dinantikan anak-anak. Tidak ada tugas yang menumpuk, ujian yang menegangkan, maupun rutinitas pagi yang tergesa-gesa. Namun, di balik keceriaan tersebut, tersimpan sebuah kesempatan yang sering luput disadari orang tua, yakni membangun kembali kedekatan emosional dengan anak.

Bagi sebagian keluarga, liburan justru dipandang sebagai masa yang merepotkan. Anak lebih banyak berada di rumah sehingga membutuhkan perhatian lebih. Tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih mengisi waktu anak dengan berbagai aktivitas agar tidak bosan, sementara mereka tetap disibukkan oleh pekerjaan atau urusan lain. Akibatnya, liburan hanya menjadi jeda dari sekolah, bukan momentum mempererat hubungan keluarga.

Padahal, di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, kualitas interaksi antara orang tua dan anak semakin berkurang. Banyak keluarga memang berada di bawah satu atap setiap hari, tetapi kebersamaan itu sering kali hanya bersifat fisik. Percakapan lebih banyak berkisar pada tugas sekolah, waktu makan, atau rutinitas harian. Ruang untuk saling mendengar, berbagi cerita, dan memahami perasaan satu sama lain semakin terbatas.

Libur sekolah sesungguhnya menghadirkan kesempatan yang lebih longgar untuk memperbaiki kualitas hubungan tersebut. Sayangnya, peluang ini kerap terlewatkan karena orang tua tetap larut dalam pekerjaan, sedangkan anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama gawai, televisi, atau media sosial.

Dalam psikologi perkembangan, kedekatan emosional antara orang tua dan anak merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Teori Attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa anak membutuhkan hubungan yang hangat, aman, dan responsif dengan figur pengasuh utamanya. Hubungan inilah yang membentuk secure attachment, yaitu rasa aman yang akan memengaruhi kemampuan anak mengelola emosi, menjalin relasi sosial, serta membangun kepercayaan diri hingga dewasa.

Baca Juga  Demi Keselamatan Siswa, Pemko Padang Putuskan Libur Sekolah Massal Akibat Ancaman Demo Besar

Anak yang merasa diterima dan dekat dengan orang tuanya cenderung lebih terbuka ketika menghadapi masalah, lebih mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ketahanan psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, ketika kebutuhan emosional tersebut kurang terpenuhi, anak berpotensi mencari rasa nyaman dari lingkungan lain yang belum tentu memberikan pengaruh positif.

Membangun kedekatan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Masih banyak orang tua yang menganggap kebahagiaan anak saat liburan identik dengan wisata ke luar kota, menginap di hotel, atau membeli berbagai hadiah. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas interaksi jauh lebih bermakna dibandingkan besarnya pengeluaran.

Psikolog perkembangan Lev Vygotsky menegaskan bahwa perkembangan anak berlangsung melalui interaksi sosial yang bermakna. Mengajak anak memasak bersama, berkebun, membaca buku, bermain permainan tradisional, atau sekadar berjalan sore sambil mengobrol dapat menjadi pengalaman sederhana yang memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional dan sosial mereka. Dari aktivitas-aktivitas tersebut, anak belajar memahami emosi, berkomunikasi, menghargai nilai-nilai kehidupan, hingga membangun cara pandang terhadap dunia.

Liburan juga menjadi waktu yang tepat bagi orang tua untuk mengenal anak lebih dekat. Ketika sekolah berlangsung, percakapan sering kali hanya berfokus pada nilai, tugas, dan prestasi akademik. Sebaliknya, saat libur, orang tua memiliki kesempatan untuk mengetahui apa yang sedang disukai anak, siapa teman-temannya, apa yang membuatnya cemas, bahkan mimpi-mimpi yang mulai tumbuh dalam dirinya.

Pandangan Erik Erikson mengenai perkembangan psikososial turut memperkuat pentingnya momen tersebut. Pada masa kanak-kanak, anak membutuhkan dukungan, perhatian, dan penerimaan dari lingkungan terdekat agar mampu membangun rasa percaya diri serta identitas diri yang sehat. Ketika orang tua menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan anak dan mendengarkan mereka dengan penuh perhatian, anak akan merasa dihargai, dicintai, dan memiliki tempat yang aman untuk bercerita.

Baca Juga  Perlukah PLN di Class Action

Tantangan terbesar saat ini justru datang dari teknologi. Tidak sedikit keluarga yang menghabiskan liburan dalam satu rumah, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar gawainya. Orang tua sibuk dengan pekerjaan atau media sosial, sementara anak larut dalam permainan digital dan tontonan daring. Mereka memang bersama secara fisik, tetapi berjauhan secara emosional.

Karena itu, libur sekolah semestinya tidak hanya dipandang sebagai waktu istirahat dari aktivitas belajar. Lebih dari itu, liburan merupakan kesempatan untuk memperkuat fondasi hubungan dalam keluarga. Anak tidak akan selamanya berada pada usia yang sama. Kesempatan mendengar cerita mereka, menemani permainan mereka, atau sekadar menikmati tawa bersama adalah momen yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang persis sama.

Kelak, ketika anak tumbuh dewasa, besar kemungkinan mereka tidak lagi mengingat berapa nilai ujian yang pernah diraih atau hadiah apa yang diterima saat liburan. Namun mereka akan selalu mengingat bagaimana orang tuanya hadir, meluangkan waktu, mendengarkan setiap cerita, dan membuat mereka merasa dicintai tanpa syarat.

Pada akhirnya, libur sekolah bukan sekadar jeda akademik, melainkan investasi emosional bagi masa depan anak. Sebab, hadiah terbaik yang dapat diberikan orang tua selama masa liburan bukanlah perjalanan yang jauh atau hadiah yang mahal, melainkan kehadiran yang utuh, perhatian yang tulus, dan kasih sayang yang benar-benar dirasakan anak. (*)