PENDIDIKANUTAMA

Mengapa Kesiapan Sekolah Penting Saat Anak Beralih dari TK ke SD?

×

Mengapa Kesiapan Sekolah Penting Saat Anak Beralih dari TK ke SD?

Sebarkan artikel ini

PADANG, HALUAN – Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua berlomba-lomba mendaftarkan anaknya ke Sekolah Dasar (SD), bahkan tak sedikit yang berupaya memasukkan anak meski usia maupun tingkat kematangannya belum memenuhi syarat. Alasan yang dikemukakan beragam, mulai dari anak sudah mampu membaca dan berhitung hingga kekhawatiran tertinggal dari teman sebaya.

Padahal, menurut Psikolog Pendidikan Nafkhatul Wahidah, M.Psi., Psikolog, masuk SD bukan sekadar perpindahan jenjang pendidikan, melainkan perubahan besar yang menuntut kesiapan anak dalam berbagai aspek perkembangan.

“Ketika masuk SD, anak akan menghadapi tuntutan yang lebih kompleks dibandingkan saat di taman kanak-kanak. Mereka harus mampu duduk belajar lebih lama, mengikuti aturan kelas, menyelesaikan tugas secara mandiri, berinteraksi dengan lebih banyak teman, hingga mengelola emosi saat menghadapi kesulitan,” ujar Nafkhatul.

Ia menjelaskan, anak yang belum memiliki kesiapan sekolah berisiko mengalami berbagai hambatan dalam proses belajar. Kondisi tersebut dapat terlihat dari mudah lelah saat belajar, sulit berkonsentrasi, kurang percaya diri, sering menangis atau menolak pergi ke sekolah, hingga mengalami kesulitan akademik yang sebenarnya bukan disebabkan kurangnya kemampuan intelektual, melainkan karena perkembangan dirinya belum matang.

Sebaliknya, anak yang memasuki SD pada waktu yang tepat cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, menikmati proses pembelajaran, memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, serta mampu mengikuti tuntutan sekolah sesuai dengan tahap perkembangannya.

Baca Juga  Rawan Gempa dan Tsunami, Relokasi Lapas Kelas II A Muaro Masih Wacana

Menurut Nafkhatul, salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa kemampuan membaca dan berhitung menjadi satu-satunya indikator kesiapan anak masuk SD.

“Kesiapan sekolah jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan akademik. Anak perlu matang secara emosional, sosial, mandiri, mampu berkonsentrasi, siap secara fisik dan motorik, serta memiliki kemampuan kognitif yang sesuai dengan usianya,” katanya.

Ia menjelaskan, kematangan emosi terlihat dari kemampuan anak mengendalikan perasaan, menunggu giliran, dan menerima kenyataan bahwa keinginannya tidak selalu dapat dipenuhi. Sementara keterampilan sosial ditunjukkan melalui kemampuan bermain dan bekerja sama dengan teman, berbagi, serta mengikuti aturan sederhana.

Selain itu, kemandirian juga menjadi aspek penting, seperti mampu makan sendiri, menggunakan toilet tanpa bantuan, memakai sepatu, membereskan barang, dan mengikuti instruksi tanpa harus selalu didampingi orang tua.

“Dari sisi konsentrasi, anak yang siap masuk SD umumnya sudah mampu fokus pada suatu kegiatan selama sekitar 15 hingga 20 menit. Misalnya saat mendengarkan penjelasan guru atau menyelesaikan tugas sederhana,” jelasnya.

Baca Juga  Libur Sekolah, Kesempatan yang Sering Terlewatkan untuk Dekat dengan Anak

Nafkhatul menambahkan, secara umum anak yang siap masuk SD dapat berpisah dengan orang tua tanpa menangis berlebihan, mampu mengikuti rutinitas dan aturan sederhana, berinteraksi dengan teman sebaya, mengurus sebagian kebutuhan dirinya sendiri, memiliki kemampuan bahasa yang memadai, serta menunjukkan minat untuk belajar dan mengenal lingkungan sekolah.

Ia mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Karena itu, keputusan memasukkan anak ke SD sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan membaca ataupun keinginan agar anak lebih cepat lulus sekolah.

“Tujuan pendidikan bukan membuat anak masuk sekolah lebih cepat, melainkan memastikan mereka memulai perjalanan pendidikannya pada waktu yang tepat dan dengan kesiapan yang memadai,” tegasnya.

Menurut Nafkhatul, lebih baik anak memulai sekolah sedikit lebih lambat namun dalam kondisi siap dibandingkan masuk terlalu dini dan harus berjuang menghadapi tuntutan yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.

“Pendidikan bukan perlombaan siapa yang paling cepat memulai, melainkan proses panjang untuk membantu anak bertumbuh dan berkembang secara optimal,” pungkas psikolog alumni Universitas Andalas dan Universitas Gadjah Mada tersebut. (*)