Untuk menjawab tantangan tersebut, Asmarini menekankan pentingnya memadukan nilai adat dengan tuntutan zaman. Perempuan harus memahami nilai inti adat dan tidak hanya menjadikan peran bundo kanduang sebagai simbol semata, tetapi benar-benar mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan media sosial juga dinilai penting untuk mengemas adat secara lebih menarik, misalnya melalui konten video yang edukatif.
Di samping itu, penyederhanaan tata cara adat tanpa menghilangkan substansi juga perlu dilakukan agar lebih mudah diterima generasi muda. Pendidikan adat sejak dini dalam keluarga, seperti mengenalkan bahasa daerah dan mengajarkan nilai-nilai seperti sumbang duo baleh, menjadi langkah penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya.
Melalui peringatan Hari Kartini, Asmarini berharap perempuan, khususnya di Minangkabau, semakin menyadari peran strategisnya sebagai penjaga adat sekaligus agen perubahan. Ia mengajak seluruh perempuan untuk terus berinovasi, kreatif, serta bangga terhadap identitas budaya, sehingga nilai-nilai luhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. (h/fjr)












