HEADLINERANAH & RANTAU

Nagari Creative Hub Pangian :  Mulai Berdenyut, Tapi Jalan Masih Panjang

×

Nagari Creative Hub Pangian :  Mulai Berdenyut, Tapi Jalan Masih Panjang

Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga tampak memadati Nagari Creative Hub (NCH) Pangian Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, beberapa waktu yang lalu. FAUZI

TANAH DATAR, HARIANHALUAN.ID — Sore mulai merambat di Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Rabu (29/7). Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika lapangan di depan lokasi Nagari Creative Hub mulai dipenuhi aktivitas.

Sejumlah anak muda berlari mengelilingi lapangan. Ada yang jogging, ada pula yang sekadar berjalan santai sambil bercengkerama selepas beraktivitas. Tak jauh dari lintasan lari, puluhan ibu-ibu duduk melingkar menyimak penjelasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP).

Hari itu mereka belajar membuat Eco Enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang usaha rumah tangga.

Suasana itu sederhana, namun menyiratkan satu hal yang jelas terasa. Bangunan mirip pendopo sederhana ang diberi nama Nagari Creative Hub (NCH) Pangian tu perlahan mulai hidup. Tak lagi sekadar gedung yang berdiri megah di tengah nagari, tetapi mulai menjadi ruang bertemunya ide, kreativitas, dan aktivitas masyarakat.

“Kalau dulu kegiatan masyarakat berpindah-pindah, sekarang hampir semuanya kami arahkan ke sini. Pelatihan UMKM, kegiatan perempuan, latihan silek, randai, sampai pembinaan generasi muda mulai dipusatkan di Creative Hub,” ujar Ketua Satgas Nagari Creative Hub Pangian, Zilnovita Zainal saat berbincang dengan Haluan, Selasa (28/7).

Nagari Creative Hub merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) di bawah kepemimpinan Gubernur, Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur, Vasco Ruseimy. Tujuannya adalah untuk menghadirkan pusat kreativitas di nagari yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Di Pangian, cita-cita itu mulai terlihat. Namun, di balik geliat aktivitas yang tumbuh, tersimpan berbagai tantangan yang justru menjadi pekerjaan rumah terbesar.

Salah satu fokus utama NCH Pangian adalah membawa UMKM masuk ke dunia digital. Enam produk lokal kini telah dipasarkan melalui TikTok Shop. Mulai dari samba lado, rendang belut, minuman herbal berbahan serai, lemon dan jahe, hingga produk kerajinan tangan.

Baca Juga  Nagari Batipuah Ateh Gelar Pra Musna Pembentukan Koperasi Merah Putih

Langkah itu menjadi awal yang baik. Namun bagi Zilnovita, yang setia mendampingi aktivitas NCH Pangian, prosesnya tidak semudah membuat akun media sosial.

Pelaku UMKM harus belajar dari nol. Mulai dari membuka toko digital, membuat konten, melakukan siaran langsung, melayani pesanan hingga memahami sistem pembayaran. “Banyak yang masih belajar. Kami sangat terbantu oleh mahasiswa KKN UNP. Mereka mendampingi kami membuat akun, mengajarkan live TikTok, sampai bagaimana menerima pesanan dari pembeli,” katanya.

Karena masih dalam tahap belajar, nilai transaksi yang tercatat melalui TikTok Shop pun belum besar. Hingga kini, total penjualan baru mencapai sekitar Rp380 ribu. Angka itu mungkin belum mencerminkan keberhasilan. Namun bagi Pangian, yang jauh lebih penting adalah masyarakat mulai berani memasuki ekosistem digital yang selama ini terasa asing.

Persoalan berikutnya justru berada pada produk itu sendiri. Mayoritas UMKM di Nagari Pangian bergerak di bidang kuliner tradisional. Masalahnya, sebagian besar produk belum memiliki daya simpan yang cukup panjang.

“Kendala terbesar kami adalah bagaimana makanan ini bisa bertahan lebih lama. Rendang belut relatif aman, tetapi sambal dan produk lain masih membutuhkan teknologi pengawetan supaya bisa dipasarkan lebih luas,” ujar Zilnovita.

Tanpa teknologi tersebut, pasar digital menjadi sulit berkembang. Sebab, menjual makanan melalui marketplace tidak hanya soal rasa. Tetapi juga kemampuan produk bertahan selama proses pengiriman.

Di sinilah pendampingan pemerintah dinilai masih sangat dibutuhkan, terutama dalam aspek teknologi pangan dan inovasi kemasan. Di samping itu, transformasi digital ternyata juga membutuhkan profesi baru di nagari, yakni, host live shopping. Menurut Zilnovita, tidak semua pelaku UMKM percaya diri berbicara di depan kamera.

Baca Juga  Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Munculkan Kekhawatiran

Padahal, pemasaran digital saat ini sangat bergantung pada kemampuan membangun interaksi dengan calon pembeli. “Kami masih kekurangan orang yang bisa menjadi host. Anak-anak muda memang lebih cepat memahami teknologi, tetapi jumlahnya belum banyak. Pelatihan digital marketing masih sangat kami perlukan,” katanya.

Membangun Ekosistem

Meski demikian, sejumlah capaian kata Zilnovita mulai terlihat. Produk minuman herbal dan rendang belut dari Pangian kini sudah masuk ke salah satu pusat oleh-oleh di Kota Padang, yakni Christine Hakim.

Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan produksi. “Kalau produksi tidak konsisten, produk bisa dihentikan dari jaringan pemasaran. Jadi bukan hanya kualitas yang penting, tetapi juga kontinuitas produksi,” ujar Zilnovita.

Kunjungan Haluan ke Nagari Pangian menunjukkan bahwa pembangunan Creative Hub tidak cukup diukur dari berdirinya sebuah bangunan. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana ruang itu terus diisi dengan aktivitas, pengetahuan, pendampingan, dan kolaborasi.

Pangian telah memulainya. Anak-anak muda mulai menjadikan kawasan itu sebagai ruang berkegiatan. Kelompok perempuan aktif mengikuti pelatihan. UMKM mulai mengenal pasar digital. Namun perjalanan menuju tujuan besar program ini masih panjang.

Penguatan sumber daya manusia, teknologi pengolahan pangan, sertifikasi produk, hingga perluasan akses pasar menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama.

Sebab, keberhasilan Nagari Creative Hub pada akhirnya bukan diukur dari seberapa megah gedung yang dibangun. Melainkan dari seberapa banyak warga yang kehidupannya ikut berubah karena hadirnya ruang kreatif itu. (*)