PADANG, HARIANHALUAN.ID — Tak hanya berdampak pada sektor angkutan barang, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan Biosolar di Sumatera Barat (Sumbar) dalam beberapa waktu terakhir nyatanya juga ikut memukul sektor perikanan.
Nelayan “dipaksa” mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Tapi bahkan setelah mengantre berjam-jam, BBM yang diinginkan belum tentu juga didapat. Terkadang habis saat giliran mengisi tiba. Kalau sudah begitu, waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melaut akhirnya terbuang sia-sia.
“Pernah saya mengantre tiga jam, tapi ketika sampai giliran mengisi, BBM-nya malah habis. Akhirnya pulan dengan tangan kosong,” kata Madi, salah seorang nelayan di Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) kepada Haluan, Kamis (21/5).
Ia mengaku salah satu penyebab sulitnya nelayan mendapatkan BBM lantaran banyak nelayan yang beralih dari BBM non-subsidi jenis Dexlite ke BBM subsidi jenis Biosolar. Hal ini karena harga Dexlite yang melonjak tinggi hingga menyentuh angka Rp27.150 per liter. Sementara harga Biosolar masih dipatok Rp6.800 per liter.
“Selisih harga yang sangat besar ini membuat kami tidak memiliki pilihan selain berburu Biosolar agar biaya operasional melaut tidak membengkak. Kami akhirnya kesulitan mendapat Biosolar di SPBU. Mau beli yang non-subsidi harganya terlalu mahal, tidak sebanding dengan hasil tangkapan ikan yang tidak menentu,” kata Madi.
Ia mengatakan, jika kondisi kelangkaan ini terus berlarut-larut, dikhawatirkan pasokan ikan segar ke pasar akan terganggu dan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat.
Sementara itu, anggota kelompok nelayan Air Bangis, Agus mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasbar dan Pertamina untuk segera turun tangan mengatasi persoalan ini. “Karena kami menduga ketidaktepatan sasaran distribusi, di mana Biosolar subsidi disinyalir ikut dinikmati oleh sektor industri atau oknum pelangsir yang menimbun BBM,” ucapnya.
Ia meminta adanya pengawasan ketat di setiap titik pengisian serta transparansi kuota khusus untuk masyarakat pesisir. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, ia khawatir angka kemiskinan di wilayah pesisir Pasbar akan meningkat tajam akibat kelumpuhan total sektor perikanan. “Apalagi yang antri Biosolar ini bukan hanya truk truk biasa yang mengkonsumsi solar. Curiga kami perusahaan juga ikut menikmati,” ucapnya.
Terbatasnya SPBU Nelayan
Di samping soal kelangkaan, terbatasnya SPBU khusus nelayan juga menjadi persoalan. Di Kota Pariaman misalnya, nelayan dipaksa saling “sikut” dengan para sopir truk dan kendaraan umum untuk mendapatkan BBM.
Ketua Kelompok Nelayan Gandoriah, Darmawan mengatakan, saat ini hanya satu stasiun pengisian bahan bakar yang masih aktif melayani kebutuhan nelayan, yakni SPBU di kawasan Jati.
Kondisi ini terjadi setelah dua SPBU lain yang sebelumnya melayani nelayan tidak lagi beroperasi. SPBU Nelayan di Karan Aur disebut sudah lebih dari satu tahun tidak berjalan, sementara SPBU di Kampung Pondok dihentikan sekitar enam bulan terakhir. “Dulu ada tiga SPBU yang melayani nelayan, sekarang tinggal satu. Akibatnya kami sering kehabisan solar saat antre pembelian,” ujar Darmawan kepada Haluan, Rabu (20/5).
Ia menjelaskan, nelayan kini hanya diperbolehkan membeli solar pada pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB. Kondisi itu membuat stok BBM yang tersedia terbatas karena merupakan sisa pasokan malam sebelumnya.
Tidak hanya nelayan, antrean solar di SPBU Jati juga dipadati kendaraan lain seperti truk dan bus, sehingga nelayan dari berbagai kawasan pesisir seperti Naras, Karan Aur, hingga Pantai Gandoriah harus bersaing mendapatkan pasokan BBM.
Selain pembatasan waktu, pembelian solar juga dibatasi maksimal 240 liter untuk setiap barcode kelompok nelayan. Sementara di kawasan Gandoriah sendiri terdapat enam kelompok nelayan yang bergantung pada pasokan tersebut. “Kami sering tidak kebagian minyak karena stok habis. Bahkan pernah selama tiga hari kelompok kami tidak mendapatkan solar,” katanya.
Darmawan mengaku pihak nelayan telah beberapa kali meminta penjelasan kepada petugas SPBU terkait sering kosongnya pasokan solar. Namun jawaban yang diterima hanya sebatas informasi bahwa distribusi BBM belum masuk.
“Kami berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat segera menambah kuota pasokan solar di SPBU Jati atau kembali mengoperasikan SPBU di Kampung Pondok agar aktivitas melaut masyarakat pesisir tidak terus terganggu,” tuturnya.
Gunakan Pertalite
Namun, di balik semua itu, nyatanya tidak seluruh nelayan di Sumbar terdampak kelangkaan solar dan Biosolar. Nelayan yang melaut menggunakan kapal kecil nyaris tak terdampak fenomena ini. Hal ini karena, alih-alih menggunakan solar atau biosolar, para nelayan ini menggukana Pertalite sebagai bahan bakar kapal kecil mereka.
Seorang nelayan di kawasan pesisir Padang Pariaman, Muzanir mengatakan, rata-rata nelayan kecil membutuhkan sekitar tiga sampai lima liter Pertalite untuk sekali melaut menggunakan mesin tempel berkapasitas kecil.
Namun lantaran lokasi SPBU yang jauh, nelayan terpaksa membeli Pertalite secara eceran. Dengan harga eceran, biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan nelayan mencapai sekitar Rp 70 ribu setiap kali berangkat melaut.
Kondisi tersebut, menurutnya, cukup memberatkan bagi nelayan kecil, terutama ketika hasil tangkapan ikan tidak menentu. “Kami berharap pemerintah dapat menghadirkan akses BBM subsidi yang lebih mudah dijangkau serta sesuai dengan kebutuhan mesin kapal nelayan tradisional,” katanya kepada Haluan, Kamis (21/5).
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Agam. Di daerah tersebut, sebagian besar nelayan dengan kapal kecil juga mengandalkan Pertalite sebagai bahan bakar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira mengatakan, mayoritas nelayan di Tiku menggunakan kapal dengan mesin berukuran kecil yang mengandalkan BBM jenis Pertalite, sehingga tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi kelangkaan solar yang terjadi saat ini.
Ia menyebutkan, ketersediaan pertalite untuk kebutuhan nelayan di Tiku hingga kini masih relatif aman dan mudah diperoleh. Selain itu, pemerintah juga telah menyediakan SPBU khusus nelayan guna mendukung kebutuhan operasional para nelayan. “Untuk mendapatkan pertalite saat ini juga tidak terbilang sulit. Di Tiku ada SPBU khusus nelayan,” katanya, Kamis (21/5).
Dengan kondisi tersebut, Rosva memastikan aktivitas melaut para nelayan di Tiku masih berjalan normal dan belum mengalami gangguan akibat kelangkaan solar. “Hingga saat ini tidak berpengaruh terhadap aktivitas nelayan maupun hasil tangkapan nelayan,” tuturnya. (h/ows/mta/dep)












